Sabtu, Juli 20, 2024

Sarasehan Pemajuan Kebudayaan Kota Medan: FORKALA Kota Medan on the Track

Baca Juga

mimbarumum.co.id – Forum Komunikasi Antar Lembaga Adat (FORKALA) Kota Medan menggelar acara Sarasehan Pemajuan Kebudayaan Kota Medan di Sekretariat FORKALA Medan, Komplek Setia Budi Centre Medan, Kamis (8/2/2024).

 

Kegiatan yang diikuti seluruh pengurus FORKALA Kota Medan tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Nasrul Hamdani dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 2 Sumatera Utara dengan mengambil topik ‘Tantangan, Hambatan dan Peluang Pemajuan Kebudayaan’.

 

Sementara seorang narasumber lagi, Prof Dr I Wayan Dirgayasa MA yang *merupakan Anggota Badan Pertimbangan FORKALA Kota Medan* membawakan materi ‘Peran dan Fungsi Kelembagaan Adat dan Budaya dalam Pemajuan Budaya’.

 

Dalam kesempatan itu, Ketua FORKALA Kota Medan Datoq Adil Freddy Haberham SE yang didampingi Sekretaris Arwin Harahap, menyampaikan bahwa kebudayaan merupakan suatu investasi yang sangat berharga bagi masa depan pembangunan peradaban bangsa.

 

“Dalam sejarah kehidupan manusia, budaya menjadi landasan kemajuan peradaban bangsa yang sangat gemilang. Niat baik pemerintah dalam rangka pemajuan kebudayaan yang kemudian ditungkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan, selanjutnya disebut UU Pemajuan Kebudayaan,  merupakan langkah strategis pemerintah untuk memajukan peradaban nasional Indonesia melalui bidang kebudayaan,” ungkap Datoq Adil.

 

Strategi ini, lanjutnya, dilakukan secara adaptif yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini, baik kondisi internal organisasi maupun situasi dan kondisi eksternal.

 

“Strategi yang dimaksudkan yakni strategi berbasis pemajuan kebudayaan dengan mempertimbangkan sepuluh obyek pemajuan kebudayaan yang tertuang dalam UU Pemajuan Kebudayaan sebagai suatu pertimbangan strategis dalam mengambil langkah perlindungan, pemeliharaan, dan pemanfaatan obyek kebudayaan,” paparnya.

 

Lebih lanjut dikatakan Datoq Adil, secara mikro, Kota Medan adalah kota yang sangat heterogen.

 

“Dalam catatan FORKALA Medan, sedikitnya ada 28 etnik dan keberagaman agama dan aliran kepercayaan yang tumbuh dan berkembang dengan baik dan kondusif.  Dalam mewujudkan kerukunan hidup bermasyarakat yang pluralis, perlu usaha-usaha agar yang berbeda-beda itu dapat hidup berdampingan tanpa menimbulkan gesekan. Bagi FORKALA Kota Medan, yang terpenting adalah beragam tapi kompak dan berbeda tapi harmonis. Inilah menurut kami yang membedakan Kota  Medan dengan kota-kota metropolitan lainnya di indonesia,” urai Datoq Adil, sembari menyatakan, FORKALA Kota Medan on the track dalam konteks upaya-upaya pengembangan pemajuan kebudayaan.

 

Sementara, Nasrul Hamdani menuturkan, dengan mengumpulkan tokoh-tokoh budaya, kegiatan ini bisa menjadi pintu masuk untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang berkenaan dengan etnik dan agama.

 

“Kota Medan merupakan kota multikultural. Untuk itu orang Medan perlu bersepakat tanpa meninggalkan latar belakang bahwa Kota Medan ini tanah Melayu. Jadi, perlu adanya kesepakatan untuk menentukan icon Kota Medan itu apa saja,” ungkap Nasrul.

 

Lanjutnya, menyarankan, masyarakat Kota Medan perlu juga membangun budaya baru perkotaannya, yang lebih positif.

 

“Forkala bisa menjadi jembatan yang dapat menghubungkan orang-orang yang selama ini merasa tidak diakomodir. Sebagai ‘juru damai’ lah,” tandasnya.

 

Reporter: Jafar Sidik

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Skenario Menggagalkan Dolly Pasaribu Maju Calon Bupati Tapsel Jalur Independen

mimbarumum.co.id - Pemilihan Calon Bupati Tapanuli Selatan akan digelar pada 27 November 2024 mendatang. Sederet cara pun dilakukan oleh orang-orang...

Baca Artikel lainya