mimbarumum.co.id – Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. H. Nurhasan, M.Kes., menerima penghargaan sebagai Tokoh Peduli Pantun dari Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI). Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Prof. Pratiwi Retnaningdyah, M.A., Ph.D. dan Dr. Much. Koiri, M.Si., mewakili HISKI, di Auditorium Fakultas Kedokteran (FK) Unesa, Senin (13/10/25). Acara ini bertepatan dengan pelantikan sejumlah pejabat di lingkungan universitas.
Ketua Umum HISKI, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., kepada Mimbar Umum Online, Selasa (14/10/25), menyampaikan bahwa penghargaan itu diberikan sebagai bentuk apresiasi atas komitmen dan kontribusi Cak Hasan—sapaan akrab Prof. Nurhasan—dalam melestarikan dan memanfaatkan pantun sebagai sarana komunikasi publik yang efektif dan edukatif.
“Pantun tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga media yang hidup dan relevan dalam menyampaikan pesan. Prof. Nurhasan telah menunjukkan bagaimana pantun dapat digunakan dalam konteks modern, khususnya di dunia pendidikan,” ujar Prof. Novi.
Pantun-pantun yang kerap disampaikan Cak Hasan, terutama dalam acara-acara resmi seperti wisuda, tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung pesan moral dan motivasi. Salah satu pantun yang terkenal adalah:
Manuk emprit, cepat terbangnya
Terbang tinggi menuju Surabaya
Hari ini kita semua berbahagia
Bisa lulus kuliah dari Unesa
Pantun ini, seperti dijelaskan Prof. Pratiwi Retnaningdyah, tidak hanya memuat pesan kebahagiaan atas kelulusan, tetapi juga memperkenalkan kearifan lokal melalui penggunaan istilah manuk emprit (burung pipit dalam bahasa Jawa). “Ini adalah bentuk pelestarian budaya sekaligus edukasi yang menyenangkan,” tambahnya.
Pantun-pantun Cak Hasan telah dibukukan dalam Kumpulan Pantun Cah Hasan dan bahkan telah menginspirasi lahirnya buku kajian berjudul “Meneroka Pantun Manuk Emprit Cak Hasan: Sejumlah Esai Pilihan”, yang ditulis bersama Endah Imawati, Titik Indarti, dan Setya Yuwana Sudikan.
Prof. Nurhasan dinilai telah memenuhi empat aspek penting dalam UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yaitu pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan pantun sebagai kekayaan budaya bangsa.
“Saya berharap pantun tidak hanya menjadi kenangan, tetapi terus hidup dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan generasi muda,” ujar Prof. Nurhasan usai menerima penghargaan sebagaimana dikutip Pratiwi Retnaningdyah.
Acara penyerahan penghargaan ini dihadiri para pimpinan fakultas, dosen, dan civitas Unesa. Dengan penghargaan ini, HISKI berharap dapat mendorong lebih banyak pihak, terutama kalangan akademisi, untuk turut serta melestarikan dan mengembangkan sastra dan budaya Indonesia.
• Suyadi San


