PAD dari Kelola Aset?

Pagi Medan!

Ahad kemaren awak mulai pekan ini dengan agak gimanaaaa gitu. Diawali memacu kereta (sepeda motor cakap Medannya) ke kantor kawan yang sedang libur, ambil dokumen langsung cabot ke agen pengiriman dan menerbangkan paket itu ke Senayan.

Alhamdulillah, kereta awak pagi itu bisa berdamai seperti biasanya, jadi kesempatan belajar tentang Medan, agenda ke dua awak awal pekan ini tidak terlambat.

Mentor awak setengah hari kemaren tu Edy IkhsanAlween OngMisran Lubis dan Adri. Kami mulai bercakap seputar Medan dari sebuah kata bahasa Prancis, Boulevard.

Bang Edy Ikhsan sempat menyebutkan bahasa Belandanya, yakni Bolwerk – bolwark, memiliki sejumlah arti yang diterima secara umum. Istilah boulevard pertama diperkenalkan dalam bahasa Prancis pada tahun 1435 sebagai boloard dan sejak itu berubah menjadi boulevard.

Dalam hal ini, Boulevar diartikan sebagai jenis kebun atau jenis jalan, sebuah adimarga di beberapa negeri sering disingkat Blvd.

Biasanya merupakan sebuah jalan ramai utama serba-lajur yang lebar, dibelah oleh median di tengah jalan, dan jalan kecil di setiap tepiannya sebagai lajur lambat dan parkir serta untuk digunakan sepeda dan pejalan kaki, dengan kualitas lanskap dan suasana di atas rata-rata.

Dari Boulevard pertama yang menghubungkan Masjid Raya Al Mashun dan Istana Maimoon, meluncurlah cerita seputar Medan yang kami ulas dari sebuah buku berjudul sama “Medan”, berbahas Belanda, yang sengaja dibawa bang Edy.

Berbagai kisah bangunan lama yang masih tersisa kami diskusikan hingga makan siang sedap gule ikan baung di kawasan Polonia.

Ada yang menarik awak temukan kemaren itu, beberapa diantara gedung dan jejak sejarah Medan itu bisa jadi merupakan aset tak bernilai bagi masyarakat kota, terlebih lagi yang menjadi milik kota.

Beberapa diantara bangunan tua yg kami lihat, sambil bediskusi di Mowiee yang dibangun Alween, dimana satu dari banyak tujuannya untuk mengeksplor Medan bagi wisatawan maupun entrepreneur, sangat menyedihkan kondisinya.

Padahal kalo menurut awak, saat potensi yang bisa membacakan kisah Medan Tempo Doeloe, itu semua bisa menjadi mesin perekonomian Medan secara pemerintahan maupun masyarakatnya.

Bayangkan klen laaa betapa besar kira2 pendapatan asli kota dari hasil kelola aset, bisa2 nanti pemerintah kota tidak lagi perlu mengejar PAD dari sisi rakyat, melainkan dari hasil kelola aset. Hehehe mimpi awak keknya.

Tapi mungkin itu bukan impian siang bolong saat pengelola kota tau potensi itu dan tau pula mengelolanya. Hehehe tebayang awak saat nanti Medan tidak hanya mengelola pasar tradisional saja lagi, melainkan ada mal dan property lain yang jatuh tempo BOT (kalo awak gak silap dulu pernah laaa liputan peresmian beberapa proyek besar dengan sistim BOT di Medan ni)

Hehehe lupa awak, BOT yg awak maksus itu adakah skema Build Operate Transfer.

Apakah yang dimaksud dengan sitem pembangunan Build Operate Transfer atau BOT tu? Kalo awak googling BOT keknya diartikan Bangun Guna Serah (BGS)

Awak temukan, BGS bisa bermakna pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati, untuk selanjutnya diserahkan kembali tanah beserta bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya setelah berakhirnya jangka waktu.

Jadi awak coba bayangkan saat bangunan itu jadi milik kota, selanjutnya bisa pula dikelola sebagai aset yang menghasilkan. Hehehe kira2 cemana laaa penjelasan tepat tentang ini bang Muhammad JoniMirza Nasution dan kankawan awal lainnya yang paham urusan macam ni? Ajari laaa kami orang Medan ni. Hehehe

Aah keknya pening juga awak mempelajari kota ini, komplek kali masalahnya. Awak rasa memang orang2 yang paham betol kota ini laaa yang pantas mengelolanya. Cocok klen rasa?