mimbarumum.co.id – Penyair sekaligus kritikus sastra Ahmadun Y. Herfanda menyampaikan orasi sastra dalam rangkaian Hari Puisi Nasional (HPN) 2026 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis (30/4) malam. Dalam orasinya, Ahmadun meluruskan kesalahpahaman sebagian kalangan penyair yang menganggap dirinya “kabur” dari Hari Puisi Indonesia (HPI) ke HPN.
Ahmadun menegaskan dirinya tetap berada di HPI sebagai salah seorang pendiri dan konseptor, serta kini menjabat sebagai Pembina HPI. Ia mengingatkan bahwa HPN dan HPI sama-sama forum sastra untuk merayakan puisi, bukan partai politik yang perlu disikapi dengan saling mengejek.
“HPN dan HPI itu sama-sama event sastra yang didasarkan pada sosok Chairil Anwar. HPI berdasarkan kelahirannya, 26 Juli. Sedang HPN berdasar hari kematiannya, 28 April. Jadi sama-sama mengenang Chairil Anwar, penyair besar yang menjadi tonggak modernitas perpuisian Indonesia,” tegas Ahmadun.
Dalam orasinya, Ahmadun juga menyoroti fenomena penyair masa kini yang lebih banyak mencontoh gaya hidup bohemian Chairil Anwar tanpa memahami proses intelektual di baliknya.
Menurutnya, Chairil Anwar belajar tuntas filsafat eksistensialisme serta membaca karya-karya besar penyair dunia seperti Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, dan Hendrik Marsman sebelum melahirkan puisi-puisi unggul.
“Kita kebanyakan mencontoh Chairil Anwar hanya gaya hidupnya saja yang cenderung bohemian. Tidak memahami, di balik kebohemiannya itu, ada sesuatu yang terus dicari, yang kemudian menjadi sesuatu yang bermakna untuk jadi puisi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa puisi yang unggul harus mengandung “something”. Tanpa itu, puisi hanya deretan kata-kata kosong. Banyak penyair yang tersesat di “jalan bingung” dan baru bisa menulis dua tiga baris puitis lalu merasa puas.
Sebagai catatan positif, Ahmadun menyebut nama penyair milenial Sri Hanung Prasetya dengan puisinya “Merakit Kematian” yang dimuat di Jurnal Kalam sebagai contoh karya yang mengisyaratkan potensi unggul.
Ahmadun justru menyambut baik rencana deklarasi Hari Puisi Nusantara (HPN) dan wacana Hari Penyair Perempuan Indonesia (HPPI). “Selama tujuannya baik, untuk kemajuan kesastraan Indonesia, bolehlah dibuat deklarasi-deklarasi semacam itu. Semakin banyak semakin ramai,” katanya.
Ia berharap dengan banyaknya momentum perayaan puisi, para penyair makin sering diminta dan terdorong membuat serta membacakan puisi. “Semoga dari situ akan Chairil Anwar-Chairil Anwar baru yang layak dibanggakan,” pungkasnya.
Rangkaian Baca Puisi Meriahkan HPN 2026
Hari Puisi Nasional 2026 yang digelar Forum Sastra MPA21 di Teater Kecil TIM berlangsung dalam tiga sesi. Seusai sesi diskusi “Wajah Puisi Terkini” pada siang hari, acara dilanjutkan dengan Panggung Ekspresi Komunitas pukul 15.30 hingga 17.30.
Puluhan penyair dari berbagai komunitas dan daerah tampil membacakan karyanya, antara lain Benni Satria, Kemalsyah, Yon Bayu, Suryana MD, Fahri Syafi’i (Bekasi), serta penampilan tari puisi dari Nurhayati dan Hanna Sania (Rumah Baca Ceria).
Herry Tany dari Kosakata Jakbar tampil diiringi Rumah Seni Jakarta (RSJ). Dari luar Jakarta, tampak nama Oliena Ibrahim (Ambon), Malik Fahat Mushin Wage (Cirebon), MY Kembara (Tangerang Selatan), Lr. Fatah Yasin (Pengasuh Pondok Pesantren di Jawa Timur), hingga Farida dari Aceh. Penampilan musik puisi juga dibawakan Nabila & Nabilel dari RMI Music Poetry.
Puncak acara Malam Puisi Nasional yang dibuka staf khusus Kementerian Kebudayaan Nissa Rengganis diisi baca puisi Salman Aristo dan Slamet Widodo, serta Parade Puisi MPA21 yang menampilkan Kurnia Effendi, Remmy Novaris DM, Panji Utama, Anwar Putra Bayu, Gunoto Saparie, dan Nenden Lilis A.
Penampilan lain datang dari Helvy Tiana Rosa, D. Kemalawati (Aceh), Fatin Hamama, Imam Maarif, Octavianus Masheka, Syaifuddin Gani (Kendari).
Acara juga dimeriahkan musikalisasi puisi oleh BARALUKA (Gong Merah Putih), musik dari MANTRA SAMSARA, tari kontemporer oleh Erna Winarsih Wiyono, dan monolog puitik oleh Arie Batubara (Ketua MKJ).
• Suyadi San


