Batubara, Mimbar – Perseteruan antara nelayan tradisonal dengan nelayan pukat trawl di Kabupaten Batubara akhirnya memuncak pada Minggu (15/4) lalu. Sebuah kapal trawl di bakar hingga tenggelam di perairan Prumpang Medang Deras, Kecamatan Sei Suka.
Kejadian bermula, sebut sumber, ketika sebuah kapal pukat trawl menabrak “pekarangan” yang selama ini menjadi tumpuan nelayan tradisional dalam mencari ikan. Tak senang dengan aksi kapal itu, nelayan tradisional yang selama ini sudah merasa resah tersulut emosinya. Mereka memaksa awak kapal trawl segera keluar berpindah ke perahu kecil di belakangnya.
Begitu para awak sudah berpindah, para nelayan tradisional itu segera melakukan aksi pembakaran atas kapal tersebut sampai akhirnya kapal itu tenggelam.
Ternyata kejadian itu tak berhenti di situ, nelayan pukat trawl yang tak terima perlakuan itu segera meminta bantuan teman-temannya. Dalam waktu tidak terlalu lama, puluhan kapal trawal menghampiri para nelayan tradisional sehingga akhirnya bentrok antar nelayan itu tidak dapat dihindarkan. Merasa kalah jumlah, nelayan tradisonal memilih menghindar menuju perairan Sungai Padang.
Ketua Masyarakat Nelayan Tradisional Batubara (Mantab), Syawaluddin Pane mengatakan aksi ” sombam” atau bentrokan itu bukan dilakukan kelompoknya.
“Itu bukan (dari) gerakan kita. Tapi sebagai solidaritas dari sesama nelayan tradisional kita akan tetap lakukan advokasi pada mereka,” kata Syawal.
Nelayan tradisonal itu menyebutkan, ia dan teman-temannya sudah merasa frustasi dengan keadaan ini, dimana mereka butuh makan, butuh penghasilan untuk keluarga, namun ketika akan melakukan aktifitas menangkap ikan selalu tergangu dengan keberadaan kapal-kapat pukat trawal itu.
Mereka merasakan, pmerintah seperti tidak hadir dalam persoalan itu. “Kalau ini dibiarkan bakal jatuh korban. Disesalkannya juga kasus kasus seperti ini tak akan selesai jika pemerintah tak tegas terhadap produk peraturan yang dikeluarkan,” ucapnya. (kn)


