Cerita: Nur Annisa Lubis
Libur sekolah telah tiba. Itu andanya Akil akan menghabiskan waktunya di rumah saja. Sebenarnya, hal itu cukup wajar. Akil merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Saat ini, ibunya sedang mengandung adiknya sehingga tentu akan sangat repot jika harus mengurus mereka semua. Sementara itu, ayah Akil bekerja di pelayaran dan tidak bisa pulang sesuka hati.
Akil menghela napas panjang. Ia membayangkan teman-temannya nanti akan bercerita tentang tempat-tempat yang mereka kunjungi selama liburan. Ada yang pergi ke pantai, ke rumah saudara, bahkan ada yang berwisata ke luar kota.
Akil mulai merasa liburan kali ini akan membosankan. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah.
“Bip… bip… bip…” Suara monofonik yang berasal dari ponsel jadul milik Ibu.
Akil segera beranjak. Ia meraih ponsel tersebut dari atas laci dan membawanya kepada Ibu yang sedang sibuk memasak bersama kedua kakaknya untuk makan siang.
“Angkat dulu, Akil. Ibu sedang sibuk,” celetuk Ibu.
Akil menekan tombol jawab.
“Halo,” suara Ayah menyapa dari seberang telepon.
“Ayaaaah!” Akil langsung berbicara tanpa basa-basi.
“Ayah, kok tidak pulang-pulang? Ini kan sudah liburan. Kita kapan liburan? Akil bosan di rumah terus. Nanti waktu Akil masuk sekolah, guru pasti bertanya liburan ke mana saja. Akil malu kalau jawabnya ke rumah Nenek. Rumah Nenek kan di samping rumah kita. Akil tidak mau, Ayah. Ayo kita liburan.”
Ucapan Akil yang langsung pada intinya membuat Ibu menepuk jidat.
Dari seberang telepon terdengar tawa Ayah.
“Justru itu, Sayang. Ayah menelepon karena Ayah akan pulang. Ada kendala serius pada mesin kapal Ayah yang harus diperbaiki sehingga kapal harus mendarat dan Ayah dipulangkan. Dua hari lagi Ayah sampai di rumah.”
Akil terdiam sejenak.
“Benarkah, Yah?”
“Benar. Jadi, segera bersiap. Ayah mau mengajak kalian ke kebun binatang.”
Mata Akil langsung berbinar.
Saking bahagianya, Akil meletakkan ponsel jadul itu di atas meja makan agar Ibu dapat melanjutkan pembicaraan dengan Ayah. Setelah itu, ia langsung berlari ke kamar untuk beres-beres, padahal Ayah baru akan pulang dua hari lagi.
—
Hari yang dinantikan akhirnya tiba.
“Welcome to ZOO.” Tulisan itu terpampang lebar di pintu masuk kebun binatang.
Akil berdiri dengan wajah penuh kebahagiaan. Akhirnya, ia memiliki cerita untuk dibawa ke sekolah nanti. Ketika guru bertanya ke mana mereka pergi selama liburan, Akil bisa langsung menjawab bahwa ia pergi ke kebun binatang bersama Ayah, Ibu, dan kedua kakaknya. Sungguh hari yang menyenangkan.
Setelah urusan pembayaran karcis selesai, mereka pun masuk ke dalam kawasan kebun binatang. Di dekat pintu masuk terdapat papan petunjuk yang mengarah ke berbagai lorong berdasarkan kelas biologisnya, seperti mamalia, aves, reptil, amfibi, dan pisces.
“Ayah, kita mau ke mana dulu?” tanya Akil.
“Ayah, Akil mau lihat hewan karnivora. Itu di lorong mana?”
Ayah kemudian mengajak Akil menuju lorong mamalia sambil menerangkan beberapa jenis hewan berdasarkan kelasnya.
Hewan pertama yang dilihat Akil adalah sepasang beruang madu yang memiliki bulu hitam mengilap. Setelah itu, Akil melihat seekor singa, sang raja rimba, yang sedang duduk di dalam kandangnya. Akil terus berjalan hingga Ayah tiba-tiba bertanya,
“Kamu mau lihat Nek Puyang?” Akil sontak menoleh.
“Hah? Sejak kapan ada hewan namanya Nek Puyang, Yah?”
Ayah menunjuk ke arah kandang di sebelah beruang madu. Di sana terdapat seekor harimau Sumatra. Akan tetapi, ketika Akil melihat harimau tersebut, ia justru merasa heran. Harimau itu tidak seperti hewan yang lain. Ia terus mondar-mandir dan terlihat gelisah. Langkahnya berulang dari satu sisi ke sisi lainnya. Sesekali ia berhenti, mengangkat kepala, lalu mengendus udara. Ekornya bergerak perlahan, sementara kedua telinganya terus bergerak seolah sedang menangkap suara dari kejauhan.
“Kenapa harimaunya begitu, Yah?”
Ayah kemudian mulai menceritakan tentang Nek Puyang, panggilan untuk harimau Sumatra.
“Bagi orang zaman dahulu, harimau bukanlah sekadar binatang buas. Mereka menyebutnya Nek Puyang. Puyang berarti leluhur atau orang yang dituakan. Sebutan itu lahir dari rasa hormat kepada harimau yang dianggap sebagai penghuni lama hutan.”
Akil mendengarkan dengan saksama.
“Dahulu, jauh sebelum jalan raya membelah hutan dan bangunan-bangunan berdiri di atas tanah yang sebelumnya ditumbuhi pepohonan, masyarakat Sumatra hidup berdampingan dengan alam. Hutan menjadi tempat mereka mencari makanan, mengambil hasil bumi, menemukan sumber air, sekaligus tempat berbagai satwa liar menjalani kehidupan. Harimau adalah salah satu penghuni yang paling dihormati.”
Akil tetap memandang harimau itu.
“Orang-orang tua dahulu percaya bahwa harimau bukanlah hewan yang akan sembarangan mengganggu manusia. Jika seseorang memasuki hutan tanpa merusak atau mengusik kehidupan di dalamnya, Nek Puyang pun akan menjaga jarak. Sebaliknya, apabila manusia mulai merusak hutan, mengusik sarangnya, atau memburu hewan tanpa batas, pertemuan dengan harimau dianggap sebagai peringatan.”
Ayah berhenti sejenak.
“Karena itu, orang-orang dahulu tidak boleh sembarangan menyebut nama harimau. Mereka memilih panggilan yang lebih halus, seolah-olah menyebut seorang leluhur yang patut dihormati.”
“Nek Puyang,” gumam Akil.
Akil kembali melihat harimau di hadapannya. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya melihat seekor binatang buas dengan taring dan cakar tajam. Ia melihat makhluk yang berasal dari hutan, makhluk yang mempunyai wilayah dan kehidupannya sendiri. Akan tetapi, ada sesuatu yang masih mengganjal pikirannya. Harimau itu tidak berhenti bergerak. Ia berjalan. Berbalik. Berjalan lagi. Kemudian berhenti di tepi kandang. Tatapannya mengarah ke bagian belakang taman satwa. Akil mengikuti arah pandangannya, tetapi tidak menemukan sesuatu yang aneh.
Beberapa staf tampak sibuk memberi makan hewan. Pengunjung berjalan sambil membawa anak-anak mereka. Suasana sore itu juga tidak berbeda dari biasanya.
Harimau itu mengendus udara. Kemudian terdengar suara geraman rendah. Harimau itu tidak menunjukkan tanda-tanda hendak menyerang. Ia tidak menerjang pagar. Tidak pula menunjukkan taring kepada para pengunjung. Ia hanya terus memandang ke arah yang sama. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang ia tunggu.
Sementara itu, orang-orang di sekelilingnya tidak menyadari apa pun. Akil mulai merasa ada yang aneh. Mungkin selama ini manusia terlalu sibuk memperhatikan apa yang dilakukan harimau, sampai lupa memperhatikan apa yang sedang diperhatikan harimau.
Tiba-tiba suara auman memecah suasana.
“RAAAUUUM!” suara harimau menggema keras.
Beberapa pengunjung terkejut. Anak-anak berteriak dan berlari mendekati orang tua mereka. Akil sendiri merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Namun, harimau itu tidak sedikit pun bergerak mendekati mereka. Ia justru berlari menuju sisi kandang yang mengarah ke deretan kandang satwa lain. Kemudian ia mengaum lagi. Lebih keras. Lebih panjang.
Akil memandang Ayah dengan perasaan tidak enak. Ayah pun mulai memperhatikan arah yang dituju harimau itu. Belum sempat mereka mengetahui apa yang terjadi, seorang staf tiba-tiba berlari dari arah belakang. Wajahnya pucat. Ia memanggil beberapa rekannya dengan suara terburu-buru.
Kepanikan mulai terlihat. Salah satu kandang satwa buas ternyata tidak tertutup sempurna. Kandang serigala terbuka. Tidak ada yang menyadarinya sejak tadi. Seekor serigala telah keluar dari tempatnya. Beberapa staf segera berlari membawa peralatan untuk mengamankan keadaan. Pengunjung diminta menjauh. Akan tetapi, kepanikan membuat sebagian orang justru berlari hilang arah.
Dari balik pepohonan, terdengar suara geraman. Kemudian seekor serigala muncul. Ia berjalan perlahan. Tubuhnya merunduk, matanya mengamati kerumunan manusia yang semakin kacau. Sebagai hewan predator, gerakan manusia yang berlari justru dapat memicu nalurinya untuk mengejar. Suasana yang sebelumnya tenang berubah menjadi kepanikan.
Akil menggenggam tangan Ayah erat-erat.
Dari kejauhan, serigala mulai bergerak mengejar seseorang yang berlari menjauh. Staf berusaha menghalangi dan mengarahkan hewan itu agar menjauh dari pengunjung.
Pada saat itu Akil menoleh kepada harimau. Harimau itu masih berada di dalam kandangnya. Ia kembali mengaum. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Aumannya terdengar seperti suara yang sejak tadi berusaha memecahkan ketidaktahuan manusia.
Akil teringat bagaimana harimau itu mondar-mandir sejak awal. Bagaimana telinganya terus bergerak. Bagaimana matanya tidak benar-benar tertuju kepada para pengunjung. Bagaimana ia berkali-kali mengaum ke arah kandang serigala.
“Apakah dia Nek Puyang seperti kata Ayah?” ujar Akil dalam hati.
Harimau itu seperti mengetahui sesuatu yang tidak diketahui manusia. Ia memberi peringatan.
Selama beberapa menit, Akil mengira kegelisahan harimau itu adalah tanda bahwa ia sedang marah. Ternyata, yang tampak seperti ancaman justru sebuah pertolongan.
Para staf akhirnya berhasil mengepung dan mengarahkan serigala kembali ke area aman. Setelah beberapa usaha yang menegangkan, hewan itu berhasil diamankan dan dikembalikan ke kandangnya. Pengunjung mulai bernapas lega.
Akil masih berdiri di tempatnya. Ia menatap harimau itu. Anehnya, harimau tersebut sudah tidak mondar-mandir lagi. Tubuhnya kini diam di salah satu sudut kandang. Kepalanya menghadap ke arah pengunjung, tetapi tidak ada lagi kegelisahan di matanya. Seolah-olah tugasnya telah selesai. **



