mimbarumum.co.id – Ada dua cara membaca Natuna. Pertama, dengan mata telanjang: laut biru, bukit granit, pelabuhan sepi. Kedua, dengan mata kebudayaan: di sanalah Natuna berbicara—dalam bahasa batuan berusia ratusan juta tahun, dalam jalur perdagangan abad ke-6, dalam catatan Raja Ali Kelana, dan dalam bisik angin Selat Lampa yang telah menjadi saksi bisu migrasi manusia dan budaya selama ribuan tahun.
Tim KOPK (Kelompok Objek Pemajuan Kebudayaan) didanai Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan dan LPDP tahun anggaran 2025 yang penulis pimpin, beranggotakan Jusmianti Garing (BRIN) dan Fabio Testy Ariance Loren (UMRAH), tidak ingin sekadar melihat Natuna. Kami ingin membaca Natuna—sebagai teks, sebagai naskah, sebagai sumber sastra lokal yang selama ini tersimpan bukan hanya di perpustakaan, tetapi juga di lanskap, di jalan setapak, dan di peta-peta tua yang menunjukkan bahwa Natuna adalah pulau perlintasan di ujung negeri.
Perjalanan dimulai dari sebuah tempat yang secara metaforis dan geografis menjadi pusar Natuna modern. Di Tapak Natuna, Teras Satran Homestead, tim KOPK berdiri di bawah papan penunjuk arah yang ditulis dengan huruf besar:
PHILIPPINES 1763KM – THAILAND 1539KM – SINGAPORE 573KM – BRUNEI 720KM – LAOS 1869KM
Di sanalah, untuk pertama kalinya, kami menyadari bahwa Natuna bukanlah pinggiran. Natuna adalah pusat dari persimpangan. Dari sini, peradaban datang dan pergi. Kapal-kapal dari Cina Selatan, India, dan Timur Tengah singgah untuk mengambil air tawar, kayu gaharu, dan berlindung dari badai. Dan di setiap persinggahan itu, mereka meninggalkan cerita. Dan cerita itulah—yang kemudian menjadi sastra.
Sastra lokal memang tidak lahir dari kekosongan. Ia lahir dari perjumpaan. Natuna adalah ruang perjumpaan paling intens di perbatasan.
Laut sebagai Pustaka Bergerak
Di papan informasi lain yang ditemukan tim di kawasan Bunguran Timur, terpampang narasi tentang laut sebagai jalur perdagangan dan migrasi. Sejak abad ke-3 M, laut Cina Selatan telah menjadi urat nadi perdagangan dunia. Dan sejak abad ke-6, perairan Natuna Utara telah dikenal sebagai jalur yang menghubungkan Timur dan Barat: Cina, India, Timur Tengah.
Tim KOPK mencatat: setiap kapal yang lewat membawa bukan hanya rempah dan sutra, tetapi juga bahasa, mantra, pantun, dan cara bercerita. Sastra lisan Natuna—yang kini nyaris punah—sejatinya adalah sedimen budaya dari ribuan interaksi lintas bangsa. Lagu nelayan Endang-Endang, misalnya, diduga kuat memiliki kemiripan struktur dengan nyanyian pelaut dari pesisir Kamboja dan Vietnam Selatan.
Jusmianti Garing dari BRIN mengamati bahwa teknologi tembikar Neolitik yang ditemukan di Batu Sindu, Natuna, memiliki kesamaan gaya dengan temuan di Thailand, Semenanjung Malaysia, dan Filipina. Ini bukan kebetulan. Ini adalah bukti adanya jalur migrasi dan pertukaran budaya yang terstruktur sejak ribuan tahun lalu.
“Sastra tidak selalu berupa tulisan. Tembikar, alat batu, dan susunan ruang hunian adalah juga teks. Dan Natuna adalah perpustakaan terbuka yang belum kita baca seluruhnya,” ujar Jusmianti.
Dalam penelusurannya, tim KOPK menemukan sebuah kata kunci yang hampir terlupakan: “Katunna” —sebutan sebelum wilayah ini dikenal sebagai Natuna. Dari mana asal kata itu? Apakah dari bahasa pelaut Austronesia? Atau dari dialek kuno yang kini hanya tersisa di nama tempat dan ritual adat?
Fabio Testy Ariance Loren dari UMRAH, yang memiliki latar belakang kajian Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) dan budaya maritim, melihat bahwa nama adalah sastra pertama suatu peradaban.
“Sebelum ada pantun, sebelum ada syair, manusia memberi nama pada tempat. Nama itu adalah puisi pertama. ‘Katunna’, ‘Natuna’, ‘Bunguran’, ‘Serindit’—semuanya mengandung memori kolektif yang harus kita gali sebagai sumber sastra lokal.”
Di kawasan Ranai Kota, tim mengunjungi sebuah spot yang secara khusus memajang peta jalur perdagangan Asia abad 1000–1400 M. Di peta itu, Natuna digambarkan sebagai titik persinggahan penting. Tidak sekadar lintas, tetapi juga tempat tinggal sementara, tempat bercerita, tempat bertukar kabar dari negeri seberan

Namun, ironisnya, sastra yang lahir dari perjumpaan lintas bangsa itu kini justru terancam punah karena minimnya pendokumentasian dan perhatian dari pusat. Generasi muda Natuna lebih hapal jarak ke Singapura (573 km) daripada jarak ke kampung tetangga yang menyimpan syair tua.
Antara Batuan, Perdagangan, dan Ingatan Kolektif
Tim KOPK kemudian menyusun tiga sumber utama sastra lokal Natuna berdasarkan temuan lapangan di bagian kelima ini:
1. Bentang Alam dan Batuan
Di papan informasi Museum Natuna tentang proses kebumian Natuna, dijelaskan bahwa kepulauan ini terbentuk dari kerak samudra dan kerak benua dalam rentang waktu ratusan juta tahun. Bagi tim KOPK, batuan bukan sekadar geologi. Batuan adalah saksi bisu dari cerita manusia yang datang dan pergi. Sastra lokal sering kali lahir dari ritual yang merespon alam: doa sebelum melaut, mantra tolak bala saat badai, syukur atas air tawar yang melimpah.
2. Jalur Perdagangan dan Migrasi
Sejak abad ke-6, Natuna menjadi simpul penghubung. Setiap kapal yang singgah membawa kosakata, idiom, dan cara bercerita. Akulturasi bahasa Melayu dengan bahasa asing—Cina, India, Arab, Eropa—tercermin dalam pantun dan syair lokal. Tim KOPK menduga kuat bahwa beberapa struktur pantun Natuna memiliki kemiripan dengan pantun Palembang dan pesisir timur Sumatera, yang juga merupakan jalur perdagangan yang sama.
3. Catatan Kolonial dan Naskah Lokal
Di salah satu foto dokumentasi tim, terlihat sebuah papan bertuliskan “Natuna Dalam Catatan Raja Ali Kelana” —merujuk pada Raja Ali Haji dari Riau-Lingga yang mencatat sejarah dan sastra Melayu klasik. Sayangnya, akses ke naskah-naskah semacam itu di Natuna sendiri sangat terbatas. Sebagian besar tersimpan di Perpustakaan Nasional atau di Leiden, Belanda. Tim KOPK merekomendasikan agar digitalisasi naskah dan akses terbuka menjadi prioritas.
Di penghujung penjelajahan bagian kelima laporan ini, tim KOPK duduk di sebuah warung kopi di Ranai Kota. Kami membuka peta dan menunjuk tiga titik: Selat Lampa, Batu Sindu, dan Pelabuhan Penagi.
Inilah tiga sumber sastra Natuna: laut, batuan, dan pelabuhan. Tapi sumber yang paling utama adalah manusia yang masih mau bercerita. Jika mereka berhenti, maka sastra Natuna akan mati—bukan karena tidak ada yang menulis, tetapi karena tidak ada yang mendengar.
Jusmianti Garing menambahkan bahwa BRIN akan merekomendasikan situs-situs prasejarah dan sejarah di Natuna sebagai lokasi penelitian tetap untuk bidang arkeolinguistik—kajian tentang bagaimana bahasa dan sastra terbentuk dari interaksi manusia dengan ruang dan benda.
Sementara Fabio Testy Ariance Loren berjanji akan menginisiasi program pertukaran mahasiswa UMRAH ke Natuna untuk mendokumentasikan sastra lisan di kampung-kampung terpencil.
“Sastra lokal tidak akan ditemukan di ruang ber-AC. Ia ada di dermaga, di atas perahu, di dapur nenek yang masih memasak Kuah Tige. Kita harus turun ke sana,” tukasnya.
Yah, Natuna bukan pulau kosong. Ia adalah perpustakaan raksasa yang terbentang di atas laut, dengan rak-rak berupa batu karang, pulau-pulau kecil, dan pelabuhan tua. Namun perpustakaan itu mulai usang. Bukan karena waktu, tetapi karena kita lupa cara membacanya.
• Suyadi San


