Saya pernah bertemu seorang pedagang kecil yang membuka warung di depan rumahnya. Warung itu tidak besar. Raknya hanya beberapa. Barang dagangannya juga tidak terlalu banyak. Tetapi setiap hari ada pembeli. Lama-kelamaan usahanya berkembang. Stok barang bertambah. Pelanggan semakin banyak. Penghasilannya pun ikut meningkat.
Ketika saya bertanya bagaimana awal mula ia membuka usaha, jawabannya sederhana. “Karena ada yang mau beli.”
Sesederhana itu. Ada kebutuhan terlebih dahulu, lalu lahirlah usaha. Ada pasar terlebih dahulu, lalu muncul kegiatan ekonomi.
Saya kemudian membandingkan logika sederhana itu dengan berbagai program pembangunan ekonomi yang sering kita lihat. Kadang-kadang yang terjadi justru sebaliknya. Lembaganya dibentuk terlebih dahulu. Pengurusnya ditetapkan terlebih dahulu. Kantornya disiapkan terlebih dahulu. Baru setelah semuanya selesai, orang mulai bertanya. Usahanya mau apa?
Pertanyaan itulah yang belakangan sering muncul di kepala saya ketika mengikuti erkembangan Koperasi Merah Putih. Bukan karena saya apriori terhadap koperasi. Tetapi saya hanya khawatir kita sedang membalik urutan yang seharusnya dilakukan untuk melakukan sebuah usaha.
Dalam dunia usaha, biasanya kebutuhan melahirkan organisasi. Namun dalam banyak program pemerintah, organisasi sering kali dibentuk terlebih dahulu, lalu kebutuhan dicari kemudian.
Padahal kebutuhan masyarakat di setiap desa tidak selalu sama. Ada desa yang hidup dari pertanian. Ada yang bergantung pada perikanan. Ada yang bertumpu pada perdagangan.
Ada pula yang sebagian besar warganya bekerja di sektor jasa. Karena itu usaha yang cocok di satu desa belum tentu cocok di desa lain.
Inilah yang membuat saya bertanya-tanya. Apakah Koperasi Merah Putih lahir karena kebutuhan ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat desa? Ataukah kebutuhan itu baru akan dicari setelah koperasi terbentuk?
Pertanyaan ini bukan soal administrasi. Ini soal masa depan usaha. Sebab usaha yang lahir dari kebutuhan biasanya lebih mudah bertahan. Sementara usaha yang lahir karena target sering kali kesulitan menemukan arah.
Kita tentu tidak ingin koperasi hanya sibuk mengurus rapat pengurus, membuat laporan, atau menyusun program kerja. Kita ingin koperasi memiliki usaha yang nyata. Yang menghasilkan.
Yang memberi manfaat. Yang mampu membuat anggotanya merasa bahwa koperasi memang penting bagi kehidupan mereka.
Karena pada akhirnya masyarakat tidak membutuhkan koperasi hanya untuk memenuhi target jumlah. Masyarakat membutuhkan koperasi yang mampu membantu menjual hasil panen, menurunkan biaya produksi, memperluas akses modal, atau membuka pasar baru.
Kalau manfaat itu hadir, masyarakat akan datang dengan sendirinya. Mereka tidak perlu dipaksa.
Mereka tidak perlu diajak berkali-kali. Mereka akan bergabung karena merasa membutuhkan.
Bukankah hampir semua usaha yang berhasil memang tumbuh seperti itu? Orang membeli karena membutuhkan. Orang datang karena merasakan manfaat. Orang bertahan karena memperoleh keuntungan.
Mungkin karena itulah saya selalu percaya bahwa membangun ekonomi rakyat tidak cukup hanya dengan mendirikan lembaga. Yang lebih penting adalah memahami kebutuhan rakyat itu sendiri. Sebab koperasi yang baik bukanlah koperasi yang sekadar ada. Melainkan koperasi yang memiliki alasan kuat untuk tetap hidup.
Dan alasan itu tidak lahir dari papan nama. Tidak lahir dari gedung. Tidak pula lahir dari surat keputusan. Alasan itu lahir dari kebutuhan nyata masyarakat yang dilayaninya.
Jika kebutuhan itu ada, koperasi akan tumbuh. Tetapi jika kebutuhan itu tidak pernah benar-benar dipahami, maka yang tersisa mungkin hanya sebuah pertanyaan. Mengapa kita begitu sibuk membangun koperasi, tetapi lupa menyiapkan usaha yang akan menghidupinya?
Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform digital e-paper https://www/myedisi.com/mimbarumum


