Sebenarnya Membangun Koperasi atau Membangun Gedung?

Berita Terkait

Saat sebuah bangunan baru dengan cat masih mengkilap dan halaman depannya yang rapi dan ada papan nama yang berdiri gagah di dindingnya, sekilas tidak ada yang salah. Justru bangunan itu terlihat cukup bagus. Menariknya lagi bentuk bangunan itu cenderung seragam dengan bangunan lain yang ada di desa-desa lainnya.

Tetapi entah mengapa saya teringat pada sebuah pertanyaan lama. Apakah kita sedang membangun koperasi atau sedang membangun gedung? Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh. Karena bagi sebagian orang, gedung adalah tanda kemajuan. Kalau ada bangunan baru berarti ada pembangunan.
Kalau ada peresmian berarti ada keberhasilan. Kalau ada foto bersama berarti program sedang berjalan.

Padahal dalam dunia usaha, bangunan hanyalah alat. Bukan tujuan.

Warung yang ramai tidak selalu berada di bangunan yang megah. Banyak usaha besar di negeri ini justru lahir dari tempat yang sangat sederhana. Ada yang berawal dari garasi rumah. Ada yang berawal dari lapak kecil di pinggir jalan. Ada yang berawal dari meja kayu dan buku catatan utang.

Yang membuat usaha hidup bukan kemegahan bangunannya. Tetapi manfaat yang diberikan kepada pelanggannya. Karena itu saya selalu merasa bahwa koperasi seharusnya dinilai dari aktivitas ekonominya, bukan dari bentuk fisiknya.

Berapa anggota yang aktif? Berapa transaksi yang terjadi? Berapa usaha kecil yang terbantu?
Berapa pendapatan anggota yang meningkat? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu jauh lebih penting daripada ukuran gedung atau warna cat temboknya.

Sayangnya, kita sering terjebak pada sesuatu yang mudah dilihat. Gedung bisa difoto. Peresmian bisa direkam. Papan nama bisa dipasang. Tetapi sesungguhnya manfaat ekonomi tidak selalu langsung terlihat. Ia membutuhkan waktu. Ia membutuhkan kerja keras. Ia membutuhkan kepercayaan dari anggota.

Mungkin karena itulah membangun gedung sering kali lebih mudah daripada membangun koperasi. Membangun gedung cukup dengan anggaran dan kontraktor. Tetapi membangun koperasi membutuhkan partisipasi, komitmen, dan kepercayaan masyarakat. Yang satu bisa selesai dalam hitungan bulan. Yang satunya lagi bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Saya jadi teringat pada banyak bangunan yang pernah dibangun dengan semangat besar. Ada yang dahulu diresmikan dengan meriah. Ada yang pernah dipuji sebagai simbol kemajuan. Ada yang sempat menjadi kebanggaan daerah. Tetapi beberapa tahun kemudian bangunan itu sepi. Aktivitasnya berkurang. Fungsinya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Yang tersisa hanyalah tembok dan kenangan.

Tentu banyak pihak tidak ingin hal itu terjadi pada Koperasi Merah Putih. Karena rakyat tidak membutuhkan lebih banyak bangunan kosong. Rakyat membutuhkan lembaga ekonomi yang benar-benar bekerja. Lembaga yang membantu petani menjual hasil panennya. Membantu pedagang mendapatkan barang dengan harga lebih murah. Membantu usaha kecil memperoleh akses permodalan yang sehat. Membantu masyarakat meningkatkan penghasilannya. Kalau semua itu terwujud, koperasi tidak perlu gedung yang megah untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Tetapi jika semua itu tidak ada, gedung semegah apa pun tidak akan mampu membuat koperasi hidup. Karena pada akhirnya ekonomi tidak tumbuh dari beton. Ekonomi tumbuh dari aktivitas manusia. Dan koperasi tidak diukur dari bangunan yang berdiri. Koperasi diukur dari manfaat yang dirasakan oleh anggotanya.

Jadi, kalaulah yang lahir hanya bangunannya, sementara semangat berkoperasinya tidak pernah tumbuh, maka yang berdiri mungkin hanya tembok. Bukan koperasi.

Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform digital e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Saat Kekuasaan Menyebabkan Hukum Kehilangan Taring

Hukum seyogyanya berdiri tegak di hadapan siapa pun. Tidak tunduk kepada jabatan, kekayaan, atau kedekatan dengan penguasa. Namun, prinsip...