Kota yang Pandai Membongkar, Tapi Lupa Menyembuhkan: Potret Buram Penataan Medan yang Setengah Hati

Berita Terkait

Di Marelan, ada lubang yang lebih dalam dari sekadar parit , yaitu lubang kepercayaan warga terhadap pemerintahnya sendiri.

Sejak Maret lalu, parit di Simpang Pertemuan, Jalan Platina Raya, dibongkar dengan gegap gempita seolah menjadi bagian dari proyek besar penataan kota. Tapi setelah tanah dan beton terangkat, yang tersisa hanya lubang-lubang menganga, bau busuk, dan wajah kota yang makin kusam.

Tak perlu jadi ahli tata kota untuk tahu ada yang keliru di sini. Warga sudah berbulan-bulan hidup di antara tumpukan lumpur dan sampah yang dibiarkan terbuka. Anak-anak melintas dengan hati-hati agar tak terperosok. Para pedagang menatap warungnya yang sepi karena pembeli enggan singgah. Kota ini seakan kehilangan rasa tanggung jawab pada hal yang paling sederhana, yakni menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulai.

“Parit dibongkar, tapi tak diperbaiki. Kami seperti ditinggal di tengah jalan,” keluh seorang warga. Kalimat sederhana itu sebetulnya sudah cukup menjadi tamparan. Sebab, di balik lubang-lubang itu, menganga juga mental kerja asal-asalan yang kini tampaknya m enjadi gaya baru birokrasi kota. Lebih cepat merusak daripada memperbaiki.

Kota Medan memang sedang rajin membongkar. Jalan dibongkar. Trotoar dibongkar. Parit dibongkar. Tapi sayangnya, semangat membongkar itu tidak diiringi kemampuan menata ulang. Akibatnya, di banyak sudut kota, yang tersisa hanyalah lubang, debu, dan keluhan. Seperti orang yang rajin menumbangkan pohon tapi lupa menanam bibit pengganti.

Sungguh ironis, ketika pemerintah bicara soal “Medan Cantik”, tapi yang tampak justru kota yang kian jorok dan semrawut. Di Marelan, warga mengaku malu saat Idulfitri lalu. Bukan karena rumah tak megah, tapi karena parit di depan rumah mereka berubah jadi kubangan busuk yang menyambut tamu. Inikah wajah kota metropolitan yang dibanggakan itu?

Lebih menyakitkan lagi, banyak warga akhirnya memperbaiki sendiri bagian parit di depan rumahnya, menggunakan uang pribadi. Sementara yang punya wewenang justru diam. Barangkali mereka sedang sibuk mencari proyek berikutnya untuk dibongkar.

Kalau begini caranya, Medan bukan sedang dibangun, melainkan dikoyak sedikit demi sedikit oleh tangannya sendiri. Kota ini seolah tak punya peta kesadaran, hanya peta proyek. Tak heran bila kepercayaan warga pun ikut tergerus, tenggelam di dasar parit yang tak pernah ditutup kembali.

Dan mungkin, di situlah masalah terbesarnya ketika urusan publik tak lagi dipandang sebagai amanah, tapi sekadar proyek yang bisa ditinggalkan kapan saja tanpa rasa bersalah. Padahal dalam pandangan Islam, setiap pekerjaan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, sekecil apa pun itu.

Kalau pemerintah masih tega membiarkan lubang-lubang itu menganga, maka sesungguhnya yang mereka biarkan bukan cuma jalan rusak, tapi juga rusaknya rasa percaya rakyat.

Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum dengan judul : Kota yang Pandai Membongkar, Tapi Lupa Menyembuhkan.

Tinggalkan Balasan

spot_img
spot_img

Berita Pilihan

Tom Lembong dan Pertanyaan Tentang Kepercayaan kepada Hukum

Pada episode sebelumnya kita sampai pada satu pertanyaan, bagaimana kalau masyarakat tidak sepenuhnya percaya kepada orang yang diberi kewenangan...