mimbarumum.go.id – Konferensi Internasional Kesusastraan (KIK) ke-34 yang diselenggarakan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) tidak hanya menjadi ajang diskusi akademik, tetapi juga panggung penegasan kembali kekuatan sastra sebagai instrumen aktivisme sosial. Pada sesi pleno hari kedua, Sabtu (11/10/2025), dengan sesi pleno internasional yang kembali menghadirkan pembicara kelas dunia. Dr. Annette Damayanti Lienau dari Harvard University, Dr. Ai Takeshita dari Tokyo University of Foreign Studies, dan tokoh pendidikan nasional Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro, berbagi wawasan mendalam tentang posisi sastra dalam konteks global, pendidikan, dan transformasi sosial.
Dalam presentasi berjudul “Sastra dan Aktivisme Sosial”, Wardiman Djojonegoro mengupas secara mendalam surat-surat R.A. Kartini bukan hanya sebagai dokumen historis, melainkan sebagai karya sastra sejati yang memenuhi sembilan kriteria kesastraan. Ia menekankan bahwa surat-surat Kartini memiliki nilai estetika bahasa, kekayaan makna, struktur yang disengaja, keaslian, daya sentuh humanitas universal, serta mengandung efek emosional dan intelektual yang kuat bagi pembaca.
“Surat-surat Kartini adalah sebuah ‘suara subaltern’ dalam sastra pascakolonial. Tulisannya mencerminkan penyerapan ide-ide Eropa sekaligus ambivalensi dan perlawanannya terhadap budaya kolonial. Ini adalah mahakarya yang mengkristalkan tema-tema universal tentang keadilan, kesetaraan gender, dan hak atas pendidikan,” tegas Prof. Wardiman di hadapan ratusan peserta konferensi.
Pentingnya warisan intelektual Kartini ditegaskan kembali dengan pengumuman bahwa pada tahun 2025, arsip surat-surat R.A. Kartini secara resmi ditetapkan UNESCO sebagai bagian dari Memory of the World (MoW). Pengakuan internasional ini merupakan hasil kerja sama lintas negara antara Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Arsip Nasional Belanda, dan Perpustakaan Universitas Leiden.
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu juga memaparkan bahwa Trilogi Kartini yang ia tulis merupakan kompilasi surat Kartini terbanyak hingga saat ini, yakni 179 surat, yang diterjemahkan dari bahasa Belanda. Buku ini terdiri dari tiga jilid: kumpulan surat-surat, biografi dan renungan Kartini, serta inspirasi Kartini bagi kesetaraan gender di Indonesia.
Menyoroti relevansi pemikiran Kartini dengan masa kini, Prof. Wardiman menyoroti kondisi Kesetaraan Gender Indonesia (KGI) yang telah maju dengan baik, namun masih jauh dari ideal. Ia mengelompokkan isu kesetaraan gender ke dalam delapan bidang kritikal, termasuk partisipasi ekonomi, akses pendidikan, stereotip budaya, dan perlindungan dari kekerasan.
“Peningkatan KGI akan meningkatkan pemberdayaan perempuan Indonesia dengan prinsip keadilan, yang pada akhirnya memajukan kesejahteraan nasional dan menyongsong ‘Indonesia Emas 2045’,” ujarnya.
Ia menambahkan, semangat Kartini harus terus dibangkitkan untuk menginspirasi para aktivis kesetaraan gender di seluruh Indonesia.
Sesi Paralel III juga melanjutkan geliat diskusi akademik dengan lima kelas paralel, menampilkan puluhan pemakalah tambahan. Pada sore hari, agenda beralih ke Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS) yang mempertemukan pengurus HISKI Pusat dan Daerah untuk menyusun strategi dan program ke depan.
Suasana santai namun berbudaya hadir pada sesi rehat kopi yang diiringi alunan merdu musik keroncong dari mahasiswa Jurusan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (FBS Unesa).
Acara puncak penutupan berlangsung pukul 16.00–17.00, ditandai dengan pengumuman hasil konferensi dan penyerahan penghargaan. Secara resmi, KIK ke-34 HISKI ditutup Ketua Panitia KIK-34 Prof. Pratiwi Retnaningdyah, M.Hum., M.A., Ph.D.di Graha Utama, mengakhiri dua hari penuh geliat intelektual dan kultural.
Penyerahan Tuan Rumah dan Penghargaan Komisariat Teraktif
Dalam acara penutupan konferensi, dua pengumuman penting turut menyemarakkan suasana. Pertama, secara resmi dinyatakan bahwa Yogyakarta terpilih sebagai tuan rumah penyelenggara KIK ke-35 HISKI pada tahun 2026. Pengumuman ini disambut antusias oleh perwakilan komisariat HISKI dan akademisi dari Yogyakarta yang hadir.
Kedua, sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi dan kontribusi aktif di tingkat daerah, HISKI Komisariat Malang dianugerahi penghargaan khusus dari HISKI Pusat sebagai Komisariat Teraktif. Penghargaan ini menegaskan komitmen dan konsistensi HISKI Malang dalam mengadvokasi dan memajukan studi kesusastraan di Indonesia, melalui berbagai kegiatan penelitian, diskusi, dan publikasi yang rutin diselenggarakan.
Dengan ditutupnya KIK ke-34 ini, jejak perjalanan pemikiran sastra Indonesia terus bergerak. Dari Surabaya, warisan aktivisme sosial melalui sastra ala Kartini telah ditegaskan. Estafet kini berpindah ke Yogyakarta, dengan harapan dapat terus merawat api semangat yang sama: bahwa sastra bukanlah menara gading, melainkan corong nyaring bagi perjuangan kemanusiaan dan keadilan.
• Suyadi San/Dzaky


