Di Medan Marelan, tepat di Simpang Pertemuan, Jalan Platina Raya, setiap kali langit menumpahkan hujan, rumah-rumah warga seperti kembali diuji kesabarannya. Air meluap, mengalir ke pekarangan, lalu perlahan menyelinap ke dalam rumah. Bau comberan bercampur lumpur menjadi aroma yang akrab di hidung warga. Sesuatu yang mestinya tak terjadi di kota sebesar Medan.
Masalahnya bukan pada hujan. Air hanya mencari jalannya, tapi parit-parit di Marelan tak lagi memberi ruang. Tertutup lumpur, dipenuhi sampah, dan dibiarkan tumpat berbulan-bulan. Warga sudah bosan mengadu, mulai dari kepala lingkungan, lurah, sampai petugas kecamatan. Tapi suara mereka seperti tenggelam di dasar parit, tanpa gema, tanpa jawaban.
Baca Juga: Banjir di Medan: Kutukan yang Diwariskan dari Wali Kota ke Wali Kota
“Sudah sering kami sampaikan, tapi tetap juga banjir. Petugas datang kalau ada perintah, itupun kerja asal,” keluh seorang warga. Ia menunjuk parit hitam di depan tokonya. Airnya nyaris tak bergerak, baunya menusuk. Tepat di atasnya, ada jembatan kecil dari papan yang kini bolong-bolong. Dulu, jembatan itu mereka bangun sendiri. Tapi setelah proyek pengerukan datang, jembatan dibongkar dan dibiarkan begitu saja. Janji perbaikan tinggal janji, sementara warga tiap hari harus waspada agar tak terperosok ke dalam lubang.
Ironisnya, di tempat itu pula berdiri deretan warung makan. Warga sampai harus mengeluarkan uang sendiri untuk menutup lubang-lubang di depan toko agar pembeli tak jijik. Kota yang seharusnya memelihara rakyatnya, justru membiarkan rakyat memelihara luka dari kebijakan yang setengah hati.
Inilah potret ketidakadilan paling nyata di kota ini. Pemerintah bicara penataan drainase di forum-forum besar, tapi di ujung Marelan, yang ada hanyalah parit yang mati dan air yang tak tahu ke mana harus mengalir. Mereka yang tinggal di pusat kota mungkin sibuk dengan proyek trotoar atau taman baru, tapi di Marelan, warga masih sibuk menggali parit dengan cangkul sendiri karena tak percaya lagi ada bantuan yang datang.
Baca Juga: Persoalan Banjir di Medan, Renville P Napitupulu Prediksi 60 Tahun Belum Tentu Bisa Diatasi
Apakah pejabat yang berwenang tak tahu? Rasanya mustahil. Marelan bukan di pelosok hutan. Ia bagian dari Kota Medan yang tiap tahun menghabiskan miliaran rupiah untuk penanganan banjir. Tapi di sini, banjir tak pernah diatasi, hanya dipindah masalahnya. Dari satu parit ke parit lain. Dari satu proyek ke proyek berikutnya.
Dan begitulah, kita menyaksikan kota yang sibuk menulis laporan tentang pembangunan, tapi lupa menulis rasa malu di hati mereka yang memegang kuasa. Sebab, di lubang-lubang kecil itu, sesungguhnya menganga sesuatu yang jauh lebih besar yakni kebobrokan manajemen dan hilangnya rasa tanggung jawab.
Baca Juga: Dewan Respon Banjir Medan: Triliunan Rupiah Mengalir Kota Tetap Tenggelam
Islam mengajarkan bahwa setiap pemimpin adalah pelayan umat, dan setiap pelayan akan ditanya tentang apa yang ia layani. Kalau lubang di Marelan saja tak sanggup mereka tutup, bagaimana mungkin bisa menutup luka sosial yang lebih dalam?
Parit Marelan hanyalah contoh kecil. Tapi darinya kita belajar satu hal besar yaitu ketika pemerintah tak lagi peduli pada yang kecil, sesungguhnya ia sedang menggali lubang kehancuran untuk dirinya sendiri.
Tulisan ini sudag terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum dengan judul: Ketika Parit Jadi Cermin Nurani yang Tersumbat



