Malam itu hujan deras mengguyur Tembung. Jalan yang sudah lama tak tersentuh perbaikan berubah jadi sungai dadakan. Air bercampur sampah meluap ke rumah-rumah warga. Seorang ibu yang baru menidurkan anaknya panik melihat ruang tamunya kemasukan air. Di luar rumah, suara remaja yang tawuran masih saja terdengar, ditambah motor ugal-ugalan yang meneriakkan kata-kata kotor. Hidup terasa dicekam ketakutan.
Warga bertanya-tanya, ke mana wakil rakyat? Ke mana bupati? Bukankah mereka telah menerima gaji, tunjangan, fasilitas rumah dinas, kendaraan dinas, hingga jaminan kesehatan dari uang rakyat? Apa cukup hanya dengan seremoni dan piagam penghargaan, sementara rakyat yang memilih mereka justru harus berjibaku dengan banjir, jalan rusak, sampah menumpuk, hingga tawuran yang makin brutal?
Deliserdang semakin terasa seperti daerah tanpa tuan. Semua persoalan dibiarkan berlarut, seperti perahu yang hilang kemudi. Ironis, ketika bupati bisa bersukacita menerima penghargaan “layak anak”, di saat yang sama anak-anak di Tembung justru menjadi saksi kerusakan lingkungan dan perilaku sosial yang menakutkan. Bupati jangan hanya sibuk menyusun narasi indah di panggung, sementara rakyatnya tenggelam dalam kenyataan pahit.
Di warung kopi, obrolan warga tak lagi sekadar keluhan. Mereka kini mulai marah. “Kalau begini terus, apa gunanya kita punya bupati? Apa gunanya kita punya dewan?” tanya seorang bapak dengan nada getir. Pertanyaan itu mengandung keresahan sekaligus ancaman. Rakyat bisa kehilangan kepercayaan. Dan ketika rakyat kehilangan kepercayaan, legitimasi pemerintahan pun runtuh.
Bupati harus membuka mata. Jangan hanya menunggu laporan staf atau menonton data di atas kertas. Turunlah ke jalan Tembung yang macet parah setiap pagi dan sore hari Rasakan lumpur banjir yang masuk ke rumah rakyat. Dengar jeritan ibu yang anaknya trauma karena atap rumahnya nyaris jebol kena lemparan batu tawuran. Itulah wajah asli Deliserdang hari ini.
Satu hal yang sering terlupakan, rakyat sebenarnya tidak menuntut muluk-muluk. Mereka tidak meminta apartemen mewah, tol baru, atau bandara internasional. Mereka hanya ingin jalan yang bisa dilalui tanpa rusak, air yang mengalir tanpa banjir, lingkungan yang bersih, serta keamanan bagi anak-anak mereka. Apa itu terlalu berat bagi seorang bupati untuk diwujudkan?
Jika penguasa menutup mata dari penderitaan rakyat, maka mereka sedang berjalan menuju kehancuran. Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124).
Kehidupan yang sempit itu kini nyata dirasakan rakyat, bukan karena mereka ingkar, tapi karena pemimpinnya lalai dari amanah.
Bupati, jangan tutup mata. Jika engkau masih punya hati, maka dengarkan rakyatmu. Jika engkau masih punya iman, maka takutlah kepada Allah. Sebab, setiap kebijakan atau kelalaianmu kelak akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.
Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper : https://myedisi.com/mimbarumum



