mimbarumum.co.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terkontraksi sampai minus 4,3 persen pada kuartal II 2020. Proyeksi itu lebih buruk dari realisasi laju perekonomian sebesar 2,97 persen pada kuartal I 2020.
“Kuartal kedua pertumbuhannya kemungkinan kita bisa minus ke 4,3 persen,” ujar Jokowi saat rapat bersama dengan para gubernur di Istana Kepresidenan Bogor, Rabu (15/7/20) lalu.
Sayangnya, kepala negara tidak mengelaborasi lebih lanjut bagaimana proyeksi ini bisa muncul. Namun, ia mengklaim proyeksi itu setidaknya jauh lebih baik dari kontraksi ekonomi yang lebih parah bila Indonesia menerapkan kebijakan penguncian wilayah atau lockdown seperti negara-negara lain di dunia pada kuartal II 2020.
Sebab, proyeksi yang dikantonginya menyatakan ekonomi negara-negara yang menerapkan berpotensi minus sampai dua digit. Proyeksi tersebut berasal dari Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD).
Menurut OECD, laju perekonomian Perancis akan minus 17,2 persen, Inggris minus 15,4 persen, Jerman minus 11,2 persen, dan Amerika Serikat minus 9,7 persen. “Minus semuanya, negara-negara minus, tidak ada yang plus semua,” ujarnya.
Kendati begitu, ekonomi Indonesia tidak akan jatuh sampai separah negara-negara lain karena tidak menerapkan kebijakan lockdown. Indonesia lebih memilih untuk menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengedepankan jaga jarak dengan protokol kesehatan nasional.
“Saya tidak bisa bayangin kalau kita dulu lockdown gitu, mungkin bisa minus 17 (persen),” ungkapnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan ekonomi nasional akan minus 3,8 persen, sehingga perekonomian berada di kisaran minus 1,1 persen sampai 0,4 persen pada semester I 2020.
Sementara lembaga riset internasional, Morgan Stanley memperkirakan ekonomi Indonesia akan turun sampai minus 5 persen pada kuartal II 2020. Lalu, membaik di kuartal III 2020 sekitar minus 1,5 persen dan 0,5 persen pada kuartal IV 2020. (cnni)