JEJAK: Rudolf Puspa, 51 Tahun Mengalir Bersama Teater Keliling

Berita Terkait

USIA tidak menghalangi aktivitas dan kreativitas seseorang. Nah, di usia yang hampir menginjak 80 tahun, Rudolf Puspa masih setia pada panggung. Pria kelahiran Solo, 29 Juni 1947 ini telah menghabiskan lebih dari setengah abad hidupnya untuk teater, menyutradarai 120 cerita dan mementaskannya lebih dari 1750 kali di dalam dan luar negeri. “Saya lebih suka dipanggil Om,” ujar lelaki yang pernah dipanggil Rudy, Mas Rudolf, hingga Eyang Rudolf ini dengan senyum khasnya.

Tahun 2004, penulis pernah bersamanya menjadi pelatih Bengkel Sastra ditaja Pusat Bahasa di Aula PHI (Persaudaraan Haji Indonesia) Medan. Pernah juga menyaksikan pertunjukan kelompok teaternya itu kala manggung di Taman Budaya Sumatra Utara. Apalagi, anggotanya juga ada di Medan, seperti almarhum Dahri Uhum Nasution.

Berbincang kepada penulis via media virtual, Rudolf mengaku, perjalanannya ke dunia teater berawal dari kekecewaan. Saat tiba di Jakarta akhir 1966, ia membaca sejarah teater Indonesia karya Boen Oemarjati dan terusik oleh kisah grup sandiwara Dardanela yang didirikan Willy Klimanoff tahun 1926. “Saya anak Solo yang suka kluyuran. Terpikir olehku, di zaman penjajahan ada grup yang bisa keliling, kenapa di zaman merdeka tidak?” kenangnya.

Tahun 1974, resmilah Teater Keliling berdiri. Awalnya, Rudolf mengaku tidak punya kemampuan memimpin. “Dery yang punya kemampuan lobi dipilih jadi pimpinan,” ujarnya tentang istrinya, Ir Dery Syrna.

Dua momen besar membentuk pilihan hidup Rudolf. Pertama, kesuksesan keliling pertama ke enam kota pada 1-17 Juni 1974 yang memberinya keyakinan untuk terus melangkah. Kedua, wafatnya ibu yang sangat dekat dengannya saat ia baru masuk SMA.

“Ketika pentas pertama di Jakarta tahun 1967, Nashar si pelukis bertanya ‘kamu sudah tidak punya ibu?'” Rudolf mengenang. Pertanyaan itu membawanya pada kesadaran bahwa ia mencari “kasih” ibu. “Ketika aku berangkat keliling pertama, Nashar ucapkan selamat dan ‘itulah ibumu’.”

Filosofi hidup Rudolf sederhana namun mendalam: “Ikhlas. Sabar. Mengalir. Berkarya dari hati dan kasih.” Prinsip inilah yang membantunya menghadapi berbagai hambatan, termasuk ketika tiba di Kalimantan Timur dan Malaysia hanya untuk diterima surat pembatalan. “Segala bisa asal mau,” katanya mengutip naskah Mega Mega karya Arifin C. Noer.

Rudolf Puspo saat melatih karakter finalis Putri Indonesia 2025

Selama 51 tahun, proses kreatif Rudolf terus berubah. Di sepuluh tahun pertama, ia punya kebebasan penuh dalam jadwal latihan. “Pemain siap untuk keliling yang sering tahu berangkat, tapi kapan pulang tidak diketahui,” kenangnya.

Kini, di era generasi milenial, Gen Z, dan Alpha, Rudolf beradaptasi dengan jadwal latihan yang terbatas pada akhir pekan. “Anak sekarang suka dipuji, sehingga aku melatih dengan gaya santai banyak guyon,” ujarnya tentang teknik latihan yang fun namun penuh tantangan.

Yang membanggakan, putri sulungnya, Dolfry Inda Suri, yang lulus cum laude dari Ilmu Politik UNPAD, memilih meninggalkan kariernya untuk memimpin Teater Keliling generasi kedua sejak 2013. “Itulah regenerasi yang datang tiba-tiba,” ujar Rudolf dengan bangga.

Soal impian, Rudolf justru sedang menjalani impian-impiannya. “Karena sikap hidupku adalah mengalir, maka saya tak punya rencana ke depan. Ngalir saja,” katanya mengutip Chairil Anwar, “seniman itu bergerak dan menggerakkan.”

Keseharian dan Kebiasaan Unik

Di luar teater, Rudolf punya kebiasaan unik. Sebagai suami, ia tidak suka diladeni. “Biasa bikin minum teh atau wedang jahe sendiri, cuci piring sendiri,” ujarnya. Yang lebih unik, ia bisa menghentikan aktivitas kreatifnya kapan saja ketika istri meminta bantuan atau cucu mengajak main.

“Senang kehadiranku berguna bagi orang lain, sehingga selalu mendahulukan siapapun yang perlu dibantu,” tuturnya.

Setelah 51 tahun berteater, Rudolf punya pemahaman yang semakin mengerucut tentang makna perjuangannya. “Selagi muda, terbakar semangat membawa misi besar seperti mencerdaskan bangsa. Namun semakin tua, semakin sadar bahwa yang kulakukan adalah mengolah apa yang aku lihat dan dengar, lalu kubawa sebagai bahan berproses dalam karya teater.”

Kenikmatannya terletak dalam proses itu sendiri. “Semakin sering berproses, semakin kuat daya hidup yang menjadi mesiu melepaskan butir-butir peluru tepat pada sasarannya: hati penonton.”

Pengakuan tertinggi datang dari Federasi Teater Indonesia yang menganugerahinya gelar “Abdi Abadi” pada 26 Desember 2016. Gelar yang pertama kali dikeluarkan FTI ini menjadi penegas bahwa pengabdiannya pada teater tidak perlu dipertanyakan lagi.

Dari bayi yang digendong ibunya melintasi rel kereta api di tengah desingan peluru Belanda, hingga sutradara yang karyanya telah menyentuh hati penonton di berbagai belahan dunia, Rudolf Puspa membuktikan bahwa konsistensi pada passion bisa menjadi warisan abadi. Di usianya yang ke-78, ia masih setia pada panggung, masih setia pada proses, dan yang terpenting, masih setia mengalir bersama kehidupan.

Dari Bayi di Atas Rel Kereta ke Panggung Dunia

Ia mengisahkan, rekaman masa kecil nan penuh cerita heroik. “Ibu mendekap bayi kecil tengah malam berjalan melalui rel kereta api tanpa takut dengan desingan peluru serdadu Belanda,” kenangnya. Peristiwa itu, bersama keberanian ayahnya menggendong anjing yang ditakuti, membentuk kepribadiannya – semangat pengabdian dan keberanian berkorban.

Dunia seni sudah mengalir dalam darahnya. Ayahnya adalah pianis dan pemimpin koor gereja, sementara ibunya pemain drama komedi. Masa kecilnya dihabiskan dengan menonton wayang kulit di rumah kakeknya di Delanggu. “Nenek bilang mimpi saya menjadi dalang,” ujarnya. Ramalan itu terbukti ketika di SMA, ia terpilih menjadi sutradara teater sekolah.

Setelah hijrah ke Jakarta akhir 1967, Rudolf belajar secara otodidak kepada para maestro teater Indonesia. Ia menjadi anggota aktif dan asisten sutradara Arifin C. Noer di Teater Ketjil sejak 1968. “Arifin lah yang mendorong hingga sampai pada pemilihan hidup untuk sepenuhnya mengabdi pada teater,” ungkap Rudolf.

Di Balai Budaya, ia belajar dari pelukis Nashar tentang penghayatan dan kepekaan batin. “Nashar mengajarkan pelatihan penghayatan, menempa batin dan rasa untuk menjadi peka karena inilah daya utama bagi penciptaan karya seni,” tuturnya.

Tahun 1974 menjadi titik penting dalam perjalanan kreatif Rudolf. Bersama Dery, Buyung, Paul Pangemanan, dan didukung seniman-seniman seperti Jajang C. Noer dan Willem Patirajawane, ia mendirikan Teater Keliling. Sejak itu, ia aktif sepenuhnya sebagai sutradara kelompok teater yang telah keliling seluruh Indonesia dan berbagai negara termasuk Singapura, Malaysia, Australia, Rumania, Korea, Pakistan, Mesir, dan Jerman.

“Seni bagiku menghaluskan hati,” ujar Rudolf tentang filosofinya. Ia menjauhi protes dengan kekerasan, lebih memilih dialog sebagai cara menyelesaikan masalah. Pilihan inilah yang membawanya kepada teater.

Sejak 1979, Rudolf aktif membina generasi muda. Ia menjadi pelatih teater di berbagai sekolah seperti SMA 11, SMA 3 Teladan, Lab School, dan banyak sekolah lainnya. Dedikasinya pada pendidikan teater anak-anak membuatnya terpilih menjadi ketua persatuan teater anak-anak se-DKI tahun 1992-1995.

Salah satu garapan Teater Keliling besutan Rodolf Puspa alias Bang Rudy.

Keyakinannya sangat kuat bahwa teater adalah kegiatan seni yang memiliki daya pendidikan karakter bangsa. Ia percaya teater dapat menyeimbangkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

Karya dan Penghargaan

Sebagai penulis naskah, Rudolf telah menghasilkan puluhan karya, mulai dari “Jing Jong” (1978), “Ken Arok” (1989), hingga “The Great Rahwana” (2018). Ia juga menulis buku “Sang Pioner” (2012) yang menceritakan perjalanan Teater Keliling selama 38 tahun.

Pengabdiannya di dunia teater diakui melalui berbagai penghargaan, mulai dari Kementerian Kebudayaan Malaysia (1975), MURI (2010), hingga penghargaan dari Dirjen Kebudayaan Kemendikbud (2018). Pada 2016, Federasi Teater Indonesia menganugerahinya gelar “Abdi Abadi”.

Menikah tahun 1979 dengan Ir Dery Syrna, Rudolf dikaruniai dua putri yang kini meneruskan perjuangannya. Yang membanggakan, putri sulungnya, Dolfry Inda Suri, kini memimpin Yayasan Teater Keliling sejak 2013. “Kini hidupnya tetap tidak berubah yakni hidup sepenuhnya untuk berkarya sambil ngemong tiga cucu,” tulisnya.

Di usianya yang ke-78, Rudolf Puspa tetap bersemangat seperti pemuda. Obsesinya untuk memiliki sanggar pementasan tetap menyala, keyakinannya pada kekuatan teater sebagai alat pendidikan tidak pernah pudar. Dari bayi yang diselematkan di atas rel kereta api, ia telah menjelma menjadi sutradara yang menyelamatkan nilai-nilai kemanusiaan melalui teater – bukti bahwa seni memang menghaluskan hati, dan pengabdian sepenuhnya pada cita-cita mampu melampaui batas usia dan zaman.

Dalam diamnya, ia tetap bergerak. Dalam sepuhnya, ia tetap berkarya. Rudolf Puspa adalah bukti hidup bahwa teater bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa yang tak kenal henti.

• Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Mahasiswa USU Gandeng Sasude, Sampah Plastik Diolah Jadi Ecobrick

mimbarumum.co.id — Sampah plastik yang kerap berakhir sebagai limbah diperkenalkan sebagai bahan yang masih bisa dimanfaatkan. Melalui kampanye "Sehari...