Jejak Kos Peneleh: Dari Tjokroaminoto ke Semangat Baru Wisata Budaya Surabaya

Berita Terkait

mimbarumum.go.id – Suasana Gang Peneleh VII nomor 29, Genteng, Surabaya, siang itu tenang namun sarat makna. Di balik tembok putih Rumah Pahlawan Nasional H.O.S. Tjokroaminoto, Bening Ken Bidayah (21), seorang mahasiswa magang, dengan saksama membersihkan etalase yang memamerkan pakaian kebesaran Soekarno. Bagi Bening, ini bukan sekadar tugas magang, melainkan sebuah napak tilas langsung di jantung sejarah pergerakan nasional.

“Setiap hari melewati gang sempit ini, saya membayangkan bagaimana dahulu kawasan ini menjadi tempat ‘anak-anak kos’ yang kelak menjadi founding fathers Republik ini,” ujar Bening, mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah FIK Unesa yang sedang magang di Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Timur, ditemui di lokasi, Minggu (12/10/25).

Rumah H.O.S. Tjokroaminoto ini memang legendaris. Di sinilah Sang Guru Bangsa mendidik para muridnya, yang tidak lain adalah Soekarno, Semaun, Alimin, Kartosuwiryo, dan banyak lainnya. Mereka, para “anak kos di Gang Peneleh” dengan ideologi yang kelak berbeda-beda, disemai pemikirannya dari tempat yang sama.

Salah satu tugas Bening selama magang adalah mendokumentasi dan merawat koleksi museum. Salah satu koleksi andalan yang sedang dia rawat adalah pakaian yang dikenakan Soekarno ketika mondok di rumah Tjokro dan bersekolah di HBS (Hoogere Burger School) Surabaya.

“Ini pakaian yang sangat simbolis,” jelas Bening sambil menunjuk ke dalam etalase. “Bagian kepala menggunakan blangkon Jogja, baju atasnya kemeja arrow putih berbahan goni dengan dasi kupu-kupu, dilengkapi jas modern warna ivory. Untuk bawahannya, beliau menggunakan kain jarik motif parang barong, dan alas kaki selop.”

Menurut Bening, pakaian itu merepresentasikan perpaduan antara nilai-nilai tradisi Jawa yang kental dengan semangat modernitas dan nasionalisme yang sedang tumbuh. “Soekarno muda sudah menunjukkan kesadaran untuk tidak meninggalkan akar budaya, sambil mengadopsi gaya berpakaian Barat yang mewakili kemajuan. Ini cerminan dari pemikiran beliau yang kemudian dikenal luas,” paparnya.

Tidak hanya tentang Soekarno, Bening juga terlibat dalam merawat materi untuk wisata budaya. Materi-materi tersebut banyak mengangkat peran sentral H.O.S. Tjokroaminoto dan Sarekat Islam (SI). Dokumen-dokumen lama yang dia pelajari, seperti laporan Kongres Sarekat Islam di Surabaya pada 26 Januari 1913 dan Kongres di Solo pada 25 Maret 1913, menjadi narasi utama.

“Kongres pertama di Surabaya itu dihadiri oleh 15 cabang SI yang mewakili 80 ribu anggota. Bayangkan, pada tahun 1913, organisasi ini sudah begitu massif,” ujarnya dengan antusias.

“Kongres itu sendiri dihadiri oleh pimpinan SI H. Samanhudi dan utusan dari berbagai daerah, bahkan diawasi ketat oleh pemerintah kolonial Belanda. Ini menunjukkan betapa besar pengaruh Tjokro dan SI saat itu,” imbuhnya.

Dia menambahkan, dalam Kongres Solo, Tjokroaminoto terpilih sebagai Wakil Ketua Central Sarekat Islam. Ekspansi besar-besaran SI ini, seperti tercatat dalam arsip, membuat Gubernur Jenderal Idenburg diam-diam mengerahkan biro intelijennya untuk memantau perkembangan organisasi tersebut.

Aktivitas Bening dan rekan-rekannya di Rumah Tjokroaminoto ini menjadi bagian dari rangkaian wisata budaya yang dikemas Disporapar Jatim, bertepatan dengan penyelenggaraan Konferensi Internasional Kesusastraan (KIK) ke-34 oleh Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI).

“Rumah Tjokroaminoto adalah salah satu ‘living literature’ itu sendiri. Banyak pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan di surat kabar, seperti Oetoesan Hindia, yang lahir dari tempat ini,” jelas Bening.

Dia berharap, para peserta konferensi sastra dari berbagai daerah di Indonesia yang mengunjungi tempat ini dapat melihat langsung bagaimana tradisi literasi dan pergerakan pemikiran melalui media massa telah menjadi senjata ampuh dalam perjuangan bangsa.

“Tjokro adalah jurnalis sekaligus orator ulung. Karyanya tidak hanya berupa tulisan di koran, tetapi juga pidato-pidato yang membangkitkan kesadaran. Ini mungkin sangat relevan dengan tema-tema sastra dan kebudayaan yang dibahas dalam KIK,” tambahnya.

Bagi Bening, pengalaman magang di situs bersejarah ini sangat berharga. Dia tidak hanya menerapkan ilmu sejarah yang dipelajarinya di bangku kuliah, tetapi juga memahami praktik langsung pengelolaan wisata budaya.

“Tantangannya adalah bagaimana membuat narasi sejarah yang ‘hidup’ dan mudah dicerna oleh generasi muda dan wisatawan mancanegara. Kita tidak boleh hanya menyajikan benda mati, tetapi harus bisa menceritakan kisah dan nilai di baliknya, seperti kisah pakaian Soekarno atau dinamika kongres SI itu,” tuturnya.

Dia berpendapat, semangat Gang Peneleh—semangat untuk berdiskusi, berpikir kritis, dan berkontribusi untuk bangsa—harus terus dihidupkan. Dengan diintegrasikannya lokasi ini ke dalam wisata budaya berskala internasional seperti KIK, diharapkan warisan sejarah ini tidak menjadi monumen yang bisu, melainkan inspirasi yang terus bergaung untuk generasi sekarang dan mendatang.

“Di gang kecil inilah Indonesia modern dirintis. Sekarang, tugas kitalah untuk merawat dan menyampaikan kisahnya kepada dunia,” pungkas Bening, sebelum kembali ke tugasnya merapikan koleksi, menghubungkan masa lalu yang gemilang dengan semangat zaman now.

• Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img
spot_img

Berita Pilihan

FJPI Sumut Jajaki Peluang Kolaborasi ke Pemkab Toba untuk Perkuat Kapasitas Profesi Jurnalis

mimbarumum.co.id – Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Sumatera Utara melihat potensi kolaborasi strategis dengan Pemerintah Kabupaten Toba dalam pengembangan...