Jalan Baru di Percut Sei Tuan Cepat Rusak: Proyek Asal-asalan dan Truk Bertonase Besar Jadi Biang Kerok

Berita Terkait

Kebijakan Pemerintah Kabupaten Deliserdang memperbaiki sejumlah jalan, khususnya di kawasan Kecamatan Percut Sei Tuan, tentulah menjadi jawaban bagi warga yang sudah lama menanti jalan mulus. Pasalnya, mereka terlalu lama hidup dengan jalan berdebu saat kemarau dan berubah jadi kolam jebakan di musim hujan. Perjalanan lambat dan kendaraan rusak karena guncangan sudah jadi menu harian. Maka, pengaspalan ini terasa seperti musafir menemukan sumber air di tengah padang pasir.

Namun kenyamanan itu tampaknya tak akan berumur panjang. Potensi jalan mulus kembali rusak sangatlah besar. Ada dua sebab utama. Pertama, kualitas pekerjaan yang patut dipertanyakan. Warga mendapati proyek tanpa papan informasi, tanpa transparansi anggaran, tanpa kejelasan siapa kontraktornya. Padahal undang-undang mewajibkan semua itu dipublikasikan. Jika aturan dasar saja dilanggar, bagaimana rakyat bisa yakin pekerjaan sesuai spesifikasi?

Kedua, jalan dihajar truk-truk bertonase besar yang bebas melintas. Jalan kampung yang sempit dipaksa menanggung beban raksasa. Aspal mana yang bisa bertahan? Akhirnya, jalan yang baru diaspal cepat sekali bopeng. Jalan Sederhana Desa Sambirejo Timur, Jalan Pasar 6 Bandar Klippa, Jalan Beringin Pasar 7 Tembung, hingga Jalan Kapten Batu Sihombing jadi bukti nyata. Warga masih ingat suara alat berat menggiling aspal, tapi belum lama kemudian lubang kembali menganga, menunggu korban.

Kini, badan-badan jalan itu sedang diperbaiki tentunya dengan menggunakan anggaran bernilai rupiah. Maka akan sangat ironis jika proyek miliaran rupiah yang katanya untuk rakyat justru tak pernah memberi umur panjang bagi kenyamanan rakyat. Lebih menyakitkan, tak satu pun aparat hadir mencegah. Tak ada pengawasan, tak ada pembatasan tonase, tak ada petugas yang peduli. Jalan rakyat seolah memang ditakdirkan untuk jadi korban.

Dan rakyat pun hanya bisa menggigit bibir. Uang pajak mereka lenyap di jalan berlubang, sementara derita tak pernah selesai. Jika jalan baru saja sudah hancur, lalu ke mana lagi rakyat harus berharap? Sampai kapan uang rakyat dikorbankan untuk jalan yang hanya sebentar bertahan?

Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum dengan judul Di Deliserdang: Jalan Rusak Sebelum Waktunya

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Dalam Perspektif Islam, Bagaimana Memperlakukan Koruptor? (Bagian Akhir Tulisan bertema RUU Perampasan Aset)

Kita sudah cukup panjang membicarakan korupsi, harta negara, RUU Perampasan Aset dan hukuman bagi koruptor. Sekarang kita tutup dengan...