Pendidikan seyogyanya membuat manusia semakin dekat dengan kebenaran. Semakin tinggi ilmunya, semestinya semakin luas pula pandangannya dan semakin hati-hati dalam menggunakan kata-kata. Namun, kehidupan publik kita sering memperlihatkan pemandangan yang justru berbeda.
Ada orang yang memiliki gelar akademik tinggi, tetapi menggunakan kecerdasannya untuk membenarkan apa saja yang menguntungkan kelompoknya. Fakta dipilih sesuai kepentingan. Argumen disusun bukan untuk menjernihkan persoalan, melainkan untuk memenangkan perdebatan. Ketika pihak sendiri dipertanyakan, segala pembelaan dikerahkan. Ketika lawan melakukan hal serupa, standar penilaiannya berubah.
Lalu, untuk apa ilmu jika kebenaran selalu dikalahkan oleh kepentingan?
Kita melihat gejala semacam ini dalam berbagai polemik politik. Perbedaan pendapat yang semestinya diselesaikan dengan argumentasi justru berubah menjadi pertarungan narasi. Ketentuan hukum ditafsirkan sesuai kebutuhan. Putusan dibaca sepotong-sepotong. Pertanyaan yang seharusnya dijawab dengan fakta malah dibalas dengan serangan kepada orang yang bertanya.
Tentu, membela seseorang bukanlah kesalahan. Setiap orang berhak menyampaikan pendapat dan mempertahankan argumennya. Persoalannya muncul ketika pembelaan membuat seseorang mengabaikan fakta yang tidak menguntungkan pihak yang didukungnya.
Di situlah kecerdasan kehilangan arah.
Orang terpelajar seharusnya mampu membedakan fakta, pendapat, dugaan, dan kesimpulan. Ia tidak boleh mengubah dugaan menjadi kepastian. Ia juga tidak seharusnya menutup mata terhadap fakta hanya karena fakta itu merugikan kelompoknya. Jika bukti menunjukkan bahwa pendapatnya keliru, keberanian mengoreksi diri justru menjadi tanda kedewasaan intelektual.
Sayangnya, dalam politik, mengakui kesalahan sering dianggap sebagai kekalahan. Orang lebih sibuk mencari celah untuk mempertahankan pendapat daripada bersedia mengujinya. Akibatnya, perdebatan tidak lagi menghasilkan pemahaman. Ia hanya memperkeras permusuhan.
Padahal, ilmu bukan alat untuk membuat seseorang selalu tampak benar. Ilmu adalah jalan untuk menguji apakah sesuatu memang benar adanya.
Akhirnya kita dipaksa untuk mengingat bahwa ternyata gelar akademik tidak otomatis menjadikan seseorang itu bermoral. Pendidikan dapat memperluas pengetahuan, tetapi ternyata pendidikan tidak menjadi pilihan bagi orangnya untuk bersikap jujur.
Seseorang bisa memahami aturan dengan sangat baik, tetapi tetap memilih menggunakan pemahamannya untuk mencari pembenaran. Ia bisa pandai berbicara tentang etika, tetapi enggan menerapkannya ketika kepentingannya sendiri dipertaruhkan.
Karena itu, ukuran kecerdasan tidak cukup dilihat dari gelar, jabatan, atau kemampuan berdebat. Ada ukuran lain yang lebih mendasar, yaitu apakah seseorang bersedia berlaku adil ketika berhadapan dengan pihak yang tidak disukainya?
Bagi kita yang meyakini ajaran agama, ilmu juga membawa amanah. Pengetahuan seharusnya menuntun manusia pada kejujuran dan keadilan, bukan menjadikannya semakin lihai menyamarkan kesalahan. Semakin banyak yang diketahui seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menggunakan pengetahuan itu secara benar.
Kawan, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang selalu perlu kita rawat ialah keberanian untuk tetap jujur ketika kepentingan meminta kita berpaling dari kebenaran.


