Curahan Hati Emeria Tresnawati Pane: “Indonesia Telah Dikudeta Para Rahwana”

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Emeria Tresnawati Pane, putri bungsu sastrawan legendaris Sanusi Pane dan cucu dari wartawan Sutan Pangurabaan Pane asal Sipirok, menyuarakan luka mendalam atas bencana banjir dan tanah longsor yang melanda kampung halaman leluhurnya di Tapanuli Selatan. Ungkapan hatinya yang ia beri judul “Kudeta Para Rahwana” bukan sekadar ratapan, tetapi sebuah refleksi getir tentang janji Indonesia yang dianggap telah dikhianati.

Sastrawan yang kerap menggunakan nama pena Nina Pane itu menyampaikan kegundahan hatinya secara tertulis kepada Mimbar Umum Online, Selasa (10/12/2025). Meski tak lahir di tanah Tapanuli yang ia sebut “Swarna Dwipa” (Pulau Emas), Nina menuliskan bagaimana air matanya di rantau ikut mengalir menyaksikan kehancuran kampung halaman Ayah-Ibunya.

“Aku tidak dilahirkan di kampung halaman Ayah Ibuku… tetapi tumpahan air mataku di rantau ini (Jakarta, red) meluap dari hati yang tersayat,” tulisnya dengan gaya sastra yang kental, mewarisi tradisi kepenulisan keluarganya.

Dia mengingatkan bagaimana orang tuanya, Sanusi Pane, beserta saudara dan rekan-rekannya dahulu pergi meninggalkan tanah kelahiran yang subur makmur ke Jawa untuk berjuang membangun Indonesia. “Mereka membawa butiran emas ke pulau buliran padi… bertaruh nyawa, demi menjadi Indonesia yang menjanjikan hari esok gilang gemilang,” tulis keponakan Pahlawan Nasional Lafran Pane ini.

Namun, lanjut ponakan pujangga Armijn Pane ini, janji itu kini terasa hampa. Di tengah musibah yang melanda tanah leluhurnya, Nina menulis kalimat pedas yang menyayat: “Akan tetapi ke mana kemudian Indonesia… di mana Indonesia? Indonesia sudah dikudeta para rahwana.”

Istilah “rahwana” — antagonis dalam epos Ramayana — digunakan sebagai metafora kuat untuk menyebut kekuatan-kekuatan yang dianggap telah merebut Indonesia dari cita-cita awal pendiriannya. Dia merasa Indonesia tidak hadir ketika masyarakat di kampung halamannya menderita, menangisi kehancuran yang menimpa.

“Kami menjadi Indonesia tetapi Indonesia yang dikudeta para rahwana membinasakan kami,” tulisnya penuh kepahitan.

Ungkapan Emeria Tresnawati Pane ini bukan sekadar respons atas bencana alam, tetapi juga kritik sosial yang mendalam tentang absennya negara dalam melindungi warganya, terutama di daerah yang secara historis telah memberi banyak kontribusi bagi pembentukan bangsa. Sebagai bagian dari keluarga besar sastrawan yang ikut membidani kelahiran sastra modern Indonesia melalui Balai Pustaka dan Pujangga Baru, suaranya mengingatkan publik pada fungsi sastra sebagai penyampai kebenaran dan pengingat kolektif.

Dalam kesedihan atas bencana di Tapanuli Selatan, suara Emeria Tresnawati Pane mengajak untuk merenungkan kembali makna keindonesiaan: tidak hanya tentang tanah air yang dijanjikan, tetapi tentang kesediaan negara hadir di saat warganya paling membutuhkan.

Perkembangan terkini, berbekal temuan kayu di sekitar perkampungan dekat Jembatan Garoga-Angoli, Bareskrim Polri resmi menaikkan kasus temuan kayu gelondongan dalam peristiwa banjir di Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatra Utara, ke tahap penyidikan. Penyidik Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) tengah menelusuri kemungkinan adanya tindak pidana di balik bencana tersebut, termasuk dugaan kelalaian hingga keterlibatan korporasi.

“Yang jelas, untuk di TKP Garoga dan Angoli sudah kami naikkan ke proses penyidikan,” kata Direktur Tipidter Bareskrim Polri, Brigjen Mohammad Irhamni, dalam konferensi pers daring, Rabu (10/12/2025).

• Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

BPS dan Bank Dunia Jelaskan Perbedaan Angka Kemiskinan Indonesia, Bukan Berarti Kondisi Makin Miskin

mimbarumum.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Bank Dunia memberikan penjelasan terkait perbedaan angka kemiskinan Indonesia yang menggunakan garis kemiskinan...