mimbarumum.co.id – Cerita rakyat yang hidup di sepanjang Sungai Wampu, Kabupaten Langkat, kini berada di ambang kepunahan. Minimnya dokumentasi dan perubahan gaya hidup masyarakat membuat warisan lisan tersebut kian tergerus zaman.
Kondisi itu mendorong tim peneliti dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan (Unimed) turun langsung ke lapangan untuk melakukan rekonstruksi dan pendokumentasian cerita rakyat secara sistematis.
Dipimpin Dr. Muharrina Harahap, S.S., M.Hum., tim dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Unimed melaksanakan riset di Desa Stabat Lama, Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat pada 9–10 April 2026.
Riset bertajuk “Rekonstruksi dan Internasionalisasi Cerita Rakyat Sungai Wampu melalui Cergam Berbahasa Indonesia” ini melibatkan dosen dan mahasiswa, serta didanai melalui Program Dana Indonesiana.
Selain Muharrina Harahap, tim dosen terdiri dari Heny Anggreini, M.A., Jakaria, S.S., M.A., Ita Khairani, S.Pd., M.Hum., dan Anggia Putri, S.Pd., M.Pd. Sementara mahasiswa yang terlibat antara lain Nila Angita Nasution, M. Sholeh Sihombing, Tri Widya Andini, Naina Ikhdina Hapiz, Muhammad Rajali, dan Kayla Anindya Nasution.
Dalam pelaksanaannya, tim melakukan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, budayawan lokal, akademisi, serta warga yang diyakini masih menyimpan ingatan kolektif tentang cerita rakyat Sungai Wampu.
Riset tidak hanya dilakukan di Desa Stabat Lama, tetapi juga menjangkau Desa Mancang dan Desa Perhiasan sebagai bagian dari wilayah yang memiliki keterkaitan historis dengan aliran Sungai Wampu.
Ketua tim peneliti, Dr. Muharrina Harahap, menjelaskan bahwa cerita rakyat tidak sekadar kisah masa lalu, melainkan mengandung nilai historis, kultural, dan spiritual yang penting bagi identitas masyarakat.
Namun, tanpa upaya dokumentasi yang serius, cerita-cerita tersebut berpotensi hilang dalam satu generasi.
“Cerita rakyat ini bukan hanya warisan budaya, tapi juga bagian dari identitas lokal. Jika tidak direkonstruksi dan didokumentasikan, kita akan kehilangan jejak sejarah yang berharga,” ungkapnya.
Sebagai bentuk inovasi, hasil riset ini nantinya akan dikemas dalam bentuk cerita bergambar (cergam) berbahasa Indonesia yang komunikatif, sehingga lebih mudah diakses generasi muda dan dapat dikembangkan ke platform digital.
Langkah ini juga diarahkan untuk membuka peluang internasionalisasi cerita rakyat sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia.
Riset lapangan tersebut mendapat sambutan positif dari Pemerintah Desa Stabat Lama. Kepala Desa Muhammad Rasyid menyatakan dukungannya terhadap upaya pelestarian budaya lokal yang dinilai penting bagi generasi mendatang.
Dukungan serupa juga datang dari jajaran PKK Kabupaten Langkat dan Kecamatan Wampu, perangkat desa, kepala dusun, hingga masyarakat setempat yang terlibat aktif selama proses penelitian.
Antusiasme warga menjadi faktor penting dalam kelancaran riset, sekaligus menunjukkan bahwa kesadaran terhadap pentingnya pelestarian budaya masih hidup di tengah masyarakat.
Melalui riset ini, tim peneliti berharap cerita rakyat Sungai Wampu tidak hanya terselamatkan, tetapi juga mampu menjadi bagian dari kekuatan literasi budaya Indonesia di tingkat global.
Reporter: Ngatirin/rel


