mimbarumum.co.id – Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas (PR-BSK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Webinar Berseri ke-83, Kamis (23/7/2026), bertema “Lanskap Linguistik: Refleksi Identitas Budaya dan Kearifan Lokal”. Webinar ini menghadirkan tiga narasumber ahli yang membedah bagaimana bahasa di ruang publik tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi cerminan identitas budaya serta nilai-nilai kearifan lokal masyarakat.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Dr. Herry Jogaswara, M.A., dalam sambutannya menekankan pentingnya kajian lanskap linguistik untuk memahami dinamika sosial sekaligus memperkuat identitas nasional. “Bahasa di ruang publik adalah cermin peradaban. Melalui tanda, simbol, hingga bunyi, kita bisa membaca sejarah, harmoni, bahkan strategi ekonomi suatu masyarakat,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN, Ade Mulyanah, S.Pd., M.Hum., menyatakan bahwa lanskap linguistik kini berkembang melampaui teks visual, mencakup soundscape dan landscape budaya. “Kajian ini penting untuk merawat keberagaman dan kearifan lokal di tengah arus globalisasi dan digitalisasi,” tambahnya.
Memperluas Batas Lanskap Linguistik
Webinar menghadirkan tiga narasumber dengan pendekatan berbeda. Dr. Dany Ardhian, S.Pd., M.Hum. (Universitas Brawijaya) memaparkan kajian di Kota Pusaka Lasem, Rembang. Temuannya menunjukkan bahwa bahasa Indonesia, Arab, dan Hanzi hadir berdampingan di ruang keagamaan dan situs heritage .
“Di Lasem, bahasa dikomodifikasi menjadi daya tarik wisata. Tanggal sejarah seperti 1818 dan 1921 menjadi penanda autentisitas yang bernilai ekonomi,” jelasnya. Penelitiannya mengungkap fenomena dark heritage di Lawang Ombo, yang mengubah situs penyelundupan opium menjadi destinasi wisata edukasi.
Sementara itu, Dr. Angga Eka Karina, M.Sn. (Ketua Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh) memperkenalkan konsep perluasan lanskap linguistik melalui bunyi. Ia menjelaskan bahwa musik tradisional Rapai di Aceh bukan sekadar estetika, melainkan bahasa budaya yang menyimpan memori kolektif dan identitas komunitas.
“Rapai berbicara melalui ritme, menyampaikan rasa syukur, kohesi sosial, hingga nilai-nilai kearifan lokal,” paparnya. Ia juga menyoroti transformasi tradisi ke platform digital seperti Reels dan TikTok yang membawa tantangan berupa hilangnya konteks dan penyederhanaan makna.
Narasumber ketiga, Dr. Suyadi, S.Pd., M.Si. (peneliti PR-BSK BRIN), memaparkan hasil Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan (KOPK) Dana Indonesiana di Natuna yang menyusuri lanskap sastra di ujung negeri. Hasil ekspedisi menunjukkan bahwa sastra lokal seperti lagu Endang-Endang, mantra laut, dan teater Mendu merupakan “perpustakaan raksasa” yang terbentang di atas samudra .
“Natuna bukan pinggiran, melainkan pusat persimpangan peradaban. Sastra adalah instrumen diplomasi budaya yang menjaga kedaulatan,” tegasnya.
Menjaga Otentisitas di Era Digital
Diskusi dalam webinar menyoroti bahwa lanskap linguistik di era digital menjadi arena negosiasi antara pelestarian dan komodifikasi. Digitalisasi dinilai memiliki dua sisi: di satu sisi memperluas akses dan promosi budaya, di sisi lain berisiko menggerus makna otentik jika tidak dikelola dengan bijak.
Teknologi AI dapat membantu dokumentasi dan klasifikasi, namun pengetahuan budaya tetap membutuhkan peran komunitas, seniman, dan peneliti sebagai penjaga makna sesungguhnya.
Para narasumber sepakat, lanskap linguistik adalah instrumen strategis untuk memperkuat identitas nasional dan diplomasi budaya di tengah tantangan globalisasi. Penelitian lebih lanjut, kolaborasi lintas disiplin, serta kebijakan bahasa yang inklusif dan berkelanjutan sangat diperlukan untuk menjaga warisan budaya Indonesia.
Webinar yang berlangsung secara bauran dari Gedung Widya Graha Lantai 7, Jakarta, ini dihadiri para peneliti, akademisi, dan pegiat budaya secara daring dan luring. Diskusi dimoderatori Siti Djuwarijah dan pewara Endro Nugraha Wasono Aji, keduanya peneliti PR-BSK BRIN.
• Suyadi San


