mimbarumum.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas pada Organisasi Riset (OR) Arkeologi, Bahasa, dan Sastra sukses menggelar kegiatan sosialisasi dan pelatihan bertajuk “CULTURA: Community, Language, and Literature for Risk Awareness”. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom Meeting, Rabu, (7/10/2026), ini mengangkat tema “Tips dan Trik Lolos Pendanaan Eksternal” sebagai bentuk mitigasi risiko Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas.
Acara ini menghadirkan tiga narasumber kompeten di bidangnya, yaitu Dr. Fairul Zabadi, Dr. Ade Mulyanah, dan Dr. Suyadi. Ketiga pemateri merupakan periset dari Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas, BRIN. Kegiatan ini diikuti para peneliti, akademisi, guru, serta perwakilan komunitas budaya dari berbagai daerah di Indonesia yang antusias mengikuti sesi diskusi interaktif tersebut.
Dalam paparannya, Dr. Suyadi menyampaikan materi mengenai strategi penulisan proposal kompetitif dengan studi kasus KOPK-CB Dana Indonesiana. Ia menjelaskan, program KOPK-CB merupakan bagian dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan yang bersumber dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program ini bertujuan mendukung pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) serta Cagar Budaya (CB) melalui kajian ilmiah yang akuntabel.
Suyadi menekankan pentingnya memahami kriteria penerima manfaat, yang meliputi perseorangan, kelompok/komunitas, hingga lembaga kebudayaan berbadan hukum. Ia juga memaparkan 11 indikator afirmasi yang harus ditonjolkan dalam proposal, seperti keterlibatan daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), inklusivitas, keberagaman, serta dukungan dari pemerintah daerah. “Tonjolkan satu atau lebih poin afirmasi ini dalam proposal Anda agar memiliki nilai tambah di mata reviewer,” pesannya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, proposal yang baik harus memenuhi kriteria “feasible” dan “novel”. Proposal harus mampu menjawab urgensi, memiliki dampak yang jelas, menawarkan kebaruan (novelty), serta memiliki strategi keberlanjutan setelah dana habis. “Jangan hanya mendeskripsikan, tetapi kaitkan dengan diplomasi kebahasaan atau pemertahanan sastra lokal,” ujar Suyadi yang juga memaparkan contoh proposal sukses di KOPK Natuna.
Sementara itu, Dr. Ade Mulyanah menyampaikan materi mengenai Sosialisasi PRIS (Program Riset Inovasi Strategis) dan PRIMA (Program Riset Kebijakan Pembangunan Merah Putih). Ia menjelaskan, PRIS dirancang untuk memberikan pendanaan riset dan inovasi dengan tema tertentu sesuai isu strategis nasional, guna memunculkan perubahan transformatif berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ade merinci, PRIS memiliki 8 tema utama, meliputi Ketahanan Pangan, Kesehatan, Energi, Air, Kebencanaan, Ekonomi Kreatif, Pertahanan, dan Frontier Science. Sementara itu, PRIMA merupakan kolaborasi BRIN dan LPDP yang diresmikan pada 10 Agustus 2026 dengan pendanaan awal mencapai Rp100 miliar. PRIMA berfokus pada kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) dengan 17 tema kebijakan lintas sektoral.
Dalam sesi tersebut, ia juga menjelaskan mengenai skema pendanaan dan ketentuan pengusulan proposal. Setiap periset dapat mengusulkan lebih dari satu proposal dengan ketentuan sebagai ketua peneliti pada satu judul dan anggota pada judul lainnya. “Pastikan Anda tidak sedang menerima dana untuk komponen yang sama dari pihak lain,” tegasnya mengingatkan.
Dr. Fairul Zabadi, yang tampil sebagai pemateri ketiga, membagikan pengalaman praktisnya dalam menyusun proposal dari ide hingga mendapatkan Surat Keputusan (SK) pendanaan. Ia menyoroti pentingnya memahami cara berpikir reviewer atau penilai proposal. “Jangan menulis proposal berdasarkan apa yang ingin Anda teliti, tetapi tulislah berdasarkan apa yang ingin dinilai reviewer,” ujarnya memberikan kiat penting.
Mantan Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara itu mengungkapkan lima pertanyaan utama yang selalu diajukan pereviu, yaitu relevansi, kebaruan, konsistensi logika, kelayakan, dan luaran/dampak. Ia menekankan, proposal harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara eksplisit. “Gunakan kata kerja yang menunjukkan hasil, bukan aktivitas. Misalnya, jangan hanya menulis ‘akan melakukan observasi’, tetapi tulislah ‘menghasilkan peta praktik pembelajaran’,” jelasnya.
Ia juga memaparkan empat tuas untuk mengubah tema menjadi posisi riset yang kompetitif. Tuas pertama, mengubah kata kerja dari “mendokumentasikan” menjadi “merekonstruksi” atau “mengembangkan”. Tuas kedua, mengangkat isu dari sekadar tema budaya menjadi ketahanan budaya dan identitas kebangsaan. “Riset harus berkontribusi pada agenda negara, bukan hanya pada minat akademik peneliti,” tegas Fairul.
Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung dinamis, para peserta aktif bertanya mengenai teknis penulisan anggaran, pemilihan jurnal target, hingga strategi menghadapi pereviu yang kritis. Narasumber menekankan pentingnya menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang wajar, proporsional, dan mendukung tujuan riset. “Anggaran harus masuk akal, dapat ditelusuri, dan setiap posnya terhubung dengan luaran yang dijanjikan,” pungkas Fairul.
Kegiatan yang dimoderatori Tri Wahyuni, M.Hum. ini ditutup dengan pesan optimisme bagi para peserta. Para narasumber berharap agar semakin banyak peneliti dan komunitas budaya di Indonesia yang berhasil mendapatkan pendanaan eksternal, baik dari BRIN, LPDP, maupun Dana Indonesiana. “Proposal yang ditolak hari ini adalah draf terbaik untuk batch berikutnya. Teruslah belajar dan berkolaborasi,” tutup Fairul Zabadi memberikan semangat.
• Suyadi San


