mimbarumum.co.id — Badan Eksekutif Mahasiswa Kristiani Seluruh Indonesia (BEM KSI) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Menjadi Mahasiswa Paham Digital dan Siap Hadapi Transformasi AI” pada Senin (4/8), di Wisma Kementerian Agama, Jakarta.
Kegiatan ini digelar sebagai respons terhadap dampak revolusi kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi yang mengubah lanskap pendidikan, budaya, dan kehidupan sosial. Seminar bertujuan membekali mahasiswa dengan pemahaman serta kesiapan dalam menghadapi perubahan tersebut secara kritis dan konstruktif.
Koordinator Pusat BEM KSI, Charles Gilbert, membuka acara dan menyampaikan pentingnya kesiapan mahasiswa menghadapi era digital, bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi mental, etika, dan intelektual.
“Kita tidak bisa hanya menjadi penonton dalam arus besar teknologi ini. Mahasiswa harus menjadi subjek aktif, memanfaatkan kecerdasan buatan untuk kemanusiaan, keadilan sosial, dan pelestarian budaya,” ujar Charles dalam sambutannya.
Charles juga menegaskan komitmen BEM KSI untuk terus mendorong mahasiswa Kristiani agar terlibat aktif dalam isu-isu strategis nasional. Ia menekankan bahwa transformasi digital harus tetap berpihak pada nilai-nilai inklusi, pluralisme, dan etika kemanusiaan.
Seminar menghadirkan dua narasumber muda yang merupakan tokoh mahasiswa nasional. Ketua Umum PB Ikatan Mahasiswa Sumatera Utara (IMSU), Lingga Pangayumi Nasution, membawakan materi berjudul “Mahasiswa dan Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Mempromosikan Budaya”.
Dalam paparannya, Lingga mengajak mahasiswa memanfaatkan teknologi untuk mendokumentasikan bahasa lokal, seni tradisional, dan peninggalan sejarah.
“Budaya tidak boleh menjadi korban modernitas. Dengan AI, kita bisa melestarikan warisan leluhur secara lebih canggih dan mudah diakses,” katanya.
Sementara itu, Emon Wirawan Harefa dari Pengurus Pusat BEM KSI, membawakan topik “Peran Mahasiswa sebagai Agen Transformasi Digital di Tengah Revolusi AI”.
Ia menyoroti pentingnya peran mahasiswa sebagai penjaga nilai-nilai keadilan sosial dalam menghadapi kemajuan teknologi.
“Transformasi digital tidak boleh hanya menguntungkan segelintir pihak. Mahasiswa harus menjadi penyeimbang, menghadirkan ruang digital yang adil dan membangun,” ujarnya.
BEM KSI menegaskan bahwa isu teknologi adalah bagian integral dari perjuangan mahasiswa Kristiani dalam menjawab tantangan zaman. Teknologi dinilai harus menjadi alat untuk memperkuat solidaritas sosial dan pelestarian budaya.
“Transformasi digital adalah keniscayaan. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita bersikap. BEM KSI mendorong mahasiswa Kristiani menjadi pelopor etika digital, pelindung budaya, dan agen transformasi sosial yang inklusif,” tutup Charles.
Seminar ini mendapat sambutan positif dari peserta yang berharap kegiatan serupa terus diadakan secara berkala sebagai bagian dari kontribusi mahasiswa terhadap perkembangan zaman.
Reporter : R/ Ngatirin


