mimbarumum.co.id — Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang meningkat sejak Jumat (4/9) malam mulai dirasakan luas hingga ke wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (6/9/2026) pagi. Hujan abu vulkanik tipis menyelimuti kawasan Cibinong dan sekitarnya, memaksa warga membersihkan dinding rumah, pekarangan, hingga lorong-lorong perumahan dan kawasan Rusunawa BRIN Cibinong.
Lapisan debu halus berwarna abu-abu terlihat menempel di teras, kendaraan bermotor, serta fasilitas umum di wilayah Karadenan dan sekitarnya. “Dari semalam tiba-tiba kok mata perih. Teras lantai berasa kayak ada debu. Pas disapu beneran debu dan tebal. Jok motor pas dicolek juga berdebu,” keluh Nurhayat, seorang warga Karadenan, Cibinong.
Endapan abu juga tampak jelas di area Rusunawa BRIN Cibinong, menyelimuti halaman, lorong dalam bangunan, hingga celah-celah dinding, dengan sejumlah warga sibuk menyapu dan membersihkan abu yang masuk ke bagian dalam unit Rusun.
Dampak kesehatan pun mulai dilaporkan dari berbagai daerah. Seorang warga Bogor, Bapak Yasin, mengaku matanya kemasukan abu vulkanik yang sangat halus hingga menyebabkan pusing. “Bogor kena hujan abu juga. Mataku kemasukan abu yang sangat halus, pala jadi pusing,” ujarnya.
Keluhan serupa datang dari Bandarlampung, Lampung, di mana Rovenaldo melaporkan bahwa rumah sakit setempat lumayan banyak diisi pasien anak-anak yang terkena batuk, pilek, dan demam. “Mohon doanya Ibu Bapak, kami di Bandarlampung tidak baik-baik saja. Hujan abu vulkanik,” tulisnya dalam pesan yang beredar.
Kondisi ini mengonfirmasi bahwa sebaran abu tidak hanya menjangkau Jawa Barat, tetapi juga Sumatra bagian selatan, sejalan dengan arah angin yang membawa partikel vulkanik.
Sementara itu, dari Banten, seorang warga bernama Ramadan melaporkan kondisi di Serang dengan nada mencemaskan. “Di rumah kawan di Serang… Serang benar-benar diserang,” tulisnya, menggambarkan intensitas hujan abu yang cukup tebal di wilayah tersebut.
Laporan-laporan ini memperkuat kesimpulan bahwa cakupan sebaran abu vulkanik dari erupsi GAK sangat luas, mencakup sebagian besar wilayah barat Pulau Jawa dan selatan Sumatra.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa sebaran abu vulkanik dari erupsi GAK mencapai wilayah Bogor berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9. Abu pada ketinggian permukaan hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut-tenggara, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat termasuk Kabupaten Bogor. Data ini sejalan dengan laporan warga dari berbagai titik yang merasakan langsung dampak hujan abu.
Upaya Penanganan dan Imbauan Resmi
Menanggapi kondisi darurat ini, Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan langsung melakukan penyemprotan air secara serentak di 11 wilayah, termasuk Cibinong di sepanjang kawasan Tegar Beriman dan Pakansari, untuk mengurangi partikel debu di udara.
Kepala Dinas Damkar Kabupaten Bogor, Yudi Santosa, menyatakan bahwa penyemprotan diprioritaskan di jalan utama, kawasan pasar, dan pusat pemerintahan yang memiliki aktivitas tinggi. Pemkab Bogor juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, mengurangi aktivitas di luar rumah, serta membersihkan endapan abu secara hati-hati agar partikel tidak kembali beterbangan.
Tak ketinggalan, media lokal depok24jam menerbitkan Surat Imbauan bernomor 001/D24J/IX/2026 pada Ahad (6/9/2026) yang ditujukan kepada seluruh masyarakat Kota Depok. Dalam imbauan tersebut, warga diminta untuk menggunakan masker saat berada di luar rumah, menutup pintu, jendela, dan ventilasi untuk mengurangi abu masuk ke rumah, serta membersihkan abu dengan cara basah dan menghindari menyapu kering agar abu tidak kembali beterbangan.
Warga juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak, dengan pengendara motor agar lebih berhati-hati karena abu dapat mengurangi jarak pandang dan membuat jalan licin. Selain itu, masyarakat diminta menggunakan kacamata pelindung demi mencegah iritasi mata, tidak mengucek mata jika terkena abu melainkan membilas dengan air bersih, dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas, iritasi mata berat, atau keluhan kesehatan lainnya.
Tim BRIN Pantau Potensi Tsunami, Hasilkan Kabar Baik
Di tengah kepanikan publik akibat dentuman keras dan getaran yang terasa hingga Banten dan Jawa Barat, tim pemantau dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Selat Sunda menyampaikan kabar melegakan. Dalam laporan tertanggal 5 September 2026 pukul 20.00 yang ditujukan kepada pimpinan BRIN, penanggung jawab sistem monitoring IDSL/PUMMA di Rakata (Kompleks GAK) menegaskan, data IDSL/PUMMA tidak menunjukkan anomali muka air yang berpotensi menimbulkan bencana tambahan seperti tsunami.
Dentuman yang terdengar di langit Banten dan Jawa Barat yang mungkin bersumber dari ledakan atau aktivitas GAK, sejauh ini tidak cukup kuat untuk mengganggu muka air sehingga tidak terjadi potensi atmospheric-tsunami.
Tim juga mengingatkan, IDSL/PUMMA pernah mendeteksi atmospheric-tsunami Hunga Tonga 2022 di Indonesia karena ledakan gunung api di Selatan Pasifik tersebut sangat besar, dengan seluruh data dan peringatan tsunami tersampaikan ke BMKG.
IDSL/PUMMA di Rakata adalah satu-satunya sistem monitoring volcano-tsunami di Selat Sunda, sehingga tim memohon dukungan terkait keberadaan dan operasional sistem ini. Akurasi sistem ini telah teruji melalui pengalaman mendeteksi peristiwa besar di masa lalu, sehingga masyarakat diharapkan tidak perlu panik berlebihan terkait ancaman tsunami.
Hingga berita ini diturunkan, status Gunung Anak Krakatau masih berada di Level III (Siaga) dengan erupsi tercatat masih terjadi meski intensitasnya mulai menurun. Masyarakat di seluruh wilayah terdampak diimbau untuk tetap tenang, tidak terprovokasi hoaks, dan selalu merujuk pada informasi resmi dari BMKG dan PVMBG.
Warga yang mengalami gejala gangguan pernapasan atau iritasi mata disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Mari kita tetap tenang, saling peduli, dan bersama-sama menjaga kesehatan dengan terus memantau informasi resmi dari pihak berwenang.
• Suyadi San


