mimbarumum.co.id – Direktur Eksekutif Centre of Study Plantation and Culture Indonesia (CeSPLAC Indonesia) Dr. Orchad Christian Perangin-angin, SH, M.Kn. CLA, CCD mengatakan, pernyataan Presiden Prabowo terkait kelapa sawit harus dilihat atau dipandang secara Komfrehenship, mendalam dan tidak sepotong-sepotong.
Presiden Prabowo Subianto pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional ( Musrenbang) 30 Desember di Jakarta menyatakan bahwa kelapa sawit adalah aset negara yang harus dijaga keberadaannya.
Pernyataan Presiden Prabowo tersebut memantik polemik pro dan kontra.Sebagian orang mengklaim bahwa pernyataan tersebut sebagai yang kontra produktif sebab kelapa sawit telah menghilangkan ratusan bahkan ribuan hektar hutan dalam setiap tahunnya selama dua dekade terakhir.
Bahkan sebagian ahli menyebut deforestasi sudah semakin meningkat lagi pada tahun 2023 ketika sekitar 30 ribu hektar hutan hilang akibat ekspansi tanaman sawit.
Pandangan para ahli yang tak sepakat dengan pernyataan Prabowo tersebut berpotensi dan dapat mengakibatkan konflik karena dikhawatirkan dimanfaatkan oleh pihak- pihak lain (swasta) untuk kepentingan pribadi.
Sementara di sisi lain ada pandangan yang mendukung pernyataan presiden tersebut merupakan pernyataan fenemonal sebagai tindakan yang berani demi keselamatan bangsa. Pada kesempatan tersebut Prabowo juga menyinggung Eropa yang mau membatasi produk kelapa sawit Indonesia dengan adanya European Union Deforestatition Regulation (EUDR).
Sebagian kalangan yang mendukung menyebutkan bahwa perkebunan kelapa sawit memberi sumbangan signifikan terhadap pemasukan negara dan juga memiliki manfaat dalam upaya memastikan swasembada pangan dan swasembada energi Indonesia khususnya dalam pengembangan industri B-40 dan B-50 ke depan.
Dari kedua pandangan yang berbeda dan bertolak belakang itu Christian berpendapat seluruh komponen bangsa harus kembali kepada nilai yang terkandung dalam pernyataan yang disampaikan presiden itu.
Maka, imbuh Christian, hermeneutika sebagai salah satu ilmu yang menafsirkan kata dipandang sebagai solusi menjadi solusi dalam menyelesaikan pro dan kontra tersebut.
Menurutnya, pernyataan tersebut lebih kepada membangkitkan kedaulatan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar yang selama ini selalu dikuasai dan dijajah oleh kekuatan ekonomi global.
Dia menambahkan, pernyataan Prabowo bukan sebagai suatu variable independent, namun suatu pernyataan yang secara hermeneutika diartikan sebagai seruan untuk bangkit serta menjadikan sawit menjadi komoditi strategis bangsa yang harus dilindungi untuk mencapai kemandirian pangan dan kemandirian energi.
Arahan Prabowo kepada para gubernur,bupati,pejabat TNI/ Polri yang menyatakan menjadi kewajiban untuk menjaga kebun-kebun kelapa sawit sebagai aset negara yang sangat berharga harus dipandang secara komprehensif sebagai sebuah seruan yang bersifat strategis dan perlu dielaborasi dalam implementasi.
Presiden tentu saja berharap pernyataannya tersebut dapat diterjemahkan dalam bahasa- bahasa teknis yang tidak mengenyampingkan prinsip prinsip keadilan yang dapat merugikan rakyat Indonesia.
Dia mengimbau agar para ahli sebaiknya memfokuskan untuk berfikir dengan perspektif positif dan memberi solusi yang konstruktif ketimbang terjebak dengan perdebatan pro dan kontra yang cenderung tidak memiliki value.Christian menambahkan bahwa pernyataan presiden tersebut harus diimplementasikan secara konkret untuk melindungi bisnis kelapa sawit yang pro rakyat dalam bentuk regulasi perlindungan kelapa sawit.
“Peremajaan sawit rakyat juga harus ditingkatkan secara masif sehingga harapan harapan Prabowo terhadap efek industri kelapa sawit dapat menjadi kenyataan yang tentu saja muaranya memberikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Salut kepada Prabowo yang mengembalikan marwah bangsa Indonesia selama ini menurut saya dalam penjajahan ekonomi kapitalis,” tegas Christian.
Reporter : Jalaluddin


