Sei Rampah Mimbar – Petani di Desa Sei Belutu Kecamatan Sei Bamban, Kabupaten Serdang Bedagai gigit jari. Keinginan mereka meningkatkan produksi pertaniannya hanyalah impian karena bangunan irigasi yang baru selesai dikerjakan sudah jebol. Padahal, mereka belum sempat merasakan manfaatnya.
Kondisi itu menyebabkan sekitar 750 hektar sawah penduduk masih belum bisa difungsikan secara maksimal. Sudah dua kali masa tanam (MT), lahan persawahan itu tidak bisa dikelola karena jika musim hujan sawah mereka terendam banjir. Petani di sana berharap pemerintah memperbaiki saluran irigasi skunder yang sangat dibutuhkan itu.
Ketua Gabungan Pekerjaan Petani Pemakai Air (GP3 A) Sei Martebing Lamhot Tampubolon kepada Mimbar, baru-baru ini mengatakan bangunan irigasi yang ada di daerahnya itu kondisinya amburadul sehingga keberadaannya tidak bisa dimanfaatkan oleh para petani.
“Kalau saya mengatakan, proyek ini adalah proyek gagal karena membuat saluran tapi tidak punya saluran langsung ke persawahan asyarakat,”
ucap Tampubolon. Dia menyebut proyek irigasi itu dibangun perusahaan PT. WK yang berkantor di Medan. pembangunan irigasi itu meliputi dua intek, yakni intek Sei Belutu dan intek Seungai Sibaro.
Namun sangat disayangkan dalam pelaksanaan pekerjaan, disinyalir dikerjakan asal jadi dan tidak bermutu sehingga saluran irigasi yang seharusnya dapat mengalirkan air ke Dam induk tetapi kenyataannya belum lagi difungsikan sudah jebol sehingga membuat areal persawahan petani kebanjiran.
“Bukan itu saja, pembuatan mulut saluran irigasi yang seharusnya bisa menampung air dan mengalirkan air ke hilir ,tetapi dibangun tidak pada tempatnya sehingga air tidak masuk ke mulut saluran sehingga membuat banjir persawahan petani,” paparnya.
Dia bersama petani lainnya mengharapkan Balai Wilayah Sungai 9BWS) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Sumatera Utara serta pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai segera melakukan upaya agar lahan persawahan mereka dapat segera dikelola untuk menanam padi.
Disebut, tak berfungsinya saluran irigasi itu tidak hanya berdampak buruk bagi lahan persawahan di Desa Sei Belutu tetapi juga berimbas hingga ke tiga desa lainnya, yakni Desa Bakaranbatu, Desa Paya Bagas dan Desa Sukadamai.
Pantauan Mimbar, Jumat (13/4) proytek yang diduga bersumber dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tajhun 2016/2017 dengan alokasi anggaran senilai lebih kurang Rp150 miliar itu, kondisinya memprihatinkan. Banyak bagian bangunan saluran irigasi, khususnya pada bagian dindingnya runtuh. Sementara Dam yang dibangun di tanggul pemasukan air terlihat jebol. (EG/HT).


