mimbarumum.co.id – Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumut) bersiap melakukan transformasi kelembagaan menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Dalam pengembangan tersebut, empat program studi baru juga tengah dipersiapkan dan ditargetkan dapat segera direalisasikan pada 2027.
Empat program studi yang diusulkan yakni Hubungan Internasional, Administrasi Negara, Ilmu Politik, dan Manajemen Bencana.
Rencana pengembangan tersebut disampaikan Dekan FIS UIN Sumut, Prof. Dr. Mesiono, M.Pd., dalam pertemuan bersama ratusan dosen tetap dan tidak tetap di lingkungan FIS UIN Sumut, Kamis pekan ini.
“Proposal untuk pembukaan program studi tersebut sudah siap. Tinggal menunggu kesiapan dosennya,” kata Mesiono.
Ia berharap rencana pengembangan tersebut dapat segera terealisasi pada 2027. Menurutnya, perubahan FIS menjadi FISIP merupakan bagian dari upaya memperluas cakupan keilmuan sekaligus memperkuat kontribusi UIN Sumut dalam merespons berbagai persoalan masyarakat.
Selama ini, FIS UIN Sumut telah memiliki sejumlah program studi sebagai basis pengembangan ilmu sosial. Di antaranya Ilmu Komunikasi, Ilmu Perpustakaan, Sosiologi Agama, serta Sejarah dan Peradaban Islam.
Dengan tambahan empat program studi baru, FISIP UIN Sumut nantinya diharapkan memiliki ruang pengembangan keilmuan yang lebih luas, mulai dari persoalan sosial dan politik, pemerintahan, hubungan internasional hingga kebencanaan.
Mesiono menegaskan, pengembangan fakultas tidak hanya menyangkut perubahan nama dan pembukaan program studi. Kesiapan sumber daya manusia, terutama dosen, menjadi bagian penting dalam rencana besar tersebut.
Dosen Diminta Kuasai AI
Dalam pertemuan itu, Mesiono juga mengingatkan para dosen untuk terus meningkatkan kompetensi di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Salah satu kemampuan yang menurutnya perlu dikuasai adalah artificial intelligence atau AI. Ia meminta para dosen tidak tertinggal dibandingkan mahasiswa dalam mengikuti perkembangan teknologi digital.
Menurut Mesiono, penguasaan AI kini bukan lagi sekadar pilihan. Teknologi tersebut telah menjadi bagian penting dalam perkembangan pendidikan tinggi dan dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran, pengembangan materi kuliah, penelitian, hingga berbagai aktivitas akademik lainnya.
Namun demikian, ia menegaskan teknologi tidak dapat menggantikan sepenuhnya peran dosen.
AI, menurutnya, harus ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat proses pendidikan. Dosen tetap memiliki peran strategis dalam memberikan arah, membangun nalar kritis serta membimbing mahasiswa agar menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Integrasikan Nilai Keislaman
Mesiono juga meminta dosen yang mengampu mata kuliah umum mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam proses pembelajaran.
Ia mengatakan, sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam, UIN Sumut tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan. Proses pendidikan juga harus membentuk karakter dan akhlak mahasiswa.
“Dosen yang mengajar mata kuliah umum harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam pembelajaran,” ujar Mesiono.
Menurutnya, integrasi nilai keislaman bukan berarti memaksakan materi agama ke dalam setiap mata kuliah. Yang perlu dihadirkan adalah nilai-nilai universal Islam yang relevan dengan substansi keilmuan.
Nilai tersebut antara lain kejujuran, keadilan, tanggung jawab, kemaslahatan, toleransi, etika, dan kepedulian sosial.
Pendekatan tersebut, lanjut Mesiono, menjadi bagian penting dalam membangun identitas akademik UIN Sumut. Mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki kompetensi profesional, tetapi juga integritas moral dan kepekaan sosial.
Mahasiswa Harus Lebih Aktif
Selain penguasaan teknologi dan penguatan nilai keislaman, Mesiono menekankan pentingnya penerapan konsep student centered learning atau pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa.
Ia mengingatkan, mahasiswa harus menjadi pihak yang lebih aktif dalam proses pembelajaran.
“Yang harus aktif dalam pembelajaran bukan dosen, tetapi mahasiswanya,” ujarnya.
Pola tersebut menuntut perubahan peran dosen. Dosen tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga menjadi fasilitator yang mendorong mahasiswa aktif berdiskusi, mencari informasi, memecahkan persoalan, melakukan penelitian dan menghasilkan karya akademik.
Mesiono juga meminta dosen meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah, terutama pada jurnal bereputasi.
Menurutnya, publikasi menjadi salah satu indikator penting dalam pengembangan kualitas akademik dan reputasi perguruan tinggi. Namun, peningkatan jumlah publikasi harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas penelitian.
Dosen, kata dia, tidak hanya dituntut menghasilkan karya ilmiah dalam jumlah banyak, tetapi juga penelitian yang memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan mampu menjawab persoalan masyarakat.
Pertemuan yang dihadiri ratusan dosen tetap dan tidak tetap tersebut menjadi momentum konsolidasi internal bagi FIS UIN Sumut dalam menghadapi agenda pengembangan kelembagaan.
Selain mempersiapkan perubahan menjadi FISIP dan pembukaan empat program studi baru, FIS UIN Sumut juga diarahkan membangun budaya akademik yang lebih adaptif terhadap teknologi, memperkuat pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa, mengintegrasikan nilai-nilai keislaman serta meningkatkan kualitas penelitian dan publikasi ilmiah.
Reporter: A. Rasyid


