Ekonomi Rakyat Menurut Pemerintah dan Menurut Rakyat

Berita Terkait

Semakin tua usia saya, semakin saya percaya bahwa rakyat sering kali lebih pintar daripada yang kita kira. Mereka mungkin tidak memiliki gelar yang panjang. Mereka mungkin tidak pernah berbicara dalam seminar. Mereka mungkin tidak pernah menyusun rencana pembangunan lima tahunan. Tetapi mereka tahu bagaimana cara bertahan hidup.

Dan kemampuan bertahan hidup itulah yang selama puluhan tahun membuat roda ekonomi rakyat terus berputar.

Saya sering melihatnya di kampung-kampung. Ketika harga hasil panen turun, petani mencari pekerjaan tambahan. Ketika musim paceklik datang, nelayan mencari sumber penghasilan lain.

Ketika ekonomi sedang sulit, pedagang kecil mengurangi keuntungan agar pembeli tetap datang.

Mereka beradaptasi. Mereka mencari jalan. Mereka menemukan cara. Bukan karena ada program pemerintah. Tetapi karena hidup memaksa mereka melakukannya. Karena itu saya kadang bertanya-tanya ketika pemerintah berbicara tentang ekonomi rakyat. Apakah yang dimaksud pemerintah sama dengan yang dimaksud rakyat?

Bagi pemerintah, ekonomi rakyat sering diterjemahkan menjadi program. Ada lembaga yang dibentuk. Ada struktur yang disusun. Ada target yang ditetapkan. Ada anggaran yang dialokasikan. Semua terlihat rapi. Semua terlihat terencana.

Tetapi bagi rakyat, ekonomi memiliki pengertian yang jauh lebih sederhana. Bisakah hasil panen dijual? Bisakah dagangan laku? Bisakah kebutuhan rumah tangga terpenuhi? Bisakah anak tetap sekolah? Bisakah dapur tetap mengepul?

Itulah ekonomi menurut rakyat. Sederhana. Tidak rumit. Tidak membutuhkan istilah-istilah yang sulit dipahami.

Karena itu saya sering melihat ada jarak antara apa yang direncanakan di ruang rapat dengan apa yang sesungguhnya dibutuhkan di lapangan. Pemerintah datang membawa solusi. Sementara rakyat masih mencoba memahami di mana sebenarnya letak masalah yang hendak diselesaikan.

Pemerintah menawarkan lembaga baru. Padahal masyarakat sudah memiliki cara sendiri untuk menjalankan kegiatan ekonominya. Ada warung. Ada kelompok tani. Ada jaringan pedagang. Ada hubungan kepercayaan yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun. Ada sistem yang mungkin tidak tertulis, tetapi nyata bekerja di tengah masyarakat.

Saya tidak mengatakan bahwa semua yang dilakukan rakyat pasti benar. Saya juga tidak mengatakan bahwa pemerintah tidak perlu hadir. Pemerintah tetap memiliki peran yang penting. Tetapi sebelum menghadirkan solusi, mungkin ada baiknya pemerintah terlebih dahulu memahami bagaimana rakyat menjalankan kehidupannya. Sebab tidak semua masalah harus diselesaikan dengan membangun lembaga baru.

Kadang-kadang yang dibutuhkan rakyat hanya jalan yang lebih baik. Kadang-kadang yang dibutuhkan adalah irigasi yang berfungsi. Kadang-kadang yang dibutuhkan adalah harga hasil panen yang tidak jatuh. Kadang-kadang yang dibutuhkan hanyalah akses modal yang mudah dan jujur.

Masalahnya, kebutuhan-kebutuhan seperti itu sering kali tidak terlihat semegah peresmian sebuah program. Tidak terlihat semenarik pembangunan sebuah gedung. Tidak menghasilkan banyak foto. Tetapi dampaknya langsung dirasakan masyarakat.

Mungkin karena itulah saya selalu percaya bahwa ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi rakyat bukanlah seberapa banyak program yang diluncurkan. Melainkan seberapa banyak persoalan rakyat yang benar-benar terselesaikan. Sebab rakyat tidak hidup dari program. Rakyat hidup dari hasil kerja mereka setiap hari.

Dan selama kita gagal memahami cara rakyat memandang ekonomi, selama itu pula kita akan terus sibuk menawarkan jawaban untuk pertanyaan yang sebenarnya tidak pernah mereka ajukan.

Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform digital e-paper https:/www.myedisi.com/mimbarumum

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Tom Lembong dan Pertanyaan Tentang Kepercayaan kepada Hukum

Pada episode sebelumnya kita sampai pada satu pertanyaan, bagaimana kalau masyarakat tidak sepenuhnya percaya kepada orang yang diberi kewenangan...