LUMPUR di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat hari-hari ini terasa lebih dingin dan pekat. Bukan hanya karena curah hujan yang enggan berdamai, melainkan karena ada kehangatan yang hilang: sorot lampu kamera dan keriuhan janji manis.
Di lokasi bencana kali ini, kesedihan tampil telanjang. Sunyi.
Tak ada raungan sirene iring-iringan pajero pelat hitam yang membelah genangan.
Tak ada spanduk raksasa bertuliskan “Turut Berduka Cita” dengan wajah politisi yang tersenyum simpul—yang ukurannya tiga kali lebih besar dari kalimat empatinya.n logistik memang ada, merayap pelan, namun tanpa label partai dan tanpa drama serah-terima yang perlu diabadikan dari sepuluh sudut kamera berbeda.
Mengapa sepi? Jawabannya mengiris hati karena begitu sederhana: kotak suara masih jauh.
Mari kita bermain dengan imajinasi.
Andai bah ini menerjang tepat tiga bulan menjelang Pemilu, niscaya lanskap bencana akan berubah menjadi panggung dramaturgi yang kolosal.
Para elite, dari daerah hingga ibu kota, akan berlomba “turun gunung”.
Kita akan melihat mereka berpose menyiduk lumpur—dengan kemeja putih yang sengaja dibuat sedikit kotor di bagian lengan agar tampak “otentik” dan merakyat.
Wajah-wajah yang biasanya klimis akan dipasang sendu, menatap reruntuhan rumah warga dengan tatapan nanar yang sudah dilatih di depan cermin.
Kardus mi instan tak lagi sekadar makanan; ia berubah menjadi kartu nama politik, ditempeli stiker wajah calon legislatif.
Di musim itu, penderitaan rakyat adalah komoditas paling seksi.
Air mata pengungsi adalah bahan bakar elektabilitas yang paling premium.
Namun, hari ini adalah “tahun tenang”.
Tidak ada suara yang perlu dipanen, tidak ada kursi yang sedang dipertaruhkan dalam waktu dekat.
Maka, empati pun tampaknya sedang dihemat, disimpan rapat-rapat di gudang logistik partai, menunggu momentum yang tepat untuk diuangkan kembali.
Simpati, rupanya, mengenal siklus musim tanam.
Di tengah kepiluan yang “sepi peminat” ini, lahirlah sebuah doa satire yang getir dari bibir para korban yang menggigil di posko pengungsian.
Sebuah doa yang terdengar absurd, konyol, namun memiliki logika politik yang tak terbantahkan:
“Tuhan, jika Engkau memang berkehendak mengirim cobaan berupa bencana lagi, kami mohon, tolong jadwalkan pas masa kampanye saja. Jangan sekarang.”
Doa itu bukan wujud keputusasaan, melainkan strategi bertahan hidup.
Sebab bagi rakyat kecil, bencana di luar tahun politik adalah nasib paling sial: sudah harta benda hanyut, diabaikan pula.
Setidaknya, jika musibah datang jelang Pemilu, air mata mereka mendadak punya nilai tukar yang tinggi.
Penderitaan mereka akan “dihargai” dengan bantuan yang melimpah—meski dibungkus dengan pamrih kekuasaan.
Cibubur, 4 Desember 2025
Salam Coaching untuk Negeri
• Penulis: Basyrah Basir, PCC – Founder Coaching Untuk Negeri https://coachinguntuknegeri.id. Biasa dipanggil Coach BasBas. Founder Coaching Untuk Negeri, berpengalaman 29 tahun sebagai praktisi people development yang ingin “Melihat Indonesia Lebih Baik” dengan pendekatan coaching.
• Editor: Suyadi San


