Kasus hukum di tubuh Bank Sumut seperti tak pernah berhenti berdetak. Baru saja satu pegawai ditahan kejaksaan, muncul lagi nama baru yang terseret.
Ada pejabat lama, ada analis kredit, ada agunan ganda. Semua cerita berbeda, tapi nadanya sama yakni tentang uang yang diselewengkan, dan kepercayaan yang perlahan bocor.
Ironisnya, lembaga ini bukan bank swasta yang hidup dari ambisi segelintir orang.
Ia adalah bank daerah. Dibangun dengan semangat kolektif, dengan modal kepercayaan publik, dan amanah untuk menggerakkan ekonomi Sumatera Utara.
Tapi kini, semangat itu tampak kabur di antara tumpukan laporan laba dan jabatan yang saling menumpuk.
Setiap kali satu kasus korupsi mencuat, kita sebenarnya sedang diingatkan tentang ada yang salah dengan arah kapal ini.
Apakah Bank Sumut masih melaju ke pelabuhan rakyat, atau justru berlayar ke dermaga para pejabat dan koleganya sendiri?
Kita jarang tahu ke mana uang bank daerah ini mengalir.
Berapa persen kredit yang benar-benar untuk sektor riil, usaha kecil, pedagang, petani, nelayan, wirausaha muda?
Dan berapa yang justru habis untuk kredit konsumtif pegawai negeri, pinjaman aman dengan risiko kecil tapi juga dampak pembangunan yang nyaris tak ada?
Di atas kertas, keduanya sama-sama “kredit”.
Tapi bagi pembangunan, bedanya seperti hujan dan embun. Satu menumbuhkan, satu sekadar membasahi.
Sudah terlalu lama bank-bank daerah hidup dalam zona nyaman. Menjadi tempat potong gaji ASN, bukan pendorong lahirnya wirausaha baru.
Jika Bank Sumut menempuh jalan itu terus, maka ia bukan lagi motor ekonomi rakyat tetapi ia hanya mesin pencetak laba bagi segelintir orang berpengaruh.
Dan laba semacam itu, seperti bunga plastik yang tampak indah, tapi tak pernah hidup.
Kita juga tak bisa menutup mata pada kabar dari balik ruang direksi.
Kasus demi kasus muncul, tapi lenyap seperti buih di bibir pantai.
Transparansi seolah jadi barang langka.
Padahal, dalam dunia perbankan, kepercayaan adalah oksigen. Sekali rusak, bank bisa mati pelan-pelan tanpa terlihat.
Bank Sumut adalah wajah ekonomi Sumatera Utara.
Dari cermin itu, kita bisa menilai apakah provinsi ini benar-benar berpihak pada rakyat kecil, atau hanya memberi panggung bagi birokrat dan konglomerat daerah.
Maka membaca neraca keuangan Bank Sumut bukan soal angka, tapi soal arah moral.
Kita akan menunggu angka-angka berbicara.
Berapa kredit produktif yang benar-benar hidup. Siapa yang menikmatinya. Dan apakah fungsi intermediasi Bank Sumut masih bernapas atau tinggal formalitas.
Sebab bank daerah, pada hakikatnya, bukan milik segelintir.
Ia milik seluruh warga Sumatera Utara yang menitipkan kepercayaannya di sana.
Kalau kepercayaan itu dikhianati, lalu untuk apa lagi kita menyebutnya Bank “Sumut”?
Tulusan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum dengan judul: Arah dan Wajah Bank Sumut



Bank Sumut akan sulit untuk berkembang jika pejabatnya tidak diangkat secara selektif sesuai dengan kualifikasi dan konpetensinya. Karena berdasarkan informasi dilingkungan pegawai, pengangkatan pejabat masih cendrung diangkat berdasarkan kedekatan atau penjilat. Bahkan yg sering terjadi adalah pengangkatan pejabat dari luar (hire) yang dibawa oleh Direksi yang bersumber dari luar Bank Sumut dengan kualifikasi yang tidak layak dan fasilitas gaji yg besar sehingga menimbulkan kecemburuan kepada pegawai yg diangkat/berkarir dari awal di Bank Sumut.
Bahkan yg paling miris, Direksi yang datang dari luar Bank Sumut tidak memiliki kwalifikasi yang layak untuk memimpin di Bank Sumut sehingga cendrung merusak tatanan yang selama telah dibangun dengan baik dan cendrung tidak mau bertanggungjawab (buang badan) jika ada suatu keputusan kebijakan atau permadalahan ug mengandung risiko, terutama risiko hukum.
Perkembangan Bank Sumut yang terjadi selama ini dari masa ke masa kepemimpinan beberapa Direksi (Dirut) yang telah memimpin Bank Sumut, menurut hemat kami yang real hanya terjadi pada saat kepemimpinan pak Gus Irawan Padaribu, sedangkan kepemimpinan Direksi berikutnya cendrung makin memburuk.
Bahkan budaya kebersamaan atau rasa persaudaraan antar sesama pegawai/pejabat dilingkungan Bank Sumut semakin rusak, sehingga budaya kerjasama yang saling mendukung dan rasa tanggungjawab untuk memajukan Bank Sumut sudah sirna…