Korupsi Kredit Bank Sumut: Ketika Kepercayaan Publik Diuji Berulang Kali

Berita Terkait

Bank itu sejatinya bukan sekadar tempat menyimpan uang. Ia tempat menitipkan kepercayaan. Dan di Sumatera Utara, bank itu bernama Bank Sumut, lembaga yang mestinya menjadi rumah bagi denyut ekonomi daerah.

Namun, rumah itu kini berdebu. Tiang-tiangnya retak oleh korupsi yang berulang.
Beberapa hari lalu, seorang pegawai bank kembali ditangkap kejaksaan. Ia diduga bermain dalam kredit miliaran rupiah. Bukan yang pertama. Sebelumnya sudah ada nama-nama lain dari bank yang sama, terjerat kasus serupa. Seperti penyakit lama yang tak kunjung sembuh.

Miris rasanya. Sebab yang mereka jual bukan sekadar layanan finansial, tapi trust. Kepercayaan. Dan kepercayaan, sekali jatuh, tak bisa ditebus dengan suku bunga.
Bagaimana mungkin masyarakat Sumut bisa tenang menyimpan uang di lembaga yang orang-orang di dalamnya gemar menipu angka? Bagaimana mungkin pelaku usaha percaya mengambil kredit bila sistemnya penuh lubang? Jika korupsi menetes dari ruang rapat hingga meja pelayanan, maka yang kering bukan hanya kas bank, tapi juga kepercayaan rakyat.

Fungsi bank daerah mestinya sederhana, yakni mendorong ekonomi rakyat, memberi napas bagi usaha kecil, membantu Pemda menggerakkan pembangunan. Tapi ketika yang mengalir adalah kredit fiktif, maka bukan pertumbuhan yang datang melainkan kecurigaan.
Mungkin kita perlu bertanya lebih dalam, bagaimana pola rekrutmen di bank ini? Siapa yang memilih direksi, siapa yang menentukan pejabat, dan apa yang sesungguhnya jadi ukuran? Apakah hanya kedekatan, bukan kejujuran? Apakah jabatan di sana sudah menjadi hadiah politik?

Jika dibiarkan, bank ini bukan hanya akan kehilangan nasabah. Ia akan kehilangan makna keberadaannya. Sebab bank tanpa kepercayaan hanyalah gedung berpendingin, dengan pegawai yang menghitung angka tanpa ruh.

Mungkin sudah saatnya Bank Sumut menata ulang dirinya. Menyapu kotoran di dalam rumah, bukan menutupi dengan karpet baru.

Dalam Islam, amanah adalah ujian. Siapa yang mengkhianatinya, tak hanya rugi di dunia tapi juga kehilangan harga diri di sisi Tuhan. Semoga dari reruntuhan kepercayaan ini, masih tersisa satu hal yang bisa tumbuh kembali, yakni kejujuran.

Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum dengan judul: Kepercayaan yang Tumbang di Meja Bank

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Tom Lembong dan Pertanyaan Tentang Kepercayaan kepada Hukum

Pada episode sebelumnya kita sampai pada satu pertanyaan, bagaimana kalau masyarakat tidak sepenuhnya percaya kepada orang yang diberi kewenangan...