GALERI: Menziarahi Suara yang Tak Ingin Pergi (Catatan Setelah Membaca Puisi-Puisi Nanang R. Supriyatin)

Berita Terkait

ADA sesuatu yang menua dengan indah di dalam puisi-puisi Nanang R. Supriyatin. Bukan sekadar diksi yang lahir dari masa 80-an, tetapi napas waktu yang masih terasa segar sampai hari ini. Saya membaca puisinya seperti membuka jendela ke masa lalu — masa di mana cinta, kesetiaan, dan kematian masih dibicarakan dengan pelan, tanpa terburu ingin dimengerti.

Dalam sajak “Seakan-Akan,” saya seperti mendengar gema suara yang mencoba bertahan di antara bisikan dan diam.

“Seakan-akan pelukan kekasih / sepenuhnya tak ingin ditinggal pergi.”

Kata “seakan-akan” diulang bukan karena kebiasaan, tapi sebagai cara bertahan di antara kenyataan dan harapan. Ia menulis dari wilayah “nyaris” — tempat di mana cinta belum selesai, tapi juga tak benar-benar hidup. Saya membayangkan, di tahun 1985 itu, seorang penyair muda menulis dengan tangan yang belum terlalu mengenal dunia, tapi sudah mengerti kehilangan.

Cinta dalam puisi Nanang tidak menggelegar. Ia tidak bicara tentang janji, melainkan tentang ketabahan. Tentang seseorang yang tetap menunggu meski tahu mungkin tak ada yang datang. Saat membaca itu, saya teringat pada hal-hal yang pernah saya tinggalkan, dan pada hal-hal yang meninggalkan saya tanpa sempat berpamitan.

Dalam “Malam Pengantin,” yang di permukaan tampak sebagai perayaan, justru kita temui kesepian yang lembut. Lampu, lilin, bintang — semuanya bersinar, tapi seakan-akan tahu bahwa cahaya pun bisa menutup sesuatu. Di akhir sajak ada kalimat: “sampai malahan haru, sampai malahan jemu.” Baris itu seperti napas panjang setelah pesta usai — satu tarikan yang menyimpan lelah, tapi juga keikhlasan.

Dan lalu “Pelayat.”

Puisi ini saya diamkan paling lama. Baris-barisnya terasa seperti doa yang lahir dari kubur paling sunyi dalam diri manusia:

“Jika tak ada pelayat, tak ada orang berziarah / akan pun terjadi, sunyi sekali.”

Kalimat itu seperti mengingatkan: manusia baru benar-benar hidup ketika ada yang mau kehilangan dia. Bukan karena ingin dikenang, tapi karena rasa kehilangan itu sendiri yang membuat hidup terasa utuh.

Nanang menulis dengan nada yang rendah hati. Tak ada teriakan, tak ada keinginan untuk menonjol. Bahkan ketika ia bicara tentang kematian atau ziarah waktu, suaranya seperti orang menulis sambil menunduk — bukan karena sedih, tapi karena hormat.

Dalam puisinya “Solilokui,” ia menulis dengan tenang:

 “Kematian adalah kesetiaan yang lewat.”

Kalimat itu menampar saya dengan lembut. Ada ketenangan aneh ketika seseorang berani menulis kematian tanpa menakut-nakuti. Nanang tidak menolak kefanaan; ia justru memeluknya, seperti seseorang memeluk bayangan sendiri. Dari situ saya merasa: kesetiaan sejati mungkin bukan bertahan hidup selamanya, tapi berani berjalan ke ujung hidup dengan langkah yang lembut.

Dalam “Dalam Ziarah Waktu,” ia menulis:

“Siapa pergi lebih dulu?”

Pertanyaan sederhana itu menembus sesuatu yang dalam. Siapa pun yang pernah kehilangan tahu rasanya: bukan sedang mencari jawaban, hanya ingin ditemani dalam diam. Puisi ini mengingatkan saya bahwa waktu tidak selalu bergerak ke depan; kadang ia berputar, menatap balik, dan di sana kita menemukan diri yang lebih sunyi, lebih pasrah, tapi juga lebih jujur.

Yang membuat puisi-puisinya terasa menenangkan adalah kesederhanaannya. Ia tahu kapan harus berhenti.

Daun, kenanga, lilin, bambu — benda-benda sederhana itu menjadi jembatan untuk berbicara dengan sesuatu yang lebih besar dari hidup. Dalam puisinya “Biarlah,” ia menulis:

“Biarlah gerimis jatuh di atas gending, / suaramu masih terawat di halaman kenanga.”

Kata “biarlah” itu seperti napas panjang — tanda seseorang akhirnya menerima hidup apa adanya: menerima kehilangan tanpa dendam, menerima kesedihan tanpa ingin melupakannya. Dan di situ saya mengerti, mungkin hidup tidak perlu disembuhkan; cukup dipahami, cukup diizinkan lewat dengan lembut.

Membaca puisi-puisi Nanang membuat saya seperti berjalan di pemakaman yang sepi. Tidak ada yang menyeramkan di sana. Hanya bau tanah, beberapa bunga yang hampir layu, dan udara yang pelan. Tapi justru di situ saya merasa hidup. Karena di situlah saya bisa menatap kembali semua yang sudah hilang — tanpa tergesa, tanpa ingin mengulang.

Barangkali, inilah kekuatan puisi-puisi Nanang: ia tidak menulis untuk mengesankan, tapi untuk menenangkan. Tidak berteriak tentang cinta, tapi menulis bagaimana cinta bertahan dalam hening. Tidak melawan waktu, tapi menatapnya lama-lama sampai seluruh usia menjadi satu napas yang damai.

Saya membaca puisinya bukan seperti membaca karya orang lain, melainkan seperti menatap bayangan sendiri di permukaan air yang tenang. Ada getar yang pelan, tapi tak kunjung hilang. Dalam puisinya, kesedihan tidak diucapkan, tapi terasa. Cinta tidak dijelaskan, tapi hidup di sela-sela jeda. Dan mungkin memang begitulah cara puisi bekerja: ia tak perlu berteriak untuk menyentuh, cukup hadir dengan kesetiaan yang tenang.

Ketika saya menutup halaman terakhir, ada keheningan yang tidak mengundang air mata, tapi menghadirkan rasa syukur — karena masih ada penyair yang menulis dengan hati, bukan dengan ambisi. Dan di antara begitu banyak suara yang berlomba hari ini, puisi-puisi Nanang adalah satu dari sedikit suara yang masih percaya pada diam.

• Penulis: Emi Suy (Ditulis setelah membaca kembali puisi-puisi Nanang R. Supriyatin, di malam yang sunyi, dengan lampu meja yang tak terlalu terang.)

• Editor: Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Bobby Nasution Lepas Kafilah Sumut ke MTQ Nasional 2026 di Semarang

mimbarumum.co.id – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution melepas 90 kontingen kafilah Sumut yang akan berlaga pada...