DI antara dinginnya tembok bersejarah Museum H.O.S. Tjokroaminoto, senyum hangat Bening Ken Bidayah (21) menyambut setiap pengunjung yang datang. Perempuan kulit warna sawo matang ini dengan lincah memandu wisatawan menyusuri setiap sudut rumah yang pernah menjadi tempat persemaian pemikiran para founding fathers Indonesia.
Di antara dinginnya dinding museum dan gemerisik arsip-arsip kuno, sosok Bening Ken Bidayah justru menemukan kehangatannya sendiri. Mahasiswa semester 5 Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya (FISIPOL UNESA) ini menghabiskan hari-harinya sebagai pemandu museum di Rumah H.O.S. Tjokroaminoto, Surabaya – tempat di mana masa lalu dan masa kini berbisik satu sama lain.
“Rumah ini saksi bisu bagaimana Soekarno, Kartosuwiryo, dan tokoh lainnya dengan ideologi berbeda pernah tinggal bersama dan berdebat pemikiran di meja makan yang sama,” ujar Bening dengan mata berbinar.
Perempuan berparas cantik asal Lamongan ini memilih jalan yang tidak biasa untuk seumurannya. Sementara banyak teman seangkatannya memilih magang di tempat yang lebih “modern”, Bening justru memilih menghabiskan waktunya di museum yang menyimpan napas pergerakan nasional.
Bening memilih menjalani magang di MUSEA Surabaya di bawah Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Surabaya. Meski tak bisa menyebutkan detail tempat lahirnya, Bening dengan bangga mengakui dirinya sebagai putri asli Lamongan yang kini tengah mengejar mimpi di Surabaya.
“Program magang ini memang kewajiban akademik, tapi saya sengaja memilih MUSEA karena ingin terjun langsung ke lapangan. Saya percaya pengalaman langsung memberi pemahaman berbeda dibanding hanya lewat buku,” tutur anak kedua dari dua bersaudara ini.
Ketertarikan Bening pada dunia sejarah bermula dari keterlibatannya dalam diskusi komunitas sejarah di Surabaya yang markasnya berada di kawasan Peneleh. “Dari situ saya tertarik untuk belajar langsung di tempatnya, merasakan atmosfer sejarah yang masih hidup,” kenangnya.
Keputusan itu ternyata membawanya pada perjalanan yang tidak terduga. Di tempat yang sama di mana Tjokroaminoto pernah mendidik para bapak bangsa, Bening sekarang menjadi penjaga cerita-cerita itu untuk generasi berikutnya.

Perjalanan intelektual Bening dimulai dari sebuah buku – “The Power of Language” – yang menjadi pembuka gerbang dunianya. “Setelah membaca buku itu, saya merasa lebih mengerti dan menerima diri sendiri, serta memiliki tujuan yang lebih jelas,” tuturnya. Sejak saat itu, dunia literasi menjadi bagian tidak terpisahkan dari hidupnya.
Rutinitas Bening dimulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB. Setelah membuka museum dan merapikan koleksi, ia menghabiskan waktu dengan memperdalam materi sejarah sambil menunggu pengunjung. Saat tidak ada kunjungan, waktunya diisi dengan memperdalam materi dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa dijawabnya.
“Kami sering membandingkan ulang informasi sejarah yang kadang kontras dan abu-abu mengenai rumah ini,” jelasnya. Proses verifikasi fakta sejarah menjadi bagian penting dari pekerjaannya.
Salah satu proyek yang sedang dikerjakan adalah merancang peta digital warisan budaya untuk kawasan Peneleh. “Tujuannya membantu publik mengenal situs sejarah di wilayah ini melalui platform daring,” jelasnya.
Di luar kegiatan magang, Bening aktif berbagi informasi sejarah melalui media sosial, seperti akun TikTok @intershipmusea_sibm, berharap bisa menarik minat generasi muda untuk lebih peduli pada warisan budaya.
Bening mengaku memiliki prinsip hidup yang sederhana tapi tegas: “Salah benar urusan belakangan, yang penting nyoba.” Filsafat inilah yang membawanya melalui berbagai tantangan, termasuk ketika harus menerima kenyataan lolos SNBP di pilihan kedua, bukan di Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang (UNNES) seperti yang diimpikan.
“Ternyata tidak terlalu buruk,” akunya dengan senyum. “Justru di sini saya mendapat pengalaman dan lingkungan yang lebih baik.”
Dalam keseharian, Bening memiliki kebiasaan unik: lebih sering berdebat dengan kecerdasan buatan (artificial inteligensi/AI) daripada manusia. “Mungkin karena AI tidak baperan,” katanya sambil tertawa.
Untuk jangka pendek, Bening ingin fokus menyelesaikan kuliahnya. Setelah itu, ia berharap bisa terus berkarya di bidang sejarah dan pendidikan. Melalui magang ini, ia ingin memperkenalkan museum sebagai ruang edukatif yang menarik bagi generasi muda.
“Penghargaan terbesar saya adalah ketika pengunjung merasa puas dan nyaman dengan penjelasan dan pelayanan kami,” tuturnya.
Bening berpesan agar generasi muda tidak mudah menghakimi tokoh sejarah tanpa memahami latar belakang pemikirannya. “Sejarah itu tergantung POV siapa yang bercerita. Tidak semua yang salah memang salah, dan tidak semua yang benar itu benar,” tegasnya.
“Dari sejarah, kita seharusnya belajar banyak untuk membentuk masa depan dan menentukan jalan terbaik agar tidak kembali keliru, bukan sekadar dongeng pengantar tidur atau formalitas pendidikan,” tambahnya.
Di waktu senggang, Bening menikmati waktunya dengan membaca dan mendengarkan musik. Perempuan yang menyukai warna hitam dan coklat ini mengaku sangat menyukai cumi balado. Ketika ditanya tentang kehidupan asmaranya, Bening menjawab dengan bijak: “Saat ini saya lebih fokus ke studi dan kegiatan yang sedang saya jalani. Saya juga merasa belum menemukan manfaat dan tujuan yang jelas dari kegiatan itu.”

Didikan keluarga yang mengutamakan kejujuran dan tanggung jawab membentuk pribadinya yang teguh pada prinsip. Meski enggan menyebutkan nama kedua orang tuanya, Bening mengaku selalu didukung selama tak berbohong dan berpegang pada nilai-nilai baik.
Dengan semangatnya yang membara, Bening membuktikan bahwa generasi muda bisa menghargai sejarah tanpa harus menjadi kaku. Di tangannya, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tapi warisan budaya hidup yang terus bergerak dan relevan dengan zaman sekarang.
Baginya, sejarah bukan sekadar dongeng pengantar tidur atau formalitas pendidikan, melainkan pelajaran berharga untuk membentuk masa depan yang lebih baik.
Dengan semangatnya yang membara, Bening Ken Bidayah membuktikan bahwa pemuda tidak hanya pewaris sejarah, tetapi juga aktor yang turut menuliskan narasi baru – dengan cara mereka sendiri, di zaman mereka sendiri.
• Suyadi San


