SUARA Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM) seakan menyimpan gema dari 47 tahun silam. Di atas panggung yang sama, seorang lelaki 74 tahun dengan sorot mata berbinar berdiri tegak, mengenang perjalanan panjangnya sebagai sang maestro didong Gayo. Ceh M Din, nama yang tak terpisahkan dari seni tradisi Aceh Tengah itu, kembali ke tempat di mana ia pertama kali memperkenalkan lantunan syair Gayo kepada penikmat seni ibukota.
“Tempat ini menyimpan banyak kenangan. Dari sinilah kami memperkenalkan didong Gayo ke panggung nasional,” ujar Ceh M Din, suaranya bergetar haru. Pada Kamis, 16 Oktober 2025, ia kembali menapaki panggung Teater Jakarta, lokasi yang dulu dikenal sebagai Teater Arena – saksi bisu kebangkitan didong di jantung kesenian Indonesia.
Awal Mula: Getaran Pertama di TIM
Perjalanan Ceh M Din dengan TIM bermula pada 1978. Kala itu, bersama grup Timang Rasa, ia tampil dalam pertunjukan didong tanding melawan grup Pesisir Laut dari Nosar. Di panggung itulah, bersama dua rekannya, Ceh Abd Rauf dan Ecek Umang, ia untuk pertama kalinya menggemakan syair-syair Gayo di hadapan penonton Jakarta. Sementara pihak lawan diperkuat oleh tiga ceh (seniman didong) ternama: Ceh Sulaiman Kanosri, Ceh Syafi’i, dan Ceh Utin.
“Pertandingan itu menjadi momen penting bagi saya,” kenang M Din. “Tak hanya sekadar tampil, tapi kami sedang membawa nama Gayo ke tingkat yang lebih tinggi.”
Empat tahun kemudian, pada 1982, M Din kembali ke panggung yang sama. Kali ini, ia berhadapan dengan grup Teruna Jaya dari Toweren yang dipimpin Ceh Sahak (Ishak Ali) dengan dukungan Ceh Aris dan Ceh Mahlil Lewa. “Saya masih ingat suasananya, penuh semangat dan rasa bangga membawa nama Gayo,” ujarnya.
Inovasi dan Kolaborasi: Memperluas Ruang Didong
Tahun 1983 menjadi babak baru dalam perjalanan kesenian Ceh M Din. Bersama grup Kemara Bujang, yang beranggotakan Ceh Pependi Gobal dan Hamidah, ia menampilkan karya Awan Sali Gobal berjudul “Roda” dan “Tanoh Takengen.” Pertunjukan ini menjadi bersejarah karena untuk pertama kalinya didong dikolaborasikan dengan pembacaan puisi oleh Renny Djayoesman – penyanyi rock dan aktor teater ternama Jakarta kala itu.
Puisi yang dibacakan Renny merupakan terjemahan karya didong oleh LK Ara dan M. Junus Melalatoa. Kolaborasi ini membuka akses bagi penonton non-Gayo untuk memahami makna mendalam di balik syair-syair didong. “Kolaborasi itu memperluas ruang bagi didong agar bisa diterima berbagai kalangan tanpa kehilangan jati dirinya,” tutur M Din.
Inovasi tidak berhenti di panggung. Didong Kemara dan pembacaan puisi Renny Djayoesman itu juga diterbitkan dalam bentuk album kaset yang beredar luas di masyarakat. Langkah ini semakin memperkuat posisi didong sebagai seni tradisi yang relevan dengan perkembangan zaman.
Komitmen Tak Pernah Pudar: Menjadi Guru bagi Generasi Muda
Di usia 74 tahun, semangat Ceh M Din tidaklah surut. Ia masih aktif membina generasi muda melalui grup Kabinet Bebesen, Timang Rasa, dan sejumlah kelompok seni di Aceh Tengah. Tak hanya itu, ia juga kerap masuk ke sekolah-sekolah untuk mengajarkan didong, menjadi juri lomba didong, serta narasumber di berbagai forum seni.
“Saya ingin anak-anak Gayo mencintai dan meneruskan warisan ini. Didong bukan masa lalu, tapi napas hidup budaya kita,” ujarnya dengan keyakinan yang teguh.
Bagi M Din, didong bukan sekadar kesenian tradisional, melainkan jiwa dari masyarakat Gayo. Setiap syair yang dilantunkan mengandung nilai-nilai kehidupan, kearifan lokal, dan identitas budaya yang harus dilestarikan.
Harapan Sang Maestro: Didong di Hati Masyarakat
Dalam refleksi kunjungannya ke TIM setelah puluhan tahun, Ceh M Din menyampaikan harapannya yang mendalam. Ia berharap pemerintah dan masyarakat Aceh dapat bersama-sama menjaga eksistensi didong. “Didong harus tetap hidup, tidak hanya di panggung, tapi juga di hati masyarakat Gayo,” pungkas sang maestro.
Perjalanan 47 tahun Ceh M di Pusat Kesenian Jakarta bukan sekadar catatan prestasi individu, melainkan bukti ketahanan sebuah tradisi budaya di tengah derasnya perubahan zaman. Dari Timang Rasa sampai Kemara, dari pertunjukan murni hingga kolaborasi dengan puisi Renny Djayoesman – semua merefleksikan kemampuan adaptasi tanpa kehilangan esensi.
Warisan yang Terus Bergema
Kini, di usianya yang ke-74, Ceh M Din masih setia melantunkan syair-syair Gayo. Suaranya mungkin tak sekeras dulu, namun semangatnya justru kian membara. Setiap lantunan didong yang ia bawakan bukan hanya untuk dinikmati, melainkan juga menjadi pelajaran hidup bagi generasi penerus.
“Kami dulu memperkenalkan didong dari TIM. Sekarang, tugas anak muda lah untuk membawanya lebih jauh lagi,” ujarnya penuh harap.
Perjalanan panjang Ceh M Din menjadi bukti bahwa kesenian tradisional tidak akan pernah mati selama ada yang dengan setia merawatnya. Didong Gayo, melalui tangan dan suara emasnya, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari khazanah budaya Indonesia yang terus bergema dari masa ke masa.
Dari panggung TIM di Jakarta hingga ke sekolah-sekolah di Aceh Tengah, semangat Ceh M Din terus menyala – menjadi obor yang menerangi jalan bagi generasi penerus untuk mencintai dan melestarikan warisan budaya leluhur mereka. Dan selama napas masih ada, ia berjanji akan terus melantunkan syair-syair yang menyatukan Gayo dengan dunia.
• Suyadi San


