Maestro Didong Gayo Serukan Program Pewarisan Nasional untuk Selamatkan Bahasa dan Budaya

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Maestro didong terkemuka asal Gayo, Ceh M Din, mendesak pemerintah untuk segera merancang program pewarisan budaya secara nasional guna memastikan kelestarian bahasa dan seni didong Gayo. Seruan ini disampaikan secara langsung dalam pertemuan dengan Irini Dewi Wanti, Direktur Bina SDM, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, di Jakarta, Kamis (16/10/2025).

Pertemuan yang berlangsung hangat ini menjadi momen penting bagi upaya penyelamatan didong sebagai salah satu khazanah budaya Indonesia yang mulai kehilangan penutur muda. Ceh M Din, yang telah berkiprah lebih dari lima dekade, menegaskan bahwa didong bukan hanya sekadar seni pertunjukan, melainkan “jantung” kebudayaan Gayo.

“Didong adalah jantung kebudayaan Gayo. Lewat didong, bahasa dan nilai-nilai kami hidup. Namun, jika generasi muda tak lagi menguasai bahasanya, maka seni ini akan kehilangan pendengarnya,” ujar maestro berusia 74 tahun itu dengan penuh khawatir.

Ceh M Din menambahkan, upaya pelestarian selama ini masih bersifat insidental dan belum menyentuh akar permasalahan: menurunnya jumlah penutur bahasa Gayo di kalangan generasi muda. Menurutnya, pelestarian didong tidak bisa hanya mengandalkan festival atau pementasan sesaat, tetapi harus diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan.

“Saya sudah sering melatih anak-anak sekolah dan pemuda di kampung, tetapi kegiatan tersebut belum berkelanjutan. Kami berharap pemerintah dapat merancang program pewarisan budaya yang masuk ke dalam kurikulum atau ekstrakurikuler di sekolah, agar didong tidak berhenti hanya sebagai panggung nostalgia,” tegasnya.

Irini Dewi Wanti menyambut baik gagasan tersebut dan menyatakan komitmen Kementerian Kebudayaan untuk memperkuat peran maestro dalam ekosistem kebudayaan nasional. “Kami membuka ruang kolaborasi untuk memastikan bahwa pengetahuan dan kearifan lokal yang dimiliki para maestro seperti Ceh M Din dapat diwariskan secara sistematis, termasuk melalui program pendidikan berbasis budaya daerah,” ujarnya.

Tidak lama sebelum pertemuan ini, Ceh M Din baru saja tampil memukau dalam acara “Panggung Maestro” di Museum Nasional Jakarta. Ia berbagi panggung dengan sejumlah maestro seni dari Aceh, seperti Ceh Mahlil, Ceh Sukri Gobal, Mustafa Rasyid, Radensyah, dan penyair senior LK Ara.

Ceh M Din dikenal sebagai sosok multidimensi di dunia didong. Selain sebagai pelantun (ceh), ia juga aktif sebagai pelatih dan pengarang teks didong. Baginya, didong adalah medium yang menyatukan puisi, musik, dan nilai-nilai moral—sebuah sarana pendidikan sosial dan spiritual yang hidup di tengah masyarakat.

Melalui kiprahnya, ia terus berjuang menjaga agar bahasa Gayo tidak tergerus oleh modernisasi. Dengan adanya dukungan kebijakan yang nyata, ia berharap didong dapat terus hidup, bukan hanya sebagai warisan, tetapi sebagai seni yang relevan bagi generasi mendatang.

• Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Jelajah Kuliner Etnik FORKALA Medan Cicipi Nikmatnya Masakan Khas Jogja

mimbarumum.co.id - Forum Komunikasi Antar Lembaga Adat (FORKALA) Kota Medan menggelar kegiatan bertajuk 'Jelajah Kuliner Etnik' di Warung Jogja...