mimbarumum.co.id – Setelah malam pembukaan yang megah, Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII memasuki hari kedua dengan agenda intelektual yang padat. Jumat (12/9/25), menjadi saksi digelarnya tiga seminar sastra beruntun yang membahas tema-tema strategis, mulai dari peran puisi dalam perdamaian, model penghargaan sastra, hingga kebijakan penerjemahan. Acara yang berlangsung di panggung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, ini menegaskan, PPN bukan hanya ajang pentas, tetapi juga ruang dialektika untuk memajukan ekosistem sastra di kawasan.
Seminar pertama yang dimulai pukul 08.30 WIB mengangkat tema mendasar namun sangat relevan: “Peran Puisi dalam Menyuarakan Perdamaian”. Dipandu moderator Mahwi Airtawar dari Indonesia, diskusi menghadirkan pembicara lintas negara.
Dr. H. Jawawi bin Hj. Ahmad dari Brunei Darussalam dalam paparannya menekankan, puisi dalam tradisi Melayu telah lama menjadi media untuk menyebarkan nilai-nilai kasih sayang dan resolusi konflik. “Syair dan gurindam bukan sekadar karya seni, tetapi merupakan panduan moral yang ajek menyerukan perdamaian antarumat,” ujarnya.
Prof. Dr. Asmiaty Amat dari Malaysia menyoroti pendekatan akademis. Menurutnya, puisi perdamaian harus aktif diajarkan di lembaga pendidikan. “Puisi adalah alat yang powerful untuk dekonstruksi narasi kebencian dan membangun imajinasi kolektif tentang koeksistensi yang harmonis,” tegasnya.
Usai coffee break, seminar kedua pun digelar pukul 10.00 WIB dengan tema “Mencari Model Penghargaan Sastra”. Hasan Aspahani, penyair Indonesia, memandu diskusi yang menghadirkan tiga pakar.
Dr. Ganjar Harimansyah dari Indonesia membuka diskusi dengan mengkritisi kecenderungan penghargaan sastra yang seringkali elitis dan terjebak dalam politik sastra. “Penghargaan harusnya menjadi pemantik, bukan tujuan. Modelnya harus lebih inklusif, menjangkau penyair dari pelosok dan kalangan marginal,” paparnya.
Dr. Norhayati Ab. Rahman dari Malaysia berbagi praktik baik negaranya yang memiliki sistem penghargaan berjenjang, mulai dari tingkat sekolah hingga nasional, yang didukung oleh pemerintah. “Ini menciptakan ekosistem yang sehat dimana apresiasi terhadap sastra ditanamkan sejak dini,” jelasnya.
Hameed Ismail dari Singapura menawarkan perspektif yang berbeda. Ia menekankan pentingnya penghargaan yang dikelola oleh komunitas independen untuk menjaga objektivitas. “Di Singapura, penghargaan seperti Singapore Literature Prize memiliki kredibilitas karena proses kurasi yang transparan dan melibatkan banyak pihak,” ujarnya.
Diskusi berjalan cair dengan kesimpulan bahwa model penghargaan sastra yang ideal haruslah kombinasi antara dukungan negara dan independensi komunitas, dengan transparansi dan edukasi publik sebagai kunci utamanya.
Setelah jeda untuk salat Jumat dan istirahat, seminar ketiga dimulai pukul 14.00 WIB. Tema yang diangkat adalah “Terjemahan dalam Kebijakan Penerbitan Buku Sastra”, dengan moderator Eva Yenita Syam, S.S., M.Pd.
Pembicara pertama, kritikus sastra senior Indonesia, Maman S. Mahayana, menyoroti minimnya kebijakan negara yang serius untuk mendukung penerjemahan karya sastra Nusantara. “Kita sangat kaya karya, tetapi sangat miskin terjemahan. Akibatnya, karya-karya kita tidak bisa dinikmati dan dipelajari oleh kawasan lain. Ini adalah tugas besar yang harus segera diatasi,” tegasnya.
Zefri Ariff dari Brunei Darussalam membagikan pengalaman negaranya yang memiliki program khusus untuk menerjemahkan karya sastra Brunei ke dalam bahasa Inggris dan Melayu standar. “Dukungan pemerintah melalui dana penerjemahan adalah krusial. Tanpa itu, mustahil karya kita bisa go international,” ujarnya.
Diskusi menghasilkan rekomendasi konkret agar pemerintah negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia, membuat buku biru kebijakan penerjemahan yang didukung anggaran memadai, serta mendorong kolaborasi antar penerbit di kawasan.
Musyawarah Paralel
Puncak dari hari kedua adalah Musyawarah Paralel PPN XIII yang digelar pukul 16.00 WIB di ruang VIP Teater Besar TIM. Forum tertutup ini dihadiri delegasi inti dari Indonesia (meliputi Ketua Dewan Pengarah, Ketua Dewan Kurator, serta Ketua dan Wakil Ketua Panitia), dan perwakilan negara undangan: Dr. Norhayati Ab. Rahman (Malaysia), Zefri Ariff (Brunei Darussalam), dan Samsudin Said (Singapura).
Agenda utama musyawarah adalah pembahasan mengenai tuan rumah PPN XIV. Tiga calon kuat telah memaparkan visi misinya; Delegasi Aceh yang diwakili D. Kemalawati, dan Delegasi Sumatera Selatan Anwar Putra Bayu.
Musyawarah berlangsung alot namun penuh kekeluargaan. Selain membahas teknis kepanitiaan, forum juga merekomendasikan agar PPN ke depan lebih membuka diri terhadap kolaborasi dengan festival sastra internasional lainnya dan memperkuat program residensi untuk penyair muda.
Hari kedua PPN XIII ditutup dengan kesepakatan untuk terus memperkuat jaringan dan komitmen bersama dalam memajukan sastra Nusantara. Rangkaian seminar tidak hanya memperkaya wawasan tetapi juga menghasilkan rekomendasi kebijakan konkret yang diharapkan dapat ditindaklanjuti oleh pemangku kepentingan terkait, membuktikan bahwa PPN adalah garda depan dalam memajukan peradaban sastra di kawasan.

• Suyadi San


