Jatuh Tujuh Kali, Bangkit Delapan Kali

Berita Terkait

Oleh: Muhibbullah Azfa Manik

Orang Jepang menyebutnya, *“Nana korobi ya oki”*. Kalau diterjemahkan secara lugas, artinya: “Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali.” Ini bukan sekadar peribahasa kuno dari negeri sakura, melainkan sebuah etos hidup yang melekat dalam kultur masyarakat yang pernah luluh lantak oleh bom atom tapi kini menjadi negara adidaya teknologi.

Kita barangkali mengenal ungkapan serupa dalam bahasa Indonesia: *“Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.”* Tapi, tentu ada perbedaan mendasar. Dalam ungkapan Jepang itu, perhitungan antara jatuh dan bangkit sengaja dibuat tak berimbang. Kalau jatuh tujuh kali, mestinya bangkit juga tujuh kali, bukan? Tapi pepatah itu justru menyuruh bangkit *satu kali lebih banyak dari kejatuhan kita*.

Ada filosofi yang dalam di baliknya: bangkit itu bukan sekadar aksi responsif setelah jatuh, melainkan tindakan proaktif untuk mencegah jatuh berikutnya. Ia menjadi perlawanan terus-menerus terhadap keputusasaan.

—

Di era media sosial yang penuh dengan ujaran semangat, kata-kata seperti ini kerap menjadi slogan. Namun di balik kata-kata yang sering menjadi caption di Instagram atau status WhatsApp itu, terkandung perjalanan psikologis dan sosial yang pelik. Bangkit setelah jatuh memang terdengar manis, tapi kenyataannya getir. Terlebih ketika kejatuhan datang bukan sekali dua kali, melainkan berulang-ulang seperti irama buruk dalam hidup.

Jepang sendiri tak sekadar mengumbar kata. Negeri ini adalah contoh nyata filosofi *nana korobi ya oki*. Negara yang dua kota besarnya, Hiroshima dan Nagasaki, hancur lebur pada 1945 oleh bom atom, justru bangkit menjadi kekuatan ekonomi dunia dalam hitungan dekade. Krisis finansial Asia 1997, gempa besar di Kobe 1995, hingga tragedi Fukushima 2011 adalah bukti bagaimana bangsa ini selalu bangkit lebih cepat daripada prediksi dunia.

Tentu saja, bangkit itu tidak selalu berarti sukses langsung. Dalam budaya Jepang, bangkit bisa berarti menerima luka, menata ulang harapan, lalu melangkah dengan bekal baru. Itulah sebabnya Jepang menciptakan seni *Kintsugi*, seni memperbaiki barang pecah dengan emas cair sehingga bekas retaknya justru menjadi bagian dari keindahan. Sebuah piring atau mangkuk tak dianggap cacat karena retak, tapi menjadi berharga karena pernah hancur lalu dipulihkan.

—

Dalam konteks sosial kita hari ini, terutama generasi muda di media sosial, pepatah ini sering kehilangan kedalamannya. Ia sebatas slogan yang manis, padahal di baliknya terdapat proses panjang: penerimaan, pengolahan luka, membangun daya tahan, hingga akhirnya bisa berdiri lagi.

Kita hidup di zaman yang membanggakan *resiliensi*, daya tahan mental untuk terus bangkit dari kegagalan. Tapi di sisi lain, kita juga menghadapi generasi yang mudah lelah dan cemas menghadapi kegagalan. Fenomena *quarter life crisis* adalah salah satu wajahnya. Generasi ini hidup di bawah tekanan pencapaian yang terus dipamerkan lewat Instagram, TikTok, atau LinkedIn. Setiap kegagalan terasa telanjang, karena ada tuntutan untuk selalu terlihat sukses.

Maka, pepatah “jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali” bukan sekadar kata-kata penyemangat. Ia adalah tuntutan untuk mengasah keterampilan menghadapi kegagalan. Psikolog modern menyebutnya *growth mindset*: pola pikir yang memandang kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan peluang untuk belajar.

Carol Dweck, profesor psikologi dari Stanford, mempopulerkan istilah ini. Dalam bukunya *Mindset*, ia menunjukkan bahwa orang dengan growth mindset tak takut gagal karena mereka percaya kemampuan bisa berkembang lewat upaya. Mereka inilah yang, dalam bahasa Jepang, akan selalu bangkit meski jatuh berkali-kali.

—

Namun, tentu saja, bangkit tidak selalu soal kekuatan pribadi semata. Bangkit juga butuh lingkungan yang suportif. Kita bisa menengok bagaimana komunitas, teman, atau keluarga menjadi jaringan pengaman bagi orang-orang yang jatuh. Di Jepang, meski terkenal dengan kedisiplinannya, angka bunuh diri tetap menjadi keprihatinan nasional. Artinya, tanpa dukungan sosial yang kuat, tak semua orang bisa bangkit sendiri.

Kita juga perlu mengingat bahwa bangkit delapan kali bukan berarti harus berlari delapan kali lebih cepat. Kadang-kadang, bangkit berarti berdiam sebentar, merefleksikan diri, atau sekadar menenangkan jiwa yang lelah. Di sinilah seni untuk bangkit menjadi proses yang sangat personal.

Ada kisah menarik dari Steve Jobs. Setelah dipecat dari perusahaan yang ia dirikan sendiri, Apple, Jobs tidak serta-merta bangkit dengan kegemilangan. Ia tersingkir, jatuh, bahkan kehilangan arah. Tapi ia lalu mendirikan NeXT dan Pixar, dua perusahaan yang kemudian memperkaya pengalaman dan inovasinya. Ketika kembali ke Apple, Jobs sudah menjadi pribadi yang lebih matang, lebih “emas” seperti piring dalam seni Kintsugi itu.

—

Di tengah dunia yang serba instan, kita sering lupa bahwa bangkit itu proses panjang, tidak secepat story 24 jam yang menghapus jejak kemarin. Bangkit tidak selalu harus tampak glamor, cukup bisa berdiri dengan luka yang masih basah pun sudah berarti hebat.

Barangkali itu pesan tersembunyi dari *“nana korobi ya oki”*. Bukan soal berapa kali jatuh atau seberapa cepat bangkit, melainkan kesediaan untuk selalu memberi diri kesempatan satu kali lebih banyak daripada jumlah kejatuhan.

Dan jika hari ini Anda merasa sudah jatuh entah untuk yang keberapa kali, barangkali ini saatnya untuk bangkit sekali lagi. Sekali saja lebih banyak.

 

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Korupsi di Tengah Bencana: Ketika Dana Darurat Kehilangan Makna

Oleh: Paimal Andri, S.Sos (Guru, Aktivis Sosial dan Alumni Ilmu Politik UM Sumbar) Bencana selalu menghadirkan dua keadaan sekaligus: penderitaan warga...