4L

Pagi Medan!

Lhoe lagi lhoe lagi (4L) itu yang menjadi alasan dan komen kawan awak kemaren. Mungkin maksud dia percuma terlibat dalam percakapan politik saat ini, karena nantinya yang muncul kepermukaan orangnya itu lagi dan itu lagi. Kalau pun berganti, masih dari kalangan terdekat seperti anak, istri, kolega bahkan cucu.

Oops jangan langsung mikir jelek sama awak dulu karena sering bawa serta cucu dalam cerita-cerita awak yaaaa.

Hehehe, mungkin ini laaaaa arti Plutokrasi yang disebot-sebot kankawan awak saat diskusi politik belakangab ini, hehehe memamng laaa awak lagi syoor pula belajar dan memperhatikan gerak politik kampong awak saat ini.

Awak pon coba cari tau apa laaa itu Plutokrasi. Dari cyberspace awak jumpai kalo itu merupakan sebuah sistem pemerintahan yang kekuasaannya didasari kekayaan alias ketajiran menentukan posisi, hehehe mati atau tak ada laaa arti awak yang tak tajir ni dalam pecaturan politik.

Cak klen perhatikan bahasa Yunani, Plutos, artinya kan kekayaan dan Kratos artinya kekuasaan. Plutokrasi ini keknya muncul saat kekuasaan macam itu terjadi di kota2 Yunani dan beberapa negara lain di eropa dulu, bahkan para fasis Italia, Nazi Jerman dan Komunis Internasional, sampai memanfaatkannya jadi propaganda negatif bagi negara-negara demokratis Barat.

Hehehe iya pulaaaa, negara plutokrasi umumnya dikuasai sekelompok kecil orang yang sangat kaya, sehingga istilah Plutokrasi kemudian menjelma dengan istilah demokrasi dan kapitalisme, dimana saat itu kekuasaan di Amerika Serikat, Inggris dan kaum Yahudi begitu menonjol berkat hartanya.

Bisa klen bayangkan cemana laaa saat para tajir melintir dan kaum hartawan terlibat atau bermain dalam politik negeri. Pemenangnya akan bisa dipastikan 4L.

Kenyataan itu sangat memungkinkan juga terjadi di kampong awak ni laaa. Tak tebayang awak pula cemana kalo kankawan dan orang kampong awak gak menyadari, apalagi sampai silau sama warna2 menarik uang kertas, sehingga suaranya terbeli atau menerima gadai amanah dengan harga rendah.

Awak tak laaa bisa menolak apalagi menyangkal kalo saat ini hidop keras kalee, sehingga pragmatisme bisa aja muncul dan tumbuh subur. Tapiii awak masih yakeeen kalo nurani masih bisa menilai, mana yang lebeh manusiawi antara menjual atau menerima gadai suara yang tak tau akan kemana menebusnya dan bagaimana menagihnya, atau mendukung langsung seseorang menjadi calon mereka dalam percaturan politik.

Jadi kalo awak pribadi sudah mulai berpiker dan meminta orang yang awak yakini cocok memanfaatkan suara dan hak politik awak secara langsung, walau dia perempuan dan millenials sekalee pon. Apalagi konstitusional. Miskeen-miskeen gini malu awak menukar suara awak dengan rupiah. Paling tinggi cuma lima ratus ribu aja pom, tapi awak bisa dijengkali dan nyesal betaon2.

Bagosan awak kasikan fotocopy ktp awak tanda dukungan pencalonan independen dan milihnya saat bisa maju. Hehehehe kan ada kebanggaan siket. Cocok klen rasa?