mimbarumumd.co.id – Pemecahan berbagai persoalan pembangunan global yang muncul saat ini sesungguhnya dapat diatasi dengan menerapkan hisbah.
“Hisbah itu membentuk masyarakat yang berakhlak dan menjalin kesejahteraan masyarakat,” ujar Dr Azrin Ibrahim, akademisi dari Pusat Kajian Pengurusan Pembangunan Islam (ISDEV) Universiti Sains Malaysia.
Dia menjadi pembicara pada kuliah umum berbasis webinar yang digagas Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FIS) Universitas Medan Area, Kamis (8/07/2021).
Hadir pada acara yang diikuti 300 orang peserta dari berbagai daerah di Indonesia itu, Rektor UMA Prof Dr Dadan Ramdan, M.Eng, MSc., Wakil Dekan 1 Fisipol UMA Beby Masitho Batubara, S.Sos, MAP.
Kuliah umum dipandu Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP UMA, Evy Yunita Kurniati S.Sos, MSP dengan tema “Al Hisbah, Solusi Paradoks dan Isu Pembangunan”.
Hisbah, kata Dr Azrin merupakan suatu tindakan mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran. Hisbah merupakan manifestasi untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.
Dr Azrin menjelaskan secara bahasa, hasiba berarti menghitung, mengira, menilai atau
menimbang. Menurut Ibn Manzur (1966), hisbah itu masdar (kata terbitan) dari kata
ihtisaba (mengharapkan balasan dari Allah SWT).
Sedangkan merujuk Ibn Khaldun, al Ghazali, al-Mawardi, hisbah sebagai tugas mengajak kepada perbuatan baik (ma`ruf) dan mencegah perbuatan yang mungkar.
“Hisbah itu untuk membentuk masyarakat yang berakhlak, menjalin kesejahteraan masyarakat,” ujar Dr Azrin.
Tujuan yang lebih khusus, untuk membentuk masyarakat yang berakhlak mulia dan mampu menjauhi segala kemungkaran yang hanya mendatangkan kemurkaan Allah SWT.
”Peranan hisbah mencakupi seluruh horizon dan dimensi kehidupan.”
Menurut akademisi negeri jiran itu, tantangan saat ini adalah melaksanakan dan menerapkan konsep hisbah secara total, menghayati seruan amar makruf nahi mungkar. LSelain itu memberi pendidikan kepada masyarakat dan pelaksana hisbah.
“Bertegas dalam menguatkuasakan undang-undang. Tulus dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab serta akauntabiliti yang tinggi,” tuturnya.
Pada bagian lain kuliah umumnya, Azrin Ibrahim mengatakan, persoalan pembangunan global muncul karena proses pembangunan yang dilakukan tidak mengkaji falsafah, paradigma, teori dan pelaksanaan pembangunan. Persoalan yang muncul itu berimplekasi kepada diri manusia, keluarga, masyarakat dan negara.
Di sisi lain, dalam pembangunan harus juga melihat sudut pandang yakni dari bidang pembangunan ekonomi, politik, sosial, pendidikan dan manajemen pembangunan.
Azrin memaparkan, hisbah memiliki prinsip pengawasan Allah SWT, prinsip pembalasan yang setimpal, prinsip tanggung jawab ke atas perbuatan yang dilakukan, prinsip kewajiban memikul amanah dan prinsip kewajiban mencegah kemungkaran. Peranan hisbah ini mencakup keseluruhan, sehingga hisbah menjadi solusi dalam pembangunan dalam dimensi kehidupan.
Itu memungkinkan karena prinsip itu menyentuh aspek manajemen yakni pelanggaran etika kerja, penyelewengan tugas, penggunaan tenaga manusia dan memantau kualitas kerja. (*)
Reporter : Taufik
Editor : Masrin