WBC Kuasai Tanaman Padi di Indonesia

Berita Terkait

Oleh : Dr. Drs. Martua Suhunan Sianipar (Lektor Kepala pada Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Universitas Padjadjaran)

Padi/ beras merupakan komoditas pangan yang mendapat prioritas utama dalam pembangunan pertanian, sebab merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Kebutuhan beras Nasional setiap tahun meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk Indonesia.

Salah satu kendala dalam peningkatan produksi padi adanya serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) seperti  serangga hama Wereng Batang Cokelat (WBC).

WBC ini merupakan salah satu kendala biologis dalam produksi dan ketahanan pangan di berbagai negara khususnya Asia. WBC sejak tahun 1970 telah menjadi serangga utama tanaman padi di Indonesia hingga saat ini. Bahkan hama ini telah menjadi hama yang mengglobal (The Very Important Global Pest).

- Advertisement -

Di Indonesia WBC disebut sebagai hama Eksekutif dikarenakan serangan berat WBC yang terjadi dimana mana di Indonesia mampu menyebabkan para pejabat Negara maupun daerah ikut sibuk membicarakannya dan menanggulanginya.

Serangan WBC bisa hanya merupakan serangan ringan hingga sampai puso kering seperti terbakar yang dikenal dengan istilah Hopperburn.

Baca Juga : Dua Tahun Tanaman Kopi Diserang Hama

WBC sudah merupakan hama laten yang selalu merusak tanaman padi setiap tahun. Repotnya lagi serangan WBC tidak hanya menimpa tanaman padi sawah saja, tetapi juga pada lahan padi gogo.

WBC juga merupakan serangga hama yang bersifat kosmopolitan yang bergerak dari satu daerah ke daerah lainnya dan dari satu Negara ke Negara lainnnya. Hal ini dikarenakan WBC mampu bermigrasi sampai 200 kilometer, bahkan lebih jauh lagi dari daratan China dan Vietnam Selatan bermigrasi ke Jepang dan Korea.

Berdasarkan informasi para ahli, puncak serangan WBC pada lahan padi di Indonesia terjadi setiap 12 tahun sekali dan ini dimulai pada 1986, 1998 dan tahun 2010, serta bisa saja terjadi pada 2022 yang akan datang.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh WBC adalah tanaman padi mengering dikarenakan WBC ini menghisap cairan sel tanaman. WBC suka sekali menyerang tanaman padi yang diberi pupuk Nitrogen tinggi sepeti Urea dan ini menyebabkan terjadi ledakan populasinya.

Disamping itu WBC secara tidak langsung  merupakan vektor penyakit tanaman padi yang disebabkan oleh adanya Virus Kerdil Rumput (VKR) dan Virus Kerdil Hampa (VKH).

Beberapa faktor peyebab tingginya serangan WBC antara lain dikarenakan akibat pertanaman padi yang intensif, terus menerus menanam padi retan, penggunaan pupuk yang tinggi dan penggunaan insektisida kimia sintetis yang juga terus menerus secara kurang bijaksana.

Baca Juga : 2020, Sumut dapat Bantuan 100 Ribu Hektar Benih Padi

Keberadaan WBC di lahan sawah dipengaruhi  oleh faktor biotik dan abiotik. Faktor Biotik diantaranya yaitu varietas tanaman padi rentan serta keberadaan musuh alami seperti  predator dan parasitoid. Faktor abiotik yang memengaruhi keberadaan WBC di lahan sawah adalah suhu dan kelembaban.

Penelitian yang dilakukan  pada tiga daerah di Jawa Barat pada 2015 – 2016  (Musim kemarau dan Musim Hujan) di tiga ketinggian lahan (dataran rendah di Kecamatan Indramayu-Kabupaten Indramayu; dataran sedang di Kecamatan Sumedang Selatan-Kabupaten Sumedang; dataran tinggi di Kecamatan Ciwidey-Kabupaten Bandung ) di Jawa Barat menunjukkan faktor abiotik seperti suhu dan kelembaban udara di tiga ketinggian lahan :

Dataran rendah musim Kemarau : Suhu antara 30,7 – 32,20C. Kelembaban udara antara 71,5 – 81,1 %; Dataran Sedang musim Kemarau : Suhu antara 21,0 – 23,00C. Kelembaban udara antara 76,2 – 80,3 %;

Dataran Tinggi musim Kemarau : Suhu antara 18,0 – 20,90C. Kelembaban udara antara 72,8 – 92,0 %. Kemudian di Dataran rendah musim Hujan : Suhu antara 25,3 – 27,10C. Kelembaban udara antara 71,5 – 77,2 %;

Dataran Sedang musim Hujan : Suhu antara 21,1 – 23,10C. Kelembaban udara antara 64,6 – 72,0 %.; Dataran Tinggi musim hujan : Suhu antara 18,0 – 20,90C. Kelembaban udara antara 76,5 – 83,2 %.

WBC untuk tumbuh dan berkembang secara optimal membutuhkan suhu antara 20,0 – 30,00C dan suhu ini merupakan kisaran terbaik bagi WBC untuk perkembangannya dan pada suhu inilah justru sering terjadinya Hopperburn pada tanaman padi.

Selanjutnya kelembaban udara antara 70,0 – 85,5 %juga merupakan kisaran optimal bagi peningkatan populasi WBC. Hasil  uji statistik regresi linier sederhana dan uji statistik regresi linier berganda pengaruh suhu dan kelembaban terhadap fluktuasi populasi WBC, hasil ujinya berada pada level menengah hingga sedang.

Dimana peluang signifikansinya > 0,05. Korelasi suhu dan kelembaban udara terhadap fluktuasi populasi WBC tidak selalu sinkron, memang secara alami kelembaban mengikuti suhu tapi hanya cocok dalam suatu interval waktu tertentu saja.

Kemampuan WBC dalam menghadapi fluktuasi suhu dan kelembaban dikarenakan WBC mempunyai apa yang disebut dengan Thermal Regulation yaitu kemampuan WBC mengatur keseimbangan suhu dan kelembaban tubuhnya dengan lingkungan dimana WBC berada.

Keterpengaruhan WBC hanya pada usia stadia-stadia (siklus hidup) WBC, bukan pada fluktuasi populasi. Jadi perubahan cuara di musim kemarau ke musim hujan dan sebaliknya diperkirakan tidak akan menekan populasi WBC.

Kekhawatiran kita terhadap keberadaan WBC tidak perlu berlebihan. Untuk menekan pertumbuhan populasi WBC perlu kehati-hatian  dan ketaatan penerapan teknik budidaya tanaman seperti penggunaan varietas padi berusia pendek, upayakan untuk tidak mengandalkan penggunaan pestisida  tetapi mengutamakan natural control musuh alami.

WBC menerima status hama pada masa Revolusi Hijau dimana penggunaan pestisida kimia sintetis menjadi andalan dalam pemberantasan hama (ingat resurgensi). WBC  tidak akan menjadi hama bila kita taat dalam penggunaan pestisida kimia sintetis. Selain itu disarankan agar petani juga menanam padi Non VUTW disamping penggunaan tanaman padi VUTW.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

- Advertisement -

Berita Pilihan

HMI Cabang Medan Mati Suri

Oleh: Julpahri Tanjung Ketua Umum HMI FIS UINSU Pada tanggal 19 Februari 2024, telah dilaksanakan peresmian renovasi dan revitalisasi Masjid, Student...