Tragedi Masjid Agung Sibolga dan Hilangnya Ruh Sosial Rumah Allah

Berita Terkait

Tragedi di Masjid Agung Sibolga itu hanya bermula dari hal sepele, yakni seorang anak muda yang ingin tidur di dalam masjid.
Arjuna Tamaraya, mahasiswa 21 tahun itu pasti tak pernah tahu bahwa niatnya untuk beristirahat sejenak di rumah Allah akan berujung pada kematiannya.

Ia hanya butuh tempat teduh, tempat aman untuk melepas lelah dini hari. Tapi malam itu, di pelataran masjid yang seharusnya menjadi ruang damai, yang terjadi justru kekerasan dan kemarahan. Nyawa Arjuna melayang. Dan masjid yang dulu menjadi tempat berlindung, kini menjadi saksi bisu pertumpahan darah.

Banyak orang menganggap ini sekadar kasus penganiayaan. Tapi sesungguhnya, tragedi ini membuka luka yang lebih dalam. Tentang bagaimana sebagian besar masjid di negeri ini kehilangan ruh sosialnya.

Di Sumatera Utara, bukan hal baru bila pengurus masjid melarang orang tidur di dalamnya. Alasan klasiknya selalu sama, mulai dari takut kotor, takut hilang barang, hingga takut mengganggu kesucian.

Anehnya, masjid yang seharusnya terbuka bagi siapa pun yang lelah, justru sering terkunci rapat. Begitu saat waktu salat sudah lewat, pintunya langsung terkunci dan pagarnya dikalungi rantai besi dengan gembok besarnya.

Musafir yang ingin numpang rebah, anak jalanan yang butuh keteduhan, atau siapa pun yang sekadar ingin menenangkan diri di rumah Allah, terpaksa mencari tempat lain. Kadang di emperan toko, kadang di trotoar.

Padahal pada masa Rasulullah, masjid adalah rumah semua orang.

Di sana orang tidur, berdiskusi, belajar, bahkan merawat yang sakit. Kaum miskin dan musafir hidup di serambi masjid. Mereka dikenal dengan Ahlus Shuffah, orang-orang yang bernaung di rumah Allah karena tak punya tempat pulang.

Rasulullah tidak mengusir mereka. Beliau malah mendidik, menyapa, dan memberi tempat. Masjid bukan hanya tempat sujud, tapi juga tempat bernafasnya masyarakat.
Kini, masjid berubah jadi bangunan indah tapi dingin. Dilengkapi marmer mahal, tapi tak punya ruang bagi yang tak punya apa-apa.
Masjid dijaga ketat oleh pagar besi, kamera CCTV, dan larangan-larangan kecil yang membuat orang merasa asing di rumah Tuhan.
Tragedi di Sibolga itu seharusnya menggugah nurani kita.

Ketika masjid tak lagi ramah bagi orang yang lelah, ketika rumah Allah menjadi ruang yang menakutkan, mungkin saat itu kita sedang kehilangan makna “rahmatan lil ‘alamin” yang selalu kita banggakan.

Kematian Arjuna bukan hanya tentang penganiayaan. Ia adalah cermin bagaimana kita memperlakukan rumah Allah dan sesama manusia.

Ia mengingatkan bahwa kemewahan bangunan tak berarti apa-apa jika pintunya terkunci untuk yang membutuhkan.
Mungkin sudah waktunya masjid kembali membuka pintu, bukan hanya untuk salat, tapi juga untuk kemanusiaan.

Sebab rumah Allah sejatinya bukan milik takmir, bukan pula milik pengurus, melainkan milik semua hamba yang mencari kedamaian di bawah langit yang sama.

Tulisan ini telah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum 

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Saat Penegak Hukum Memegang Senjata, Siapa yang Mengawasi?

Kita mulai lagi membicarakan tentang UU Perampasan asset. Dan pada kali ini kita sudah sampai pada satu persoalan penting....