mimbarumum.co.id – Bobby Nasution diwawancarai Radio Republik Indonesia (RRI) Pusat terkait kiprahnya dalam kontestasi Pilkada Medan kemarin.
Dalam wawancara itu, Bobby Nasution ditanya beberapa hal. Utamanya progres dalam menyambut Pilkada Medan yang akan dilaksanakan pada 9 Desember 2020 mendatang.
Konon, status Bobby Nasution sebagai menantu presiden memudahkannya dalam mencalonkan posisi wali kota Medan.
“Faktanya, saya tetap turun ke masyarakat, menyerap aspirasi masyarakat. Saya bukan tiba-tiba datang ke masyarakat terus katakan saya ini menantu presiden loh. Bukan itu, tapi saya datang ke masyarakat menawarkan apa solusi yang bermanfaat, Insya Allah, ” katanya.
Urusan bertemu masyarakat, Bobby Nasution telah lebih satu tahun belakangan ini melakukannya.
“Dari bertemu masyarakat, saya jadi paham betul apa yang dibutuhkan dan dinginkan mereka,” lanjutnya.
Baca Juga : Lampu Jalan dan Drainase Jadi Masalah Warga di Medan Deli
“Dan posisi saya sebagai menantu Presiden bukan berarti ada kemudahan atau perlakuan khusus dalam Pilkada ini. Saya tetap berusaha menyerap aspirasi masyarakat untuk berikan solusi,” kata Bobby.
Di masyarakat, justru Bobby Nasution menjual program dan solusi. “Saya dan tim itu menjual program bukan jual posisi menantu. Memang ada keuntungan saya sebagai menantu presiden yakni posisi itu membuat popularitas saya tinggi. Tapi dalam Pilkada dibutuhkan elektabilitas, dan itu yang harus saya usahakan,” sambungnya.
Kemudian ada pula sorotan yang menyudutkan Bobby Nasution sebagai sosok yang belum pengalaman di bidang politik.
Menjawab itu, Bobby Nasution justru bertanya balik, selama ini Medan diurus orang yang berpengalaman hasilnya tidak juga baik. Malah Kota Medan mendapat reputasi buruk di tingkatan nasional.
“Kalau pengalaman politik, birokrasi yang jadi patokan toh Medan juga tak beres juga. Saya selalu dapat keluhan masyarakat, bahwa masih banyak masalah di Medan. Maka itu, yang dibutuhkan masyarakat adalah solusi, bukan pengalaman politik apalagi birokrasi,” tuturnya.
Saat ini, yang dibutuhkan Kota Medan adalah kontribusi milenial. Ide-ide, buah pikir, hingga kreasi dan keberanian anak muda sangat dibutuhkan untuk mengejar ketertinggalan Kota Medan.
“Hari ini memang sudah zamannya yang muda berbuat. Zaman semakin maju dan yang mengerti adalah anak-anak muda. Kita harus sambut perubahan,” kata Bobby.
Di akhir wawancara, Bobby Nasution jelaskan akan fokus pada reformasi birokrasi. Sebab kunci dari persoalan di Kota Medan adalah buruknya birokrasi. (Rel)
Editor : Dody Ferdy