Ramadhan Bulan Penuh Keberkahan

Oleh : Putri Irfani S, S.Pd, Pengajar & Opinion Writer

Tak terasa hari demi hari terus dilewati, bahkan bulan suci yang dinanti akan datang kembali. Sudah semestinya, Ramadhan kali ini harus banyak yang diperbaiki. Mari berbenah diri. Apalagi di tengah merebaknya pandemi Covid-19 yang terus menjangkit masyarakat di seluruh penjuru dunia, mungkin ini adalah musibah yang Allah berikan kepada Makhluk-Nya yang lalai dan tidak menerapkan Hukum-Hukum Nya.

Sebagaimana Firman Allah : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Rûm [30]: 41)

Berbagai cobaan yang menimpa penduduk hampir di seluruh negri. Maka, khususnya kaum muslim tentu harus mempersiapkan diri secara optimal agar bisa meraih sukses pada bulan Ramadhan kali ini.

Karena Ramadhan sesungguhnya adalah momentum untuk melakukan muhasabah terhadap diri individu, masyarakat bahkan negeri. Karena di dalamnya Allah berikan berbagai keberkahan bagi hamba-hamba yang beriman agar dapat kembali melangkah lebih baik dalam setiap amalnya. Allah jadikan Ramadhan sebagai bulan penuh rahmat, ampunan dan berkah.

Adapun sukses Ramadhan bagi seorang Muslim bisa dilihat dalam beberapa aspek. Pertama: Sukses meraih ampunan Allah SWT. Rasul saw. bersabda:

« رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ »

Sungguh rugi seseorang yang ketika (nama)-ku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat atasku. Sungguh rugi seseorang yang bertemu dengan Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu darinya sebelum dosa-dosanya diampuni. Sungguh rugi seseorang yang mendapati kedua orangtuanya dalam keadaan renta, tetapi keduanya tidak (menjadi sebab yang) memasukkan dia ke dalam surga (HR at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim).

Ampunan Allah SWT pada bulan Ramdhan bisa diraih antara lain dengan menunaikan puasa sebaik-baiknya, mengetahui batasan-batasannya dan menjaga diri dari apa saja yang seharusnya dijaga. Rasul saw. pernah bersabda:

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَعَرَفَ حُدُوْدَهُ وَتَحَفَّظَ مِمَّا كَانَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَتَحَفَّظَ فِيهِ كَفَّرَ مَا كَانَ قَبْلَهُ»

Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, mengetahui ketentuan-ketentuannya dan menjaga apa saja yang harus ia jaga selama Ramadhan, akan dihapus dosa-dosanya yang telah lalu (HR Ahmad).

Kedua: Sukses meraih kebaikan Lailatul Qadar. Rasul saw. bersabda:

«إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ وَفِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَهَا فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ وَلاَ يُحْرَمُ خَيْرَهَا إِلاَّ مَحْرُومٌ»

Sungguh bulan (Ramadhan) ini telah datang kepada kalian. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang tidak mendapatkan (kebaikan)-nya maka dia tidak mendapat kebaikan seluruhnya. Tidak ada yang diharamkan dari kebaikannya kecuali orang yang bernasib buruk (HR Ibnu Majah).

Ketiga: Sukses meraih secara maksimal keutamaan pahala amal salih yang dilipatgandakan seperti yang Allah SWT janjikan. Jika kesempatan terbatas itu terlewatkan, tentu itu merupakan kerugian. Karena itu sudah seharusnya setiap Muslim memperbanyak amal shalih selama Ramadhan. Bentuknya bisa berupa tadarus al-Quran, memperbanyak shalat sunnah, membayar zakat dan meningkatkan sedekah, iktikaf, qiyamul lail, amar makruf nahi mungkar, dan amal-amal taqarrub lainnya. Namun demikian, amal shalih yang paling utama di sisi Allah SWT adalah apa saja yang Dia wajibkan.

Dalam sebuah hadis Qudsi Allah SWT berfirman:

مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِمِثْلِ مَا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

Tidaklah hamba-Ku bertaqarub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang Aku fardhukan atas dirinya. Hamba-Ku terus bertaqarrub kepada-Ku dengan amal-amal nawafil hingga Aku mencintai dirinya (HR al-Bukhari, Ibnu Hibban dan al-Baihaqi).

Karena itu amal-amal fardhu tentu harus diprioritaskan sebelum amal-amal sunnah. Ibn Hajar al-‘Ashqalani menyatakan di dalam Fath al-Bari, sebagian ulama besar mengatakan, “Siapa saja yang fardhunya lebih menyibukkan dia dari nafilah-nya maka dia dimaafkan. Sebaliknya, siapa yang nafilah-nya menyibukkan dia dari amal fardhunya maka dia telah tertipu.”

Keempat: Sukses dalam merealisasi hikmah pensyariatan puasa, yakni mewujudkan ketakwaan, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah [2]: 183).

Kiat Sukses Ramadhan

Sukses Ramadhan harus ditempuh melalui dua pendekatan. Pertama, meninggalkan segala perkara yang haram atau sia-sia. Tentu yang pertama harus ditinggalkan adalah apa saja yang membatalkan puasa dan apa saja yang bisa menggagalkan pahala puasa. Rasul saw. bersabda:

«الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى الصِّيَامُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا»

Puasa itu perisai. Karena itu janganlah seseorang berkata keji dan jahil. Jika ada seseorang yang menyerang atau mencaci, katakanlah, “Sungguh aku sedang berpuasa,” sebanyak dua kali. Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, bau mulut orang berpuasa lebih baik di sisi Allah ketimbang wangi kesturi; ia meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya demi Diri-Ku. Puasa itu milik-Ku. Akulah Yang lansung akan membalasnya. Kebaikan (selama bulan puasa) dilipatgandakan sepuluh kali dari yang semisalnya (HR al-Bukhari).

Kedua, menunaikan perkara-perkara wajib maupun sunnah. Yang utama tentu menunaikan puasa, kemudian qiyamul lail dengan dilandasi keimanan dan semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Rasul saw. bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dan menghidupkan Ramadhan dengan dilandasi keimanan dan semata-mata mengharap ridha Allah SWT niscaya diampuni dosanya yang telah lalu. Siapa saja yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan dilandasi keimanan dan semata-mata mengharap ridha Allah SWT niscaya diampuni dosanya yang telah lalu (HR at-Tirmidzi).

Hadis ini sekaligus menunjukkan kiat sukses meraih kebaikan Lailatul Qadar, yaitu menghidupkan malam tersebut dengan memperbanyak ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT.

Mewujudkan Takwa

Takwa bisa dimaknai sebagai kesadaran akal dan jiwa serta pemahaman syar’i atas kewajiban mengambil halal dan haram sebagai standar bagi seluruh aktivitas, yang diwujudkan secara praktis (‘amali) di dalam kehidupan. Menurut Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, makna firman Allah SWT ”la’allakum tattaqun” yakni agar dengan puasa itu Allah mempersiapkan kalian untuk meraih takwa, yaitu melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-larangan-Nya (Al-Jazairi, Aysar at-Tafasir, I/80).

Hal senada dinyatakan oleh Imam an-Nawawi di dalam Syarah Shahih Muslim.

Selain menjadi hikmah puasa yang mesti diraih oleh setiap individu Muslim, takwa juga harus terwujud di dalam keluarga dan masyarakat. Kunci mewujudkan ketakwaan individu, keluarga maupun masyarakat tidak lain dengan menerapkan syariah Islam secara formal dan menyeluruh (kaffah).

Penerapan syariah Islam secara secara formal dan menyeluruh menjadi kunci mewujudkan keimanan dan ketakwaan penduduk negeri. Penduduk negeri yang beriman dan bertakwa adalah mereka yang secara bersama-sama melaksanakan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya. Mereka secara bersama-sama menjadikan hukum-hukum Allah, yakni syariah Islam, untuk mengatur kehidupan mereka. Dalam pandangan Islam, penerapan syariah secara formal dan menyeluruh jelas memerlukan institusi negara. Negaralah pihak yang menerapkan syariah secara formal dan menyeluruh.

Totalitas Takwa

Perlu dipahami bahwa tak hanya puasa yang bisa mengantarkan pelakunya meraih derajat takwa. Di dalam Alquran sendiri tak hanya ayat tentang kewajiban puasa yang diakhiri dengan frasa; laallakum tattaqun (agar kalian bertakwa). Di dalam beberapa ayat lain Allah SWT juga berfirman, antara lain:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai manusia, beribadahlah kalian kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah [2] 21).

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

Bagi kalian, dalam hukum qishash itu ada kehidupan, wahai orang-orang yang memiliki akal, agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah [2]: 179).

وَ أَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus (Islam). Karena itu ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan lain hingga kalian tercerai-berai dari jalan-Nya. Yang demikian Allah perintahkan agar kalian bertakwa (TQS al-Anam [6]: 153).

Berkaitan dengan ayat-ayat di atas jelas bahwa tak cukup dengan puasa orang bisa meraih derajat takwa. Ibadah (yakni totalitas penghambaan kita kepada Allah SWT), pelaksanaan hukum Allah yaitu qishash serta keberadaan dan keistiqamahan kita di jalan Islam dan dalam melaksanakan seluruh syariah Islam, semua itulah yang bisa mengantarkan diri kita meraih derajat takwa.

Takwa seperti yang didefinisikan oleh sebagian Salafus Shâlih adalah: Takut kepada Allah Yang Maha Agung (al Jalîl), menerapkan wahyu yang diturunkan (at Tanzîl) dan mempersiapkan diri terhadap hari keberangkatan/kematian (ar Rahîl).

Takut kepada Allah mampu menjadikan seorang individu dekat dan tunduk kepada-Nya. Ia diselimuti oleh suasana penuh keimanan yang kuat. Bahkan, seperti yang kita ketahui peperangan terbesar yang pertama di dalam Islam adalah perang Badar yang dilakukan kaum Muslim pada bulan Ramadhan, ketika perasaan mereka diliputi dengan taqarrub kepada Allah.

Akan tetapi para sahabat ra telah memikul beban yang berat itu dengan rasa senang dan gembira. Dalam hal ini para sahabat ra merupakan sosok terbaik yang patut diteladani. Mereka adalah generasi terbaik dari umat terbaik yang diturunkan untuk seluruh manusia ini.

Puasa yang mereka jalankan tidak menghalanginya untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban yang amat berat, seperti berperang dan jenis-jenis perbuatan berat lagi mulia lainnya. Bahkan hal tersebut makin mendekatkan diri mereka kepada Allah dan menambah dorongan mereka untuk berkorban, baik harta ataupun yang lain. Demikianlah sejarah telah mencatat perang Badar Kubra terjadi pada bulan Ramadhan, begitu juga penaklukkan kota Makkah al-Mukarramah terjadi di bulan yang diberkati ini.

Kemudian kisah  para sahabat, seperti Sa’ad bin Abi Waqash pada (perang qodisiyah), Amru Bin Ash (pembuka mesir/babilonia), Thariq Bin Ziyad (pembuka Andalusia) hingga Muhammad Al-Fatih (penaklukan konstantiniyah)  adalah para pahlawan yang mengikuti jejak Rasulullah SAW, memimpin perang pada bulan Ramadhan dan memenangkannya, Para sahabat ra memaknai  bahwa Allah telah mewajibkan shaum Ramadhan atas kaum Muslim, serta menjadikannya sebagai bulan untuk berlomba-lomba melakukan amal kebaikan dan amal shaleh.

Mereka sangat memegang teguh sabda Rasulullah SAW: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkati. Allah membukakan (dan menurunkan) untuk kalian rahmat, mengosongkan (menghapuskan) kesalahan-kesalahan, mengabulkan doa. Allah SWT melihat persaingan kalian  dan para Malaikat menyenangi kalian. Allah akan menyirami kalian dengan kebaikan. Dan sungguh celaka siapa saja yang telah diharamkan atasnya rahmat Allah ‘azza wa jalla.” [HR. Thabrani dari Ubadah bin Shamit].

Beginilah gambaran yang seharusnya kita lakukan agar meraih takwa sebagaimana yang diraih oleh  generasi salaf umat terdahulu, berupa keagungan dan kemuliaan dari Allah atas amal mereka. Semua itu merupakan persiapan untuk menghadapi ‘hari penggiringan’, yakni Hari Kiamat.

Dengan demikian, jika memang takwa adalah buah dari puasa Ramadan yang dilakukan oleh setiap Mukmin, idealnya usai Ramadan, setiap Mukmin senantiasa berupaya menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Tentu dengan mengamalkan seluruh syariah-Nya baik terkait akidah dan ubudiah; makanan, minuman, pakaian dan akhlak; muamalah (ekonomi, politik, pendidikan, pemerintahan, sosial, budaya, dll); maupun uqubat (sanksi hukum) seperti hudud, jinayat, tazir maupun mukhalafat.

Bukan takwa namanya jika seseorang biasa melakukan shalat, melaksanakan puasa Ramadan atau bahkan menunaikan ibadah haji ke Baitullah; sementara ia biasa memakan riba, melakukan suap dan korupsi, mengabaikan urusan masyarakat, menzalimi rakyat dan menolak penerapan syariah secara kâffah.

Semoga Ramadan tahun ini lebih baik dari Ramadan sebelumnya. Dan mari sama-sama menjadikan diri termasuk bagian dari generasi terbaik di era millinial saat ini, yang mampu memanfaatkan momentum Ramadhan dalam meraih kemuliaan dengan mengerjakan amalan-amalan utama untuk merevisi keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bishshawab.