mimbarumum.co.id – Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) bersama Perpustakaan Nasional RI dan Sanggar Pelakon menggelar rangkaian puncak peringatan “Seabad Setahun Asrul Sani: Intelektualitas, Jejak Karya, dan Sineas Indonesia” pada 9–17 Juni 2026 di Perpustakaan Nasional, Jakarta. Rangkaian acara ini meliputi Dialog Budaya, Seminar Nasional, Peluncuran Buku, serta Pameran Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani.
Ketua Umum HISKI, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. kepada Mimbar Umum Online mengatakan bahwa peringatan seabad setahun Asrul Sani bukan sekadar seremonial, melainkan momentum strategis untuk merefleksikan warisan intelektual salah satu tokoh terpenting dalam sejarah sastra, teater, dan perfilman Indonesia.
“Kami ingin meluruskan narasi bahwa Asrul Sani adalah putra bangsa yang multidimensi. Selama ini publik lebih mengenal beliau sebagai sastrawan Angkatan ’45 dan sineas legendaris. Namun Asrul Sani juga seorang pemikir teater, kritikus budaya, dan intelektual humanis yang gagasan kebudayaannya—yang tertuang dalam Surat Kepercayaan Gelanggang—sangat menentukan arah kebudayaan Indonesia pascakemerdekaan.
Melalui rangkaian kegiatan ini, HISKI berkomitmen mengukuhkan posisi Asrul Sani secara akademik sekaligus memasyarakatkan pemikirannya kepada generasi muda,” ujar Prof. Novi di Jakarta, Sabtu (2/5/26).
Menurutnya, puncak acara diawali dengan Peluncuran Buku “Seabad Setahun Asrul Sani: Intelektualitas, Jejak Karya, dan Sineas Indonesia”, Rabu (10/6/26), pukul 09.00 WIB secara hibrida (Zoom dan YouTube Live Perpustakaan Nasional).
“Buku ini merupakan antologi tulisan 86 penulis termasuk sambutan Menteri Kebudayaan dan Kepala Perpusnas serta 52 penulis dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia yang sebelumnya mengikuti lokakarya penyamaan persepsi pada 20 Februari 2026,” katanya.
Buku setebal lebih dari 1600 halaman dan 2 jilid ini dieditori tim akademisi terkemuka: Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., Syusiki Syuski Salehuddin Sani (keluarga almarhum), Dr. M. Yoesoef, M.Hum., Sudartomo Macaryus, M.Hum. serta Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum.
“HISKI ingin menunjukkan bahwa Asrul Sani adalah cermin bagi Indonesia yang terus bergerak. Buku ini tidak hanya mengenang, tetapi juga menafsir ulang karya dan pemikiran beliau dalam konteks kekinian—mulai dari ekologi sastra, psikoanalisis tokoh Nagabonar, eksistensialisme dalam puisinya, hingga kritik ideologi kebudayaan modern. Ini bukti bahwa Asrul Sani tetap relevan sebagai objek kajian lintas disiplin,” tambah Prof. Novi.
Sehari sebelumnya, Selasa (9/6/26), akan digelar Dialog Budaya pukul 09.00–12.00 WIB dengan menghadirkan pembicara tingkat nasional seperti Prof. (H.C.) Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc. (Menteri Kebudayaan Republik Indonesia), Prof. Dr. Jimly Assiddiqie, S.H., M.H. (mantan Ketua MK RI), Eros Djarot (budayawan, sineas, dan politikus, Prof. Riris K. Toha-Sarumpaet, M.Sc., Ph.D. (akademisi dan penulis), dan S.M. Gietty Tambunan, M.Hum., M.A., Ph.D. (akademisi Universitas Indonesia).
Dialog yang akan dimoderatori Dr. Ibnu Wahyudi, M.A. (HISKI UI) ini membahas Asrul Sani dari berbagai sudut: sebagai intelektual publik, pembaru teater, “sastrawan terkaya”, hingga humanisme yang merangkul keberagaman.
Pada pukul 13.00–16.00 WIB, Seminar Nasional menghadirkan narasumber Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. dengan topik “Asrul Sani dan Dialektika Kebudayaan Indonesia: dari Imajinasi Estetik ke Kritik Kultural”, Dr. Tengsoe Tjahjono, M.Pd. “Konstruksi Indonesia dalam Dunia Batin Asrul Sani”, Prof. Diah Ariani Arimbi, M.A., Ph.D. “Asrul Sani, Otonomi Estetik, dan Negativitas Seni: Kritik Ideologi dalam Kebudayaan Indonesia Modern”.
Selain itu, materi pendukung dari Dr. Much. Koiri, M.Si. (“Beyond the Author: Asrul Sani sebagai Sponsor Literasi”) dan Hety Setiawati, M.P. (“Kiprah Asrul Sani dalam Khazanah Koleksi Langka Perpustakaan Nasional”). Moderator seminar adalah Dr. M. Yoesoef, M.Hum.
Sepanjang 9–17 Juni 2026, Perpustakaan Nasional juga akan menyelenggarakan Pameran Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani yang dibuka untuk umum pukul 09.00–16.00 WIB. Pameran menampilkan arsip langka, naskah asli, foto-foto pementasan, skenario film, serta edisi pertama Tiga Menguak Takdir (1950) yang diterbitkan Asrul Sani bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin.
“Asrul Sani mengajarkan kita bahwa sastra, teater, dan film bukanlah sekadar hiburan, melainkan medan perjuangan kemanusiaan dan kebudayaan. Warisannya adalah cara kita membaca Indonesia: dengan kegelisahan yang jujur, keberanian yang estetis, dan tanggung jawab etis sebagai anak bangsa. HISKI akan terus mengawal agar pemikiran Asrul Sani tidak lekang oleh zaman,” sebut Novi.
Peringatan Seabad Setahun Asrul Sani akan menjadi tonggak penting dalam historiografi sastra dan budaya Indonesia. Buku tersebut direncanakan akan didistribusikan ke perpustakaan perguruan tinggi di seluruh Indonesia dan diikutsertakan dalam program digitalisasi Perpusnas agar dapat diakses secara luas oleh publik.
• Suyadi San



