PPN XIII Tekankan Mutu sebagai Ukuran Utama Puisi

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Kritikus sekaligus kurator Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII Maman S. Mahayana menegaskan prinsip dasar kuratorial yang dilakukan untuk meloloskan kepesertaan melalui puisi. Menurutnya, karya puisi harus dinilai dari mutu dan kebaruannya, bukan dari siapa penulisnya.

“Ada yang bertanya, siapa anak muda yang karyanya masuk? Jawabannya ada di karya itu sendiri. Pertimbangan utama selalu kesesuaian dengan tema dan kebaruan karya—sejauh mana ia menghadirkan sesuatu yang segar dan layak dibicarakan,” ujar Maman. Hal itu disampaikannya dalam Diskusi Publik Penyair Asia Tenggara & Pentas Puisi di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu (6/9/25).

Mantan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia itu menambahkan, meski unsur subjektivitas tidak bisa dihindari, keputusan kuratorial harus tetap bisa dipertanggungjawabkan.

“Kalau ada yang ingin berdebat, silakan, bahkan sampai malam pun kita siap. Karena dasar penilaiannya jelas, bukan sekadar suka atau tidak suka. Kalau puisinya memang bagus, harus diakui bagus,” tegasnya.

Bagi Maman, sikap kuratorial juga menyangkut politik bahasa dan sikap hidup. Ia berharap para penyair bukan hanya menulis tentang perdamaian, tetapi juga hidup dengan damai.

“Jangan sampai puisinya bicara perdamaian, tetapi penulisnya justru penuh pertentangan. Itu berbahaya,” katanya.

Di forum sama, Wakil Ketua Panitia PPN XIII Mustafa Ismail mengatakan, PPN XIII dirancang sebagai festival inklusif, bertahap, dan partisipatif.

“PPN XIII tetap kami laksanakan pada 11–14 September 2025. Malam pembuka akan kita gelar dengan menghadirkan nuansa Betawi sebagai gerbang temu penyair. Hari berikutnya seminar dan lokakarya berlangsung sejak pagi hingga sore, disambung pentas anak muda sebagai ruang regenerasi,” ujarnya.

Ia menekankan, PPN XIII tidak semata seremoni tahunan, melainkan kerja kolaboratif yang menghubungkan komunitas sastra dari berbagai penjuru. Ruang kreatif independen di Jakarta akan ikut terlibat melalui kelas menulis, panggung terbuka, dan tur sastra.

“Prioritas tahun ini adalah keterlibatan publik. Kami ingin memastikan panggung-panggung PPN XIII tidak eksklusif, melainkan memancing partisipasi warga, terutama generasi muda,” kata Mustafa.

PPN XIII disusun dengan agenda empat hari kegiatan:

11 September (Malam): Pembukaan dengan nuansa budaya Betawi; temu penyair & pentas pembuka.

12 September: Seminar sejak pagi; pentas anak muda pada petang.

13 September (Pagi–Siang): Kunjungan literasi di Perpusnas; pembacaan puisi, orasi literasi Kepala Perpusnas, kuliah umum Riri Satria.

14 September: Panggung besar PPN bertema Asia Tenggara; kolaborasi lintas negara.

Mustafa menyoroti pentingnya tema perdamaian, migrasi, dan krisis kawasan dalam festival ini. Menurutnya, puisi dapat berfungsi sebagai jembatan imajinasi antarbangsa sekaligus ruang dialog ketika diplomasi resmi menemui kebuntuan.

“Kami ingin PPN XIII menjadi festival yang tidak hanya merayakan puisi, tapi juga menghubungkan bangsa-bangsa. Puisi adalah cara halus untuk membangun empati dan persaudaraan,” pungkasnya.

• Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img
spot_img

Berita Pilihan

Sultan Deli XIV: Pembangunan Rendah Karbon Keniscayaan, Kolaborasi Multi-Pihak Jadi Kunci

mimbarumum.co.id - Sultan Deli XIV, Seri Paduka Tuanku Mahmud Arya Lamantjiji Perkasa Alam Shah, menegaskan bahwa Pembangunan Rendah Karbon...