PLN: Dari Penerang Jadi Peneror

Berita Terkait

Abu Haris terperanjat saat pintu rumahnya diketuk. Yang berdiri di depan bukan tetangga, bukan pula kawan lama yang ingin berbincang. Melainkan petugas PLN. Bukan untuk memfoto meteran, melainkan menyodorkan secarik kertas kecil berstempel merah: Target Operasi.

Baru telat beberapa hari dari jatuh tempo, Abu Haris diperlakukan seolah maling listrik. Padahal, ia menunggak bukan karena tak mau membayar, melainkan karena isi dompet sudah lebih dulu habis dipaksa menghadapi kebutuhan yang tak ada habisnya. Beras makin melambung, bawang merah sudah jadi raja kenaikan, biaya sekolah anak tak berhenti menagih. Gaji tetap yang diterimanya serasa garam di lautan, hilang tak bersisa sebelum sempat disimpan.

Tagihan listrik Haris pun tak besar, tak sampai tiga ratus ribu. Strom itu dipakai bukan untuk pesta kemewahan, hanya untuk lampu, masak, dan anak-anak belajar. Namun secarik kertas putih itu menjelma gertakan: kalau miskin, jangan pasang listrik. Kalau tak mampu bayar, bersiaplah hidup dalam gelap.

Abu Haris membayangkan jika aliran listrik benar-benar diputus. Malam akan gulita. Anak-anaknya tak bisa belajar, masak terhenti, air tak lagi mengalir karena pompa mati, bahkan tidur pun akan sulit karena kipas sederhana berhenti berputar. Bagi rakyat kecil, pemutusan listrik bukan sekadar sanksi administratif, tapi hukuman yang merampas hak hidup paling mendasar.

Ironisnya, di balik gertakan ini, direksi dan komisaris PLN tetap aman dalam kenyamanan gaji miliaran, insentif berlapis, tunjangan berlimpah dengan jumlah yang mungkin tak akan habis dimakan tujuh keturunan. Sementara rakyat di bawah, baru menunggak ratusan ribu saja sudah diteror dengan surat merah. Jangan-jangan, surat itu bukan sekadar peringatan, melainkan cara untuk memastikan uang gaji dan insentif mereka tidak pernah terlambat cair.

Naudzubillah. Beginikah rupa wajah negara saat hadir di rumah rakyatnya? Bukan memberi penerangan, melainkan menyebar ketakutan. Bukan membawa solusi, melainkan menambah derita.

Islam mengajarkan bahwa pemimpin sejati adalah pelayan umat. Umar bin Khattab pernah khawatir jika seekor keledai di Irak tergelincir, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Bandingkan dengan para pejabat kita hari ini. Rakyat menjerit karena listrik terancam diputus, sementara mereka asyik mengatur pembagian bonus dan tunjangan.

Sudah saatnya kita bersuara lebih keras. Jangan biarkan listrik yang mestinya jadi hak dasar rakyat, dijadikan alat untuk menekan dan meneror. Negara ini tidak boleh dipimpin oleh logika korporasi yang hanya menghitung laba-rugi, sambil menutup mata terhadap penderitaan rakyat kecil.

Kalau PLN terus bermental korporasi, jangan salahkan bila rakyat mulai melihat bahwa listrik di negeri ini lebih banyak menyala untuk menghidupi istana dan gedung-gedung megah, ketimbang menerangi rumah-rumah sederhana yang justru membayar dari sisa keringat terakhirnya.

Tinggalkan Balasan

spot_img
spot_img

Berita Pilihan

Hukuman Mati untuk Koruptor, Benarkah Membuat Mereka Takut?

Kita sudah berbicara tentang bagaimana negara ingin memiliki kewenangan yang lebih kuat untuk mengejar dan merampas harta hasil kejahatan....