mimbarumum.co.id – Peran umat beragama dinilai memiliki posisi strategis dalam mendorong kebangkitan Indonesia di berbagai sektor. Hal tersebut mengemuka dalam acara Muhasabah Menyambut Pergantian Tahun Baru 2026 yang digelar di VIP Aksara Khupi, Medan, Selasa malam (31/12/2025). Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh agama, cendekiawan, akademisi, dan masyarakat.
Pembicara utama, Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA, yang dikenal sebagai mujaddid Asia Tenggara, menekankan pentingnya menjaga kesatuan bangsa sebagai fondasi utama kebangkitan nasional. Menurutnya, umat beragama harus tampil sebagai perekat sosial di tengah tantangan kebangsaan yang semakin kompleks.
“Kesatuan bangsa adalah syarat mutlak. Tanpa persatuan, kebangkitan hanya akan menjadi slogan,” ujarnya.
Prof. Syahrin juga mendorong umat untuk memahami dan mengawal kebijakan pemerintah secara objektif, termasuk program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), agar benar-benar berdampak pada perbaikan kualitas bangsa. Selain itu, ia menyoroti pentingnya pendekatan ecoteologi sebagai tanggung jawab moral dan keagamaan dalam menjaga lingkungan hidup dari kerusakan.
Dalam paparannya, ia menyebut sejumlah indikator kebangkitan Indonesia, antara lain adanya perjuangan menuju kemandirian bangsa, penguatan ketahanan pangan, serta kebijakan hilirisasi sumber daya alam.
Namun demikian, ia mengingatkan masih terdapat berbagai persoalan serius, seperti rendahnya kualitas sumber daya manusia, ketimpangan wacana antara pemerintah dan sebagian tokoh agama, politisasi lembaga keagamaan, serta adanya “dosa kolektif” bangsa akibat pembiaran terhadap berbagai masalah sosial.
Pembicara lainnya, kandidat calon Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Mandailing Natal, Dr. H. Sori Monang Rangkuti, mengajak umat Islam menjadikan setiap hari lebih baik dari hari sebelumnya sebagai prinsip utama dalam kehidupan beragama dan berbangsa.
Ia menyampaikan keprihatinannya terhadap semakin rendahnya minat baca di kalangan mahasiswa Indonesia jika dibandingkan dengan mahasiswa di sejumlah negara lain. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi melemahkan daya saing generasi muda di tingkat global.
Selain itu, Dr. Sori Monang juga menyoroti menurunnya kemampuan menghafal Al-Qur’an di kalangan generasi saat ini, serta maraknya persoalan kerusakan moral yang terjadi di sejumlah pesantren. Ia menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama para pendidik, ulama, dan pemangku kebijakan.
“Belajar tidak boleh dipisahkan dari nilai ibadah. Ketika ilmu diniatkan sebagai ibadah, maka akan melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berakhlak,” tegasnya.
Acara muhasabah tersebut berlangsung khidmat dan ditutup dengan doa bersama sebagai refleksi spiritual menyambut tahun baru 2026, dengan harapan umat beragama dapat mengambil peran lebih aktif dalam membangun Indonesia yang berdaulat, berkeadilan, dan bermartabat.
Reporter: Ngatirin


