mimbarumum.co.id – Ikatan Profesi Komputer Informatika Indonesia (IPKIN) Cabang Sumut menyoroti pengakuan Plt Wali Kota Medan Akhyar Nasution kepada media beberapa saat lalu.
Akhyar mengaku bahwa akun WhatsApp pribadinya diretas. Namun, ia tidak secara terbuka menyampaikan kepada publik untuk melaporkan peristiwa tersebut kepada pihak kepolisian.
Sekretaris Umum IPKIN Cabang Sumut, Fauzan Nurahmadi menduga Akhyar terindikasi menyebarkan hoax karena tidak melaporkan kasus peretasan WhatsApp itu ke polisi.
Baca Juga : Survei MIDE Agustus, Elektabilitas Bobby TertinggiÂ
“Saya pribadi merasa sedikit aneh jika hanya WA yang teretas. Karena untuk masuk ke WA harus ada nomor handphone. Nomor handphone itu pasti terkoneksi ke akun medsos lain. Mungkin ini perlu didalami lagi. Saya pribadi sarankan harus dilaporkan, bukan dibiarin,” ucapnya, Senin (14/9/2020).
Kata Fauzan, jika WA diretas, ciri-cirinya yang paling nyata, saat diretas ketika kita matikan handphone kita atau paket data kita, di status WA teman kita itu akan selalu online.
“Tapi kalau mau ditrace butuh waktu tidak terlalu lama, untuk mencari asal muasalnya. Biasanya kurang lebih 2-3 jam sudah diketahui siapa yang meretas handphone atau WhatsApp-nya,” ucap dia.
Sementara itu, dari aspek konstitusional, akademisi Universitas Sumatera Utara (USU) Dr Mirza Nasution menyebutkan kontestasi Pilkada Kota Medan perlu mendapat pengawalan yang ketat oleh rakyat.
Hal ini, dikatakan Mirza mengapa perlu, agar dapat meningkatkan partisipasi publik dalam pilkada serentak mendatang.
“Ya hukum memastikan kontestasi Pilkada Kota Medan kedepan itu dilaksanakan secara jujur dan adil, dan dikawal oleh rakyat melalui demokrasi yang sehat ini,” katanya.
Tema pada Ngobrol Pagi IPKIN Sumatera Utara ini merujuk pada situasi dan kondisi dalam tahapan menuju Pilkada serentak Rabu 9 Desember 2020 mendatang, terutama untuk pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan yang sedang berlangsung. (rel)
Editor : Dody Ferdy