Oleh: Ngatirin
Tepat pukul 09.00 WIB, bus Hiace yang kami tumpangi mulai meninggalkan titik keberangkatan. Sebanyak 14 orang ikut dalam perjalanan itu. Kami memilih melintasi jalan tol dengan harapan waktu tempuh bisa lebih singkat sehingga dapat tiba lebih cepat di tujuan: Yayasan Akbar Insan Cendekia, Kabupaten Labuhanbatu Utara.
Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan biasa. Kami memenuhi undangan Dr. Tohar Bayoangin Harahap, pendiri Yayasan Akbar Insan Cendekia. Hubungan kami bukan hanya sebatas saling mengenal. Kami bertetangga dan sama-sama tergabung dalam wadah Serikat Tolong-Menolong (STM) Rukun di kawasan Desa Tembung, Percut Sei Tuan. Dengan penuh kehangatan, beliau mengajak kami melihat langsung sekolah yang dirintisnya di kampung halaman sang istri.
Seperti lazimnya sebuah perjalanan, obrolan di dalam bus mengalir tanpa jeda. Tawa sesekali pecah, lalu berganti dengan diskusi yang lebih serius. Ketika melintasi ruas tol, kami merasakan permukaan jalan yang bergelombang. Perbincangan pun beralih membandingkan kualitas jalan tol di Sumatera dengan yang ada di Pulau Jawa.
Tak lama kemudian, saat memasuki Jalan Lintas Sumatera, bus yang kami tumpangi menghantam lubang lumayan dalam hingga seluruh penumpang nyaris terpental dari kursinya. Suasana yang semula riuh seketika berubah menjadi gumaman panjang tentang kondisi infrastruktur jalan di Sumatera Utara yang masih jauh dari harapan.
Belum selesai topik itu, kami kembali disuguhi pemandangan antrean panjang bus dan truk di tepi jalan. Dugaan kami sama: kendaraan-kendaraan itu sedang menunggu giliran mengisi bahan bakar. Lagi-lagi, obrolan bergeser membahas persoalan BBM yang seolah tak pernah benar-benar menemukan jalan keluar di negeri ini.
Sekitar pukul 13.10 WIB, kami akhirnya tiba di Yayasan Akbar Insan Cendekia yang beralamat di Dusun VIII Simpang Siranggong, Desa Damuli Pekan, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara.
Bus baru saja berhenti, Dr. Tohar Bayoangin Harahap bersama istri sudah berdiri menyambut kami. Senyum hangat dan jabat tangan yang erat seolah menghapus lelah selama perjalanan. Kami dipersilakan memasuki ruang rapat yayasan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati minuman pelepas dahaga.
Tak lama kemudian, kami pun melaksanakan salat berjemaah bersama sebelum melanjutkan agenda berikutnya.
Usai salat, kejutan menyenangkan sudah menunggu. Kami diajak menikmati makan siang di Rumah Makan Gunawan yang berada di tepian Sungai Kualuh. Semilir angin sungai yang ditimpali guyuran hujan berpadu dengan sajian ikan baung khas Labuhanbatu Utara yang baru diangkat dari dapur.
Sepanjang perjalanan tadi, kami sempat berseloroh, “Kalau ke Labura, enaknya makan ikan baung.”
Rupanya, doa kecil itu langsung dikabulkan. Benarlah pepatah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Setiap suapan terasa begitu nikmat, apalagi disantap bersama sahabat dalam suasana penuh keakraban.
Di sela-sela makan siang, obrolan pun mengalir ke banyak hal. Dr. Tohar Bayoangin Harahap didampingi istti bercerita banyak hal, termasuk sekolah yang ia kelola. Wajahnya memancarkan rasa syukur ketika menyebut jumlah peserta didik di sekolah yang dirintisnya kini sudah mendekati seribu orang.
“Alhamdulillah, sekarang jumlah siswa kami sudah hampir 1.000. Ternyata mengelola siswa sebanyak itu lumayan repot dan melelahkan. Padahal kami tetap menerapkan proses seleksi, tetapi peminat yang ingin bersekolah di sini terus bertambah,” tuturnya.
Menurutnya, perkembangan yayasan tersebut juga mulai menarik perhatian berbagai kalangan. Wakil Gubernur Sumatera Utara periode 2018-2023, Musa Rajekshah, misalnya, telah dua kali berkunjung. Salah satu kunjungan itu untuk meresmikan masjid yang berdiri di lingkungan sekolah. Belum lama ini, Rektor UIN Sumatera Utara juga datang berkunjung yang kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara yayasan dan UIN Sumatera Utara, terutama dalam kerja sama penerimaan mahasiswa baru.
Namun, keramahan tuan rumah rupanya belum berhenti di meja makan.
Setelah kembali ke lingkungan sekolah, Dr. Tohar kembali membuat kami tersenyum. Ia bercerita bahwa dirinya telah meminta sang adik menyiapkan jagung rebus dan kacang rebus untuk menemani kami “bergadang” malam nanti. Bahkan, ia juga telah membeli ikan segar yang akan dibakar bersama di halaman sekolah full day school yang asri itu.
Perhatian-perhatian kecil semacam itulah yang membuat kami merasa benar-benar dihargai sebagai tamu. Sambutan yang diberikan bukan sekadar formalitas, melainkan lahir dari ketulusan seorang sahabat.
Kegembiraan rombongan semakin lengkap ketika Dr. Tohar mempersilakan kami mengambil joran yang telah disiapkan. “Silakan kalau ada yang mau mancing,” ujarnya sambil menunjuk kolam ikan yang berada di kawasan sekolah.
Kalimat sederhana itu langsung disambut antusias. Beberapa kawan yang memang hobi memancing nyaris tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Bagi mereka, perjalanan ini seolah mendapat bonus yang tak pernah direncanakan.
Di tempat itu kami semakin menyadari bahwa sebuah perjalanan tidak selalu dikenang karena jauhnya jarak yang ditempuh. Kadang, yang paling lama tinggal dalam ingatan justru adalah sambutan yang tulus, hidangan yang disajikan sepenuh hati, dan persahabatan yang terus menghangatkan, bahkan jauh setelah perjalanan usai.


