mimbarumum.co.id – Memories to Remember. Tulisan hangat itu terpampang jelas di papan mading saat melangkah memasuki kantor Pertamina Aviation Fuel Terminal (AFT) Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara. Kalimat ini membuat penasaran akan makna dibaliknya.
Sambutan ramah berupa senyum cerah dari AFT Manager, I Made Derta, menjadi memori tersendiri saat datang ke AFT Kualanamu, beberapa waktu lalu.
Berdiri sejak tahun 2013 di atas lahan seluas 80.000 meter persegi, AFT Kualanamu bukan sekadar tempat penyimpanan bahan bakar biasa. Terminal ini memegang peranan krusial sebagai pemasok utama avtur bagi sekitar 30 hingga 60 penerbangan pesawat setiap harinya.
Dengan rata-rata penyaluran mencapai sekitar 300 kiloliter (KL) per hari, fasilitas ini berdiri kokoh dengan kapasitas tangki penimbunan raksasa mencapai 30.000 KL.
Secara matematis, kapasitas tersebut setara dengan kebutuhan cadangan hingga 100 hari jika tidak ada pasokan tambahan. Kendati demikian, angka ini merupakan ruang simpan dinamis yang terus disokong oleh rantai pasok (supply chain) berkelanjutan.
Bagaimana avtur berkualitas tinggi ini bisa sampai ke sayap pesawat? Menurut I Made Derta, perjalanan energi ini dimulai dari Refinery Unit (RU) II Dumai, RU V Balikpapan, hingga Ship-to-Ship (STS) Kalbut.
“Bahan bakar avtur kemudian dikirim melintasi lautan menggunakan armada kapal tanker—seperti Sinar Agra (11.400 KL), Sinar Busan (12.000 KL), Sunrise Warrior (12.000 KL), hingga Grace Poseidon (13.000 KL)—menuju fasilitas Conventional Buoy Mooring (CBM) berkapasitas 17.000 DWT,” jelasnya.
Dari tengah laut, avtur dialirkan melalui jaringan pipa bawah laut sepanjang 4,6 km menuju stasiun penerima, lalu bersambung sejauh 5 km langsung ke tangki penimbunan di AFT Kualanamu.
Setibanya di terminal, serangkaian uji mutu (quality control) yang ketat langsung diberlakukan.
“Mengingat pesawat tidak bisa berhenti di udara, kualitas avtur menjadi harga mati. Setiap tetes bahan bakar wajib memenuhi spesifikasi ketat dan mengantongi Certificate of Quality sebelum disalurkan ke maskapai,” ujarnya.
Dalam dunia aviasi, waktu adalah komoditas yang sangat mahal. I Made Derta menjelaskan bahwa pesawat yang mendarat memiliki jendela waktu refueling yang sangat terbatas, yakni hanya sekitar 45 menit. Begitu roda pesawat berhenti di tempat parkir (bay), tim AFT Kualanamu harus sudah siap di lokasi.
Penyaluran avtur ke pesawat dilakukan melalui dua metode utama, menggunakan mobil dispenser (terhubung dengan instalasi hydrant pit) serta kendaraan refueler. Selain melayani Bandara Kualanamu, AFT Kualanamu Group juga menaungi dan menyuplai kebutuhan avtur ke AFT lain seperti AFT Polonia, AFT Silangit (berjarak 232 km), AFT Pinangsori, hingga AFT Binaka, dengan waktu tempuh distribusi darat dan laut berkisar antara 2 hingga 23 jam menggunakan truk tangki (bridger).
Untuk menjawab tantangan zaman, jelas Derta, AFT Kualanamu telah bertransformasi melalui inovasi digital. Penggunaan PADMA (Digital Refueling Operation) berbasis tablet membuat seluruh proses operasional pengisian bahan bakar terdigitalisasi secara real-time.
“Selain itu, adanya Inventory Monitoring System memungkinkan para pengawas (supervisor) memantau pergerakan stok secara akurat di dasbor terpusat,” ungkapnya.
Standar Internasional dan Budaya Keselamatan (HSSE)
Komitmen AFT Kualanamu terhadap aspek Kesehatan, Keselamatan Kerja, Keamanan, dan Lingkungan (HSSE) tidak perlu diragukan lagi. Didukung oleh 164 personel terlatih yang bekerja dalam sistem 3 shift, setiap petugas diwajibkan mematuhi prosedur ketat—mulai dari pemeriksaan kesehatan, briefing keselamatan, hingga penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) anti-statis lengkap.
Ketangguhan sistem manajemen mutu dan keselamatan ini dibuktikan dengan diraihnya level memuaskan (Satisfactory Level) dalam audit terakhir dari Joint Inspection Group (JIG) pada 18 September 2026, serta kepemilikan sertifikasi standar internasional ISO 9001:2015, ISO 14001:2015, dan ISO 45001:2018.
Bagi I Made Derta dan tim di AFT Kualanamu, “Memories to Remember” di papan mading bukan sekadar pajangan, melainkan sebuah pengingat abadi bahwa setiap tugas melayani energi penerbangan adalah sebuah misi mulia demi mengantar ribuan jiwa terbang dengan aman.
“Berbagai inovasi yang dihadirkan kita harap bisa mewjudkan To Serve for Safe Flight di atas langit Indonesia,” tandasnya.
Reporter : Siti Amelia


